Posted by cakfu @ 02:27 on September 27th 2006
Normally persons who have a different physical or mental condition are called as a disabled person. It is not clear the root of the term of disabled people is created. But in the reality disabled people seems to be the right word to describe the condition of persons who have – according to common people- difficulties to perform their daily life. The common people have a negative perception toward disabled people that they are unable to perform their daily activities without help of other persons. In addition, disabled persons are also regarded neither as ineffective nor inefficient individuals. Therefore, it can be assumed that this negative perception perhaps becomes the reason where the term of disability comes from.
(more…)
Posted by cakfu @ 02:25 on September 27th 2006
Traditionally, disability is viewed as a medical problem rather than a social problem and therefore, medical treatments are perceived as the best way to solve the problems of disability. This view focuses on bodily abnormality, disorder or deficiency, and the way in which this in turn causes some degree of disability or functional limitations. In this medical model, disability is seen as a contrast to the notion of normalcy, a state that an average human being should be in. In addition, this model also places people with impairment in a dependent position. Furthermore, disabled people are even assumed not to be able to make decisions by themselves.
(more…)
Posted by cakfu @ 13:38 on September 20th 2006
Suatu ketika saya bersama beberapa teman dalam sebuah perjalanan mampir ke masjid Agung Surabaya untuk melakukan sholat Ashar. Hampir tiga jam kami berkeliling memutari bangunan masjid untuk mencari jalan agar kami dapat masuk ke dalam masjid yang megah tersebut. Akhirnya kamipun tetap tidak menemukannya, karena bangunan masjid Agung Al-Akbar tersebut didesain begitu megah dengan dikelilingi puluhan anak tangga. Karena waktu sholat Ashar hampir habis kemudian kami memutuskan untuk mengambil air wudlu. Tidak berbeda kasusnya, kami berlima menuju tempat wudlu dan ternyata tempat wudlu tersebut berada di bawah bangunan masjid megah tersebut. Untuk mencapainya maka kami harus menuruni anak tangga yang jumlahnya sepuluh buah. Saya sempat menatap ke-empat teman saya yang kesemuanya menggunakan kursi roda dan tongkat penyangga. Dalam benakku aku bergumam”Ya..Allah begitu jauh diri Mu untuk kami temui”.
(more…)
Posted by cakfu @ 08:35 on September 20th 2006
Saya agak merasa risih ketika disebut sebagai penyandang cacat (Disabled Person) bukan karena saya tidak bisa menerima kenyataan yang ada pada diri saya, namun lebih disebabkan oleh istilah cacat itu sendiri. Istilah yang sampai sekarang saya tidak mengerti maksud dan latar belakang penggunaannya.
Kata atau istilah yang dilekatkan pada para penyandang cacat (baik dalam bahasa Indonesia ataupun Inggris) selama ini lebih banyak mengacu kepada ketidak mampuan, kelemahan, ketidak berdayaan, kerusakan dan makna lain yang cenderung negatif. Seperti Tuna Netra, Tuna Rungu, bahkan kata cacat itu sendiri.Tuna berarti hilang atau tidak memiliki, sedangkan cacat bermakna rusak. Begitu juga dalam bahasa Inggris kita temukan ada Disability yang artinya ketidakmampuan, invalid yang berarti tidak lengkap. Saya sendiri tidak dapat memahami kenapa kata-kata tersebut dipilih untuk menggambarkan kondisi atau keadaan fisik yang hanya “kebetulan berbeda” dari yang lain umumnya.
Istilah tersebut diatas baik secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan pengaruh psikologis yang cukup signifikan bukan hanya terhadap penyandang istilah itu sendiri namun juga terhadap sikap serta prilaku masyarakat terhadap kelompok penyandang istilah tersebut. Hanya karena istilah yang disandangnya mereka menjadi rendah diri, inferior, malu, merasa tak berguna dan tak punya harapan. Dilain pihak masyarakat memperlakukan mereka secara tidak adil, mereka dianggap sebagai kelompok tidak produktif, lemah dan hanya perlu untuk dikasihani dan disantuni. Lebih parah lagi mereka oleh para “orang sholeh” dijadikan ladang kebajikan untuk menggali “pahala”.
(more…)
Posted by cakfu @ 08:33 on September 20th 2006
Seorang teman berkomentar tentang tulisan saya terdahulu yang berjudul Teologi Kecacatan, “Saya juga tidak setuju dengan istilah penyandang cacat. Kata cacat memang sangat tidak enak terdengar di telinga.” Komentar tersebut dapat dipandang mewakili opini masyarakat terhadap istilah cacat yang dilekatkan pada kelompok masyarakat tetentu. Masyarakat sendiri ternyata merasakan hal yang kurang nyaman jika mengucapkan kata cacat pada seseorang. Sering seseorang minta maaf terlebih dahulu sebelum menyebutkan nama seseorang yang diikuti kata cacat dibelakangnya. Misalkan, “Saya kenal dengan si Fulan yang (maaf) cacat itu”. Memang masyarakat tidak disodori pilihan dalam hal ini, sehingga mereka terpaksa harus mengucapkan kata cacat karena memang itu satu-satunya kata yang tersedia. Tapi kenapa harus disertai kata maaf?
(more…)
Posted by cakfu @ 08:30 on September 20th 2006
Seorang teman berbicara pada saya dalam sebuah perjalanan di kereta menuju Amsterdam,“ Jika kamu bicara soal kecacatan selalu kamu kaitkan dengan diskriminasi”. Selanjutnya teman baik saya itu menyeletuk,” Jangan-jangan diskriminasi itu hanya perasaanmu saja”. Omongan setengah guyon itu seakan telah membangunkan kesadaran kritis saya untuk melihat secara lebih netral mahluk yang namanya “diskriminasi”. Dalam konteks sebagai seorang penyandang cacat memang sulit bagi saya untuk melihat secara jelas batasan antara perlakuan diskriminasi dan sebuah realitas yang disebabkan oleh kondisi kecacatan yang saya sandang. Oleh karena itu sungguh menarik untuk mengulas tema diskriminasi ini dari dua sudut pandang teori dan realitas pengalaman kehidupan.
(more…)
Posted by cakfu @ 21:13 on September 13th 2006
Pengalaman yang diceritakan oleh saudara Idrus dalam kolom Resonansi Republika merupakan hal yang umum dialami oleh sebagian besar para penyandang cacat di Indonesia. Baik mereka yang cacat karena bawaan dari lahir maupun mereka yang cacat akibat kecelakaan atau sebab hal yang lain. Menjadi cacat merupakan sebuah petaka, makanya banyak orang yang tidak mau memilih menjadi cacat. Namun sayangnya kecacatan itu bisa datang dengan tiba-tiba dan pada siapa saja tanpa pilah-pilih. Pada dasarnya menjadi cacat itu hanya sebuah perubahan kondisi ataupun bentuk fisik seseorang. Kecacatan berubah menjadi masalah bagi seseorang yang mengalaminya ketika kondisi cacat tersebut dikaitkan dengan mitos, stigma, dan kepercayaan -kepercayaan tak berdasar yang berkembang dalam masyarakat.
(more…)
Posted by cakfu @ 18:00 on September 8th 2006
I. Introduction.
It is not deniable that during disasters happen some survivors becoming disabled. At the time of struggle to save their life some of them can be lose parts of their body (leg, arm, etc) and also psychologically may suffer from trauma. Particularly for disabled victims –people who become disabled during the disaster-, they are not only physically injury but also deals with psychological problem as well as social problem which are a consequence of their disabilities.
Sometimes the disabled victims more suffer from social problem than their disabilities itself. In the traditional communities they couldn’t be accepted fully by the society and their family as other able body. The society views disabled people as an invaluable person who is less capability and dependent. This view affects psychologically to disabled victims who become lose self confidence and self-esteem and it becomes a barrier of them to participate in the social activities. Shortly, disabled victims challenge a harder challenge in the society then other survivors after the disaster.
(more…)
Posted by cakfu @ 13:26 on September 7th 2006
Tindakan yang Bertujuan bagi saya merupakan sebuah tindakan yang didasarkan pada motivasi untuk mencapai sebuah hasil tertentu. Oleh karena itu biasanya seseorang dalam menjalankan Tindakan yang Bertujuan, telah mempersiapkan tahapan-tahapan tindakan sedetail mungkin agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Selain itu seseorang juga akan mempersiapkan beberapa tindakan alternatif yang dipandang strategis yang akan digunakan jika sebuah tindakan utama tidak dapat dijalankan dengan sesuatu alasan. Dengan mempersiapkan tindakan alternatif tersebut maka tujuan utama yang ingin dicapai diharapkan akan tetap dapat diraih, karena memang tujuan utama tersebut yang mendorong terjadinya seluruh proses terjadinya sebuah tindakan.
(more…)
Posted by cakfu @ 11:15 on September 7th 2006
Seorang pemuda terlihat duduk termenung di sebuah teras rumah. Dia adalah Fulan, anak pak Karya yang baru mengalami kecelakaan lalu lintas hingga kedua kakinya harus diamputasi. Amputasi kaki tersebut telah memukul jiwa Fulan, pemuda yang dulu energik dan selalu ceria kini menjadi pemurung, suka menyendiri, dan mudah tersinggung. Fulan tidak lagi terlihat main gitar sambil menyanyikan lagu kesayangannya dengan gaya konser, dia juga tidak mau lagi hadir dalam rapat Karang Taruna. Padahal dulu sebelum terjadi kecelakaan yang menimpa dirinya, Fulan adalah pemuda yang paling vokal dalam setiap rapat pengurus Karang Taruna, ide-idenya cukup cemerlang, maka tak salah jika tahun kemarin dia terpilih untuk mewakili kotanya menjadi Pemuda Pelopor tingkat Nasional.
Kecelakaan lalu lintas tersebut telah mengubah 180 derajat kehidupan Fulan. Bagi Fulan dunia seakan begitu sempit dan masa depan hanya mimpi kosong yang hampa. Dalam catatan hariannya Fulan menuliskan bahwa dia telah mengubur dalam-dalam impian dan cita-citanya, karena dia sudah tidak yakin bahwa dia dapat mewujudkan impiannya dengan kondisi yang sekarang dia miliki. Memang telah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan bahwa Fulan kini menyandang predikat baru sebagai seorang difabel. Predikat baru tersebut telah membuatnya menjadi risih dan minder, karena difabel bagi dia dan masyarakat sekitar identik dengan ketidakberdayaan dan aib. Yang ada dalam benak pikiran Fulan sekarang ini hanyalah penyesalan dan ratapan akan nasib yang menimpa dirinya.
(more…)