Teori Normalitas dan Konsep Kecacatan
Secara sadar atau tidak sadar kita selama ini hidup di dunia normalitas. Setiap dari kita berusaha untuk menjadi normal. Kita berusaha untuk mengikuti apa yang kebanyakan orang pikir, lakukan, atau dapatkan. Kita juga mengukur tingkat kecerdasan, kadar kolesterol, berat badan, tinggi badan, dan segala macam hal dalam kehidupan ini. Di sekolah, guru memberikan ujian untuk menentukan apakah seorang murid masuk dalam standard kecerdasan. Begitu juga seorang dokter akan mengukur tinggi atau berat badan kita untuk mengetahui apakah kita berada dibawah atau diatas rata-rata. Praktis dalam kehidupan keseharian kita tak satupun hal yang lepas dari nilai rata-rata atau konsep normalitas.
Berangkat dari realita diatas maka untuk memahami konsep kecacatan, kita harus paham tentang konsep normalitas. Telah banyak buku tentang kecacatan yang ditulis dengan memfokuskan penyandang cacat sebagai obyek kajian. Dalam banyak hal memang kelompok minoritas selalu diposisikan sebagai objek. Oleh karena itu dalam tulisan ini saya mencoba untuk menempatkan mayoritas (konsep normalitas) sebagai obyek kajian untuk menganalisa kecacatan. Saya lakukan ini karena saya melihat bahwa persoalan sebenarnya bukan terletak pada penyandang cacat, namun lebih pada bagaimana konsep normalitas itu dikonstruksikan yang pada akhirnya melihat kecacatan sebagai sebuah masalah.
Untuk mengawali diskusi ini saya akan memulainya dengan awal mula istilah normal. Kata normal, normality, normalcy,norm, average dan abnormal masuk ke daratan Eropa relatif belum lama. Kata-kata tersebut mulai diperkenalkan dalam bahasa Inggris sekitar tahun 1840. Selanjutnya kata normal tersebut dipakai secara luas antara tahun 1840-1860. Jika konsep normalitas yang selanjutnya dibakukan dalam sebuah kata “normal” muncul di Eropa pada abad 19, lalu pertanyaannya apa yang melatarbelakangi munculnya bempbentukan kata tersebut. Jawabnya adalah ilmu statistik –salah satu cabang ilmu matematika. Menurut Porter (1986), kata statistik muncul pertama kali pada tahun 1749 yang diperkenalkan oleh Gottfried Achenwall sebagai aritmatik politik- penggunaan data untuk kebutuhan negara dalam merancang kebijakan. Konsep ini kemudian beralih fungsi dari bidang politik ke bidang kesehatan ketika Bisset Hawkins memperkenalkan konsep medical statistik pada tahun 1829. Medical Statistik adalah sebuah konsep penggunaan angka untuk menggambarkan kondisi kesehatan seorang pasien.
Selanjutnya seorang ahli statistik Prancis Adolphe Quetelet (1796-1849) membakukan konsep normalitas pada pola pikir masyarakat. Dia mengatakan bahwa “law of error” yang digunakan oleh para ahli astronomi dalam menentukan posisi bintang dengan menghitung masing-masing kekuatan cahaya dari seluruh bintang dan kemudian mengukur rata-ratanya, juga dapat diaplikasikan pada manusia untuk mengukur berat dan tinggi mereka. Kemudian Quetelet merumuskan konsep yang diberi nama “l’homme moyen” atau manusia rata-rata. Konsep manusia rata-rata ini kemudian diadopsi oleh seluruh masyarakat di seluruh dunia, dimana ukuran rata-rata disesuaikan dengan kondisi masing-masing masyarakat di setiap negara. Selain itu Quetelet juga memperkenalkan konsep “kelompok dibawah rata-rata” yang dia sebut “les classes moyen”.
Dua teori normalitas yang disodorkan Quetelet tersebut yang kemudian memunculkan konsep tentang kecacatan. Sebuah konsep yang didasarkan pada karakteristik rata-rata manusia. Karakteristik yang lebih menekankan pada kondisi fisik manusia seperti berat ,tinggi, dan bentuk tubuh. Maka jika ada salah satu kelompok atau individu dalam masyarakat yang memiliki karakteristik diluar karakteristik rata-rata, maka mereka digolongkan sebagai kelompok atau individu yang “tidak normal”. Konsep ini kemudian berpengaruh pada pola pikir masyarakat kita terutama para ahli kesehatan dalam melihat kecacatan. Mereka berfikiran bahwa sesuatu yang berada diluar standard kenormalan harus dirubah atau disesuaikan untuk menjadi normal. Maka konsep rehabilitasi fisik ditawarkan oleh mereka sebagai solusi penyelesaian persoalan kecacatan. Operasi medik dilakukan terhadap mereka yang memiliki bentuk kaki ataupun tangan yang berbeda dari kebanyakan orang.
Muncul sebuah pertanyaan dalam benak saya, kenapa harus bentuk tubuh yang disesuaikan atau dirubah? Bukan tanpa resiko, tidak sedikit terjadi seorang penyandang cacat – sekarang disebut difable – setelah menjalani operasi kondisinya tidak menjadi lebih baik. Disamping itu merubah kecacatan pada dasarnya berarti juga penghilangan identitas diri. Identitas yang merupakan anugrah dari Sang Pencipta. Kenapa penyesuaian tidak dilakukan pada benda atau peralatan disekitar kita? Bagaimana gelas dan sendok didesign sedemikian rupa sehingga dapat digunakan oleh saudara kita yang memiliki bentuk tangan berbeda. Atau kita mendesign kursi roda handy dan murah sehingga dapat dimanfaatkan oleh saudara kita yang kebetulan memiliki bentuk kaki berbeda. Jika konsep penyesuaian ini dibalik sedemikian rupa -menyesuaikan bentuk benda daripada bentuk manusia- ini dikembangkan, maka selain memacu kreatifitas kita, harkat kemanusiaan seorang penyandang cacat juga dapat terjaga.
Kata cacat juga umum digunakan untuk menyebut beberapa orang yang memiliki kemampuan mental di bawah rata – rata. Para individu yang selama ini memiliki kemampuan mental di bawah IQ (Intelegence Question) rata – rata dikategorikan sebagai orang cacat. Bahkan dalam kesehariannya mereka sering disebut dengan sebutan yang cenderung negatif seperti sebutan idiot, lemah mental, hingga sebutan gila atau tidak waras. Sebutan –sebutan seperti itu tentunya akan sangat berpengaruh secara psikologis dan sosial terhadap penyandang istilah itu sendiri.
Kata cacat bila dicermati lebih dalam, pada dasarnya memiliki makna yang ambigu. Dia tidak memiliki parameter yang pasti. Dan kata cacat itu sendiri sangat erat hubungannya dengan kekuatan dominasi mayoritas (sosial domination power) dimana opini mayoritas akan sangat menentukan diterima tidaknya suatu istilah dalam masyarakat. Ketidakpastian istilah cacat dapat dipahami dari analogi pabrik botol. Jika sebuah pabrik botol memproduksi suatu jenis botol secara masal, maka dia akan menentukan ukuran, bentuk, dan warna botol yang diproduksi (standard of product). Maka ketika ada satu botol yang tidak sesuai dengan ukuran, bentuk, ataupun warna yang telah ditentukan oleh sebuah perusahaan maka botol tersebut dapat dikatakan cacat dan selanjutnya menjadi barang afkir (terbuang). Bagaimana jadinya jika cara pikir ini diterapkan pada manusia? Maka wajarlah jika selanjutnya memunculkan beberapa pertanyaan turunan. Misalkan bagaimana ukuran atau standard manusia normal? Apakah ada ukuran tertentu misalkan tingginya, beratnya, bentuk wajahnya, prilakunya hingga karakternya? Tentu hal ini akan sangat sulit untuk ditentukan. Dalam realitas kehidupan keseharian, banyak kejanggalan yang kita temui menyangkut definisi kecacatan. Sering kita temukan orang berkacamata minus, gigi yang ditambal, orang yang mengalami kegemukan, orang yang terkena stroke, dan termasuk orang yang mengalami gangguan mental seperti amnesia (kelupaan) dan lain sebagainya, namun dalam kenyataannya mereka tidak disebut sebagai orang cacat. Padahal jelas mereka semua mengalami kelainan. Sehingga pada dasarnya penggunaan kata cacat dalam masyarakat sangatlah tidak jelas (ambigu) dan terkesan diskriminatif.
Olehkarena alasan diatas, mereka yang disandangi dengan istilah tersebut berusaha untuk menemukan istilah yang lebih tepat dan netral dalam menggambarkan kondisi mereka. Maka dipakailah istilah difable yang merupakan akronim dari kalimat Different Ability People (manusia yang memiliki kemampuan berbeda). Dalam realitasnya memang setiap manusia memiliki potensi diri yang dapat dikembangkan termasuk mereka yang selama ini disebut cacat. Setiap manusia mampu untuk menggapai prestasi, hanya cara yang mereka gunakan saja yang berbeda. Dalam hal fisik sesungguhnya semua manusia tidak jauh berbeda, hanya moralitas yang boleh memjadi pembeda di antara kita. Maka hanya mereka yang tidak bermoral sesungguhnya yang pantas disebut cacat.

gabung untuk emailing list
Comment by muhamad Ilyas — 21 February 2006 @ 14:34
Ass,kak maaf tadi lancang tlp,aq baru saja kesulitann
buka e-mailku akhirnya aq ketemu ma ini,ya dah gpp
vita ngerasa bersalah bgt.udah telp tadi beneran minta maaf lho.And please dont said other people
pingin ngomong panjang tp kok entar lg aq masuk tau gitu aq buka ini aja.
kak gimana ya caranya untuk mengoptimalkan semangat belajar,I honest aja dech kayaknya ada sesuatu di oatak aq yg selalu berjalan2 kadang membuat aq takut untuk menerimanya.kadang dlm keadaan spt vit ingin sekali mencurahkan semuanya ke diari ato ke org
tp yg jelas mereka pd sibuk bukan,Sorry br kenal aja dah kaya’gini.kadang mereka tdk faham dgn otak kita atau tindakan yg k-ta lakukan.Q kebungungan sendiri
harus bagaimana aq.ketika aq childys mereka menyalahkanku tidakkah mrk berfikir bahwa semua itu akaibat dr keadaan.dlm situasi yg seharusnya aq giat2
belajar malah aq nyantai aja,udah Wass
Comment by vita — 11 April 2006 @ 12:49
Boleh ga minta data tentang kemandirian tentang remaja penyandang cacat fisik perolehan
Comment by Erwin Herdiana — 31 May 2006 @ 14:08
boleh g minta definisi tentang difable?
Comment by n wiwit — 20 February 2007 @ 16:54
mnt data-data lengkap tentang pengertian cacat fisik
Comment by tiar — 26 February 2007 @ 21:22
Ass,
Saya sedang mencari segala informasi terkait diskriminasi diffable berkenaan dgn tugas kuliah.
Saya saat ini sedang kuliah disalah satu universitas negeri di Jogja.
Saya melihat realita bahwa kampus saya belum menjadi sebuah lingkungan yang “ramah” pada diffable. Pihak kampus pun belum sepenuhnya memperhatikan hal ini.
Mohon saya diberi penjelasan definisi ttg diffable sendiri dengan lebih mendetail,,dan apakah ada penggolongan sendiri dalam diffable?misal dalam dunia kedokteran?
Terimakasih sebelumnya.
Wass.
Comment by Aliza Rahmi — 2 May 2007 @ 17:57
boleh ga saya minta refrensi tentang penyandang cacat
soalnya judul skripsi saya menyangkut tentang diffable,”perlindungan hukum terhadap perempuan difable sebagai korban kekerasan seksual”. mohon bantuannya disini refrensi bukunya sangat sulit.
terima kasih sebelumnya.
Comment by selvi — 11 June 2007 @ 12:36
Bolehkan saya juga meminta beberapa referensi buku,mkarya ilmiah, dll yang berhubungan dengan tuna daksa dan permasalahan penyesuaian dirinya?
juga hal-hal yang berkenaan tentang aksesibilitasentah fisik maupun non fisik bagi ATD.
ini berguna untuk referensi skripsi saya,yang berjudul pengaruh penggunaan aksesibilitas pada tingkat penyesuaian diri atg.
terima kasih.
PKH UNS Solo
Comment by Ahimza — 30 May 2008 @ 14:45
tolong kirim jawaban tersebut pada email saya. terima kasih.
Comment by Ahimza — 30 May 2008 @ 14:49
boleh ga minta data tentang kemandirian penyandang cacat tubuh?
Comment by imin — 2 August 2008 @ 20:31
saya sedang menulis buku tentang orang cacat yang berprestasi,saya salut ternyata banyak sekali orang cacat berprestasi ….sedang orang normal saja kadang2 suka mengeluh dan mencari2 alasan..bolehkan saya mengambil dari sini sebagai salah satu bahannya..terima kasih sebelumnya..salut..semoga selalu sukses..amin..wassalam
Comment by marina artiyasa — 12 August 2008 @ 14:16
aslm..
maaf, bole tau buku2 apa yang berkenaan dengan cacat fisik?
tadi pita sempet ke toko buku untuk nyari
tapi ternyata susah juga dapetnya
mohon bantuannya..
ini untuk skripsi soalnya
hehe
makasi
Comment by pita — 19 June 2009 @ 21:34