Difabel dan Keberpihakan Kata
Seorang teman berkomentar tentang tulisan saya terdahulu yang berjudul Teologi Kecacatan, “Saya juga tidak setuju dengan istilah penyandang cacat. Kata cacat memang sangat tidak enak terdengar di telinga.” Komentar tersebut dapat dipandang mewakili opini masyarakat terhadap istilah cacat yang dilekatkan pada kelompok masyarakat tetentu. Masyarakat sendiri ternyata merasakan hal yang kurang nyaman jika mengucapkan kata cacat pada seseorang. Sering seseorang minta maaf terlebih dahulu sebelum menyebutkan nama seseorang yang diikuti kata cacat dibelakangnya. Misalkan, “Saya kenal dengan si Fulan yang (maaf) cacat itu”. Memang masyarakat tidak disodori pilihan dalam hal ini, sehingga mereka terpaksa harus mengucapkan kata cacat karena memang itu satu-satunya kata yang tersedia. Tapi kenapa harus disertai kata maaf?
Sebutan cacat dalam bahasa Indonesia sebenarnya telah mengalami evolusi,-Baca artikel sebelumnya Kecacatan dalam Belenggu Terminologi-hingga pada akhirnya muncullah istilah Difabel. Kata Difabel sebagai pengganti kata cacat belum lama diperkenalkan pada masyarakat. Istilah tersebut dimunculkan sekitar tahun 1999 an oleh beberapa aktivis gerakan kecacatan di Indonesia. Kata yang merupakan singkatan dari bahasa Inggris Different Abled People ini diharapkan mampu merubah image yang selama ini dilekatkan pada penyandang cacat. Selain itu kata Difabel juga diharapkan menjadi titik awal (starting point) bagi para penyandang cacat untuk memperjuangkan kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun selanjutnya muncul sebuah pertanyaan sejauh mana perubahan istilah tersebut berpengaruh pada sikap masyarakat terhadap penyandang cacat?
Pembentukan kata baru untuk menggantikan kata yang sudah akrab dimasyarakat adalah pekerjaan berat. Karena pada dasarnya setiap kata sarat dengan muatan makna. Pemilihan sebuah kata tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan konteks atau realita. Karena kata pada dasarnya merepresentasikan sebuah keadaan. Kata Difabel yang sekarang menjadi satu-satunya alternatif untuk menggantikan kata cacat sebenarnya memiliki makna yang mengambang. Kata Difabel merupakan akronim dahasa Inggris Different Abled People yang dalam bahasa Indonesianya Orang yang Berbeda Kemampuan. Kata Berbeda Kemampuan dalam istilah Difabel dapat dijadikan alasan bagi masyarakat untuk memberi perlakuan berbeda terhadap para penyandang cacat. Perlakuan berbeda tersebut bisa besifat positif maupun negatif. Perlakuan positif berkaitan erat dengan penerimaan masyarakat terhadap perbedaan kemampuan tersebut, sehingga mereka akan menyediakan infrastruktur untuk memfasilitasi perbedaan tersebut. Disisi lain perbedaan kemampuan dapat dimaknai sebagai sebuah kekurangan, sehingga hal ini dapat memperkuat perlakuan diskriminasi masyarakat terhadap para penyandang cacat.
Kemungkinan terakhir itulah yang mengkwatirkan. Dimana ketika para penyandang cacat menuntut perlakuan yang sama dari masyarakat, maka pendapat kedua dapat dijadikan alasan oleh masyarakat untuk berdalih menolak tuntutan tersebut. Adalah wajar jika kami memperlakukan anda berbeda karena jelas anda berkemampuan berbeda. Sekali lagi memang kata sangatlah kaya dengan makna dan sungguh sulit untuk memilih kata yang dapat merepresentasikan keadaan dengan tepat sehingga maknanya tidak dapat dibelokkan.
Untuk menemukan sebuah (beberapa) kata yang dapat merepresentasikan sebuah keadaan, dapat diterima oleh semua orang, sangatlah sulit……. ada korelasi antara kata yang berterima dan keadaan real yang dihadapi.Lalu, memang persoalan berterima dengan segala jenis atmosfer yang dibawa sebuah kata, akan sangat ditentukan oleh keakraban kita dengan kata itu. Sebuah kata pada dasarnya netral, tetapi ketika sudah dibawa ke dalam sebuah konteks, dia bermuatan lain dan memiliki referensi tertentu.(Sudarmoko,2004). Pada kata Difabel, masyarakat bisa saja memberi muatan makna berbeda atau sekaligus bertentangan dengan yang diharapkan para penyandang cacat. Karena memang masyarakat selama ini telah memiliki konsep negatif terhadap penyandang cacat. Mereka melihat penyandang cacat sebagai kelompok masyarakat lemah dan tidak produktif bahkan sebagian masyarakat masih melihat kecacatan sebagai dosa atau kutukan.
Hal lain yang layak untuk dipikirkan dalam pemakaian istilah Difabel sebagai pengganti kata cacat adalah pengkaburan makna. Artinya kata Difabel akan mengkaburkan atau bahkan menghilangkan ideologi makna tertindas yang telah dimiliki oleh kata cacat. Meskipun kata cacat jelas tidak tepat untuk mewakili atau merepresentasikan keadaan serta kondisi penyandang cacat, namun selama ini kata tersebut telah memberi muatan ketidakadilan didalamnya. Kata cacat telah memiliki keberpihakan yang jelas sebagaimana kata miskin dan buruh meskipun dalam konteks yang berbeda. Kedua kata yang selama zaman Orde Baru diperhalus menjadi pra-sejahtera dan pekerja ini oleh para aktivis gerakan sosial telah dikembalikan lagi pada kata awalnya untuk memberi muatan ideologi.
Eufimisme (penghalusan) bahasa bukan berarti tidak penting, dalam banyak hal menjadi “jalan keluar” yang manis.(Ichwan,2004). Pendapat tersebut bisa benar, tapi tidak pada gerakan sosial. Dalam gerakan sosial dibutuhkan kata-kata yang jelas, berpihak dan sarat dengan muatan ideologi untuk menggerakkan roda perjuangan. Sehingga kata-kata seperti tertindas, dilemahkan, disingkirkan dan sejenisnya dipilih dalam sebuah gerakan sosial. Dengan kata-kata semacam itu maka akan jelas posisi sebuah kelompok, mereka tidak diletakkan pada posisi mengambang. Karena pada dasarnya posisi mengambang hanya akan melemahkan sebuah perjuangan.
Pengkajian ulang terhadap kata Difabel mungkin layak dijadikan sebuah pertimbangan agar dikemudian hari kita tidak disibukkan lagi dengan pekerjaan untuk merubah kata tersebut.

Salam kenal, Pak. Saya menemukan artikel ini sewaktu mencoba mencari padanan kata “disabled”. Bagus juga istilahnya. Dibandingkan dengan “tunadaksa” kira-kira bagus mana, Pak?
Comment by Ivan Lanin — 20 December 2009 @ 22:31
saya setuju dg istilah DIFABEL. Tulisan di atas menguatkan saya untuk bertambah care thd anak difabel. kebetulan saya mengelola sebuah TKIT (PAUD) yang mana ada seorang difabel yang menjadi anak didik kami. Dengan keterbatasan yang ada, kami akan terus berkomitmen untuk mendidik anak tersebut, karena dia salah satu dari anak bangsa yang tentu berhak mendapatkan pendidikan, sebagaimana anak-anak yang lain.
Comment by Husnul Nh — 7 June 2010 @ 12:03