Difable dan Bencana Alam
Indonesia merupakan salah satu daerah rawan terhadap terjadinya bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, dan tanah longsor. Tidak dapat dipungkiri bahwa bencana alam tersebut telah banyak menimbulkan kerusakan baik fisik maupun sosial. Namun ada satu hal penting yang selama ini kurang mendapatkan perhatian kita adalah realita bahwa bencana alam selain menimbulkan korban jiwa juga menyebabkan beberapa korban selamat menjadi difable (cacat). Banyak dari korban yang kemudian kehilangan kaki, lengan, atau fungsi fisik lainnya seperti fungsi penglihatan dan pendengaran selama proses penyelamatan diri.
Ada dua kelompok difable pada situasi bencana alam, pertama adalah mereka yang sudah menjadi difable sebelum terjadinya bencana (existed difable) dan kedua adalah mereka yang menjadi difable akibat dari terjadinya bencana (newly difable). Kedua kelompok ini memiliki persoalan yang hampir sama dalam situasi bencana, dimana fasilitas yang tersedia di barak pengungsian kebanyakan tidak ramah terhadap keberadaan mereka. Sehingga seringkali para difable mengalami penderitaan yang lebih berat dibandingkan dengan para korban selamat lainnya. Persoalan lain yang cukup penting adalah kenyataan bahwa negeri ini belum memiliki sistem peringatan dini (Early Warning System) dan sistem evakuasi bencana alam yang aksesibel terhadap keberadan difable. Sehingga konsekuensinya para difable menjadi kelompok yang beresiko tinggi saat terjadinya bencana. Banyak dari para difabel yang kemudian kehilangan alat bantu mereka seperti kursi roda, kruk dan tongkat petunjuk bagi mereka yang difable netra.
Permasalahan lain yang dihadapi difabel adalah kesempatan mereka untuk menyelamatkan diri pada situasi panik sangatlah terbatas karena tidak tersedianya alat transportasi yang aksesibel bagi mereka. Selain itu kenyataan bahwa sistem evakuasi bencana yang ada belum memperhitungkan keberadaan para kelompok rentan termasuk di dalamnya difable. Sistem evakuasi bencana yang ada masih berdasar pada evakuasi terhadap masyarakat normal. Untuk itu perlu didesign sebuah sistem evakuasi bencana yang memperhitungkan keberadaan para kelompok rentan (vulnerable group); anak-anak, ibu hamil, lanjut usia dan difable.
Seperti pada kasus Tsunami di Aceh dan beberapa kasus bencana alam di tempat lain dimana sebagian dari korban selamat banyak yang kemudian menjadi difable. Namun keberadaan mereka paska terjadinya bencana kurang mendapatkan perhatian baik dari lembaga internasional maupun pemerintah sendiri. Kondisi para difabel paska bencana cukup parah baik secara sosial maupun psikologis. Banyak dari mereka yang kemudian mengalami trauma berat dan merasa rendah diri akibat dari kenyataan bahwa kondisi tubuh mereka tidak selengkap seperti dulu. Akibatnya para korban difabel tersebut yang terisolasi dalam rumah.
Selama ini saat pelaksanaan evakuasi bencana, para korban seringkali ditempatkan di penampungan sementara seperti di sekolah, kantor kecamatan, atau lapangan yang tentu kondisinya sungguh tidak layak untuk para difable. Keberadaan sistem sanitasi, struktur bangunan, dan kondisi lingkungan fisik lainnya jelas menyulitkan para difable untuk melakukan aktifitasnya sehari-hari.
Selain itu sistem distribusi bantuan di tempat pengungsian selama ini juga kurang dapat memberikan akses terhadap keberadaan para difable. Seperti misalnya, distribusi bantuan makanan yang seringkali dilakukan dengan cara mengedrop makanan dengan helikopter menimbulkan situasi saling berebut diantara para pengungsi. Kondisi semacam ini jelas tidak menguntungkan bagi para kelompok rentan seperti wanita, lanjut usia, anak-anak termasuk juga para difable. Mereka jelas tersingkirkan karena tidak mampu mengakses bantuan yang sebenarnya sangat mereka butuhkan.
Keberadaan para kelompok rentan (vulnerable group) termasuk difable seharusnya menjadi referensi utama dalam penanganan korban pada situasi bencana. Hal ini disebabkan jumlah korban selamat yang kemudian menjadi difable tidak sedikit. Selain itu sangat terkait dengan bagaimana sistem distribusi bantuan, pembangunan infrastruktur baik pada program rekontruksi (reconstruction program) maupun pada program pengembangan masyarakatnya (development program). Seringkali yang terjadi selama ini bahwa program-program yang dirancang untuk merespon bencana kurang memperhatikan keberadaan para difable. Sehingga banyak para difable yang kemudian termarjinalisasi dan terisolasi paska terjadinya bencana alam.
##Penanganan yang Komprehensif##
Para difable atau korban selamat yang kemudian menjadi difable saat terjadinya bencana mengalami persoalan dalam penyusaian diri terhadap kondisi fisik, psikologis, dan sosial yang ada setelah terjadinya bencana. Perubahan fisik yang terjadi selain menimbulkan trauma psikologis juga menimbulkan persoalan sosial bagi mereka. Seringkali kondisi tersebut memunculkan konflik batin bagi korban yang bersangkutan untuk bisa menerima kenyataan bahwa kondisi fisik mereka sudah tidak seperti dulu.
Ketika seseorang menjadi difable, maka dia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa sebagian fungsi tubuhnya hilang, itu artinya dia juga harus kehilangan pekerjaan yang sebelumnya mereka miliki. Berbeda dengan para korban lain yang dengan begitu cepat dapat menyesuaikan diri, para difable memiliki kebutuhan khusus untuk dapat segera kembali melakukan aktifitas normalnya sehari-hari. Untuk itu maka penanganan paska bencana harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan berbagai sudut pandang, baik dari segi infrastruktur fisik, ekonomi dan sosial. Dengan begitu persoalan – persoalan yang dihadapi oleh difable paska bencana dapat diminimalisir.
Dalam perencanaan rekonstruksi bangunan paska terjadinya bencana alam semaksimal mungkin harus mempertimbangkan faktor aksesibilitas sehingga fasilitas yang dibangun dapat mengakomodasi keberadaan para difable. Hal ini juga berlaku pada saat emergency respond di daerah pengungsian, dimana fasilitas yang dibangun harus juga memperhatikan keberadaan para difable sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan aktifitasnya sehari-hari. Selain itu kebutuhan yang perlu dipertimbangkan adalah pertama,sistem komunikasi yang aksesible. Sistem komunikasi dalam situasi bencana memainkan peranan penting dalam keselamatan korban. Selama ini kita masih banyak menggunakan sistem komunikasi audio seperti alarm untuk menyampaikan peringatan terjadinya bahaya bencana. Sistem seperti ini jelas tidak dapat diakses oleh mereka kelompok difable rungu. Sehingga memang sudah seharusnya didesain sebuah sistem komunikasi audio visual sehingga memungkinkan para difable rungu untuk mengaksesnya. Kedua desain sistem evakuasi bencana yang aksesible sehingga memungkinkan untuk mengevakuasi para difable yang memiliki persoalan mobilitas di situasi bencana. Ketiga, tentang bagaimana membangun sistem distribusi bantuan yang merata dan memungkinkan bantuan tersebut dapat diterima langsung oleh yang membutuhkan. Sistem distribusi bantuan yang ada sekarang sangat tidak memungkinkan bagi para difable dan kelompok rentan lain untuk mengaksesnya. Sehingga kondisi ini menyebabkan para difable seringkali tidak mendapatkan jatah mereka kecuali hanya menggantungkan dari belas kasihan teman dan saudara.
Dimensi lain yang perlu diperhatikan dalam situasi bencana adalah dimensi ekonomi.Banyak dari para korban bencana yang kemudian kehilangan mata pencaharian paska terjadinya bencana karena rusaknya infrastruktur dimana mereka dulu bekerja. Selain itu hilangnya mata pencaharian juga disebabkan oleh kondisi sebagian mereka yang menjadi difable sehingga kehilangan fungsi tubuhnya untuk melakukan aktifitas bekerja sebagaimana sebelumnya. Untuk itu perlu didesign sebuah sistem pengembangan ekonomi bagi para korban bencana yang bertumpu pada semangat kewirausahaan dengan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi lokal yang dimiliki daerah. Untuk itu pemberian bekal ketrampilan untuk mengolah potensi lokal harus segera dilakukan serta segera menghentikan pemberian bantuan yang bersifat karitatif. Karena pemberian bantuan karitatif dalam jangka waktu lama hanya akan membuat para korban menjadi tergantung dan tidak mandiri.
Dimensi terakhir adalah dimensi sosial psikologi. Dimana dimensi ini sangat berpengaruh dalam kehidupan selanjutnya para difable di masyarakat. Sementara ini masih banyak pandangan di masyarakat bahwa difable merupakan sebuah kondisi yang tidak menguntungkan dan perlu untuk dikasiani atau disantuni. Sebagian para difable sendiri juga masih memandang difable sebagai kondisi yang memalukan sehingga ada kecendrungan dari para difable untuk mengurung diri di rumah. Pandangan-pandangan tersebut menjadi telah menjadi hambatan sosial bagi para difable untuk melakukan interaksi sosial di masyarakat secara penuh. Oleh karena itu perlu dirancang sebuah program dan aktifitas yang memberi kesempatan bagi para difable untuk berpartisipasi secara terbuka dalam aktifitas sosial di masyarakat.
Kita memang tidak dapat mengelak terhadap terjadinya bencana alam dan akibat yang ditimbulkannya. Yang dapat kita lakukan hanyalah bagaimana kita dapat meminimalisir penderitaan yang dialami oleh para korban dengan memberikan pelayanan bantuan sebaik-baiknya.

apakah cak fu punya desain tata ruang yang aksesibel (barriers free–manual design for diffable).
makasih
Comment by nanang — 8 February 2007 @ 09:42
Cak Fu,
Persoalan difabel dan bencana memang cukup kompleks. managemen bencana, dengan menempatkan difabel di dalamnya membutuhkan sebuah kajian yang menyeluruh, dari ketika bencana itu terjadi, masa darurat pasca bencana atau keadaan setelah itu. beberapa poin sudah cukup jelas tertulis, tapi saya tidak menemukan sebuah bahasan khusus siapa saja yang seharusnya menjadi aktor dalam pelaksanaan managemen tersebut. pengalaman saya bergabung dengan Dria Manungggal Yogyakarta, ketika melaksanakan program Disability Focal Point, kita seperti berdiri sendiri tanpa dukungan dari pemerintah maupun organisasi lain. bahwa difabel merupakan prioritas dalam pemberian mungkin semua pihak memperhatikannya, tapi bantuan seperti apa yang harus diberikan dan bagaimana pendampingan terhadap mereka tidak banyak yang memahami. justru seringkali distribusi bantuan menempatkan difabel sebagai sosok yang harus dikasihani, yang pada akhirnya memberikan baban tambahan bagi mental mereka.
salam
Comment by heru — 10 June 2008 @ 10:00