Posted by cakfu @ 13:26 on September 7th 2006

Tindakan yang Bertujuan

Tindakan yang Bertujuan bagi saya merupakan sebuah tindakan yang didasarkan pada motivasi untuk mencapai sebuah hasil tertentu. Oleh karena itu biasanya seseorang dalam menjalankan Tindakan yang Bertujuan, telah mempersiapkan tahapan-tahapan tindakan sedetail mungkin agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Selain itu seseorang juga akan mempersiapkan beberapa tindakan alternatif yang dipandang strategis yang akan digunakan jika sebuah tindakan utama tidak dapat dijalankan dengan sesuatu alasan. Dengan mempersiapkan tindakan alternatif tersebut maka tujuan utama yang ingin dicapai diharapkan akan tetap dapat diraih, karena memang tujuan utama tersebut yang mendorong terjadinya seluruh proses terjadinya sebuah tindakan.

Menurut pendapat saya ada 5 (lima) syarat untuk terwujudnya sebuah Tindakan yang Bertujuan;

1. Tujuan
Aktifitas pertama dan utama yang dilakukan dalam menjalankan Tindakan yang Bertujuan adalah membangun Tujuan itu sendiri. Tujuan (Goal) merupakan magnet dan sekaligus sebagai kompas bagi individu untuk meandu seluruh proses dalam menjalankan Tindakan yang Bertujuan. Seluruh usaha dan aktifitas yang dilakukan oleh individu akan dicurahkan sepenuhnya untuk mencapai tujuan yang diharapkan tersebut. Tujuan (goal) itulah yang kemudian menjadi patokan utama bagi seorang individu untuk menjalankan Tindakan yang Bertujuan. Tanpa tujuan jelas tidak ada Tindakan yang Bertujuan dan itu artinya seluruh tindakan akan menjadi tidak terarah atau tidak terfokus. Sebagai akibatnya seorang individu akan cepat merasa jenuh atau bosan dalam melakukan aktifitas.

2. Motivasi
Motivasi merupakan salah aspek penting bagi seseorang untuk melakukan sebuah tindakan. Motivasi yang mendorong seorang individu untuk melakukan tindakan dengan tujuan tertentu. Motivasi dibagi kedalam dua kategori.
• Pertama, intrinsic motivation atau motivasi yang datangnya dari dalam diri individu sendiri. Intrinsic motivation ini cenderung lebih kuat dan lebih awet, karena keberlanjutan motivasi ini tidak mensyaratkan atau digantungkan pada sesuatu. Maka keterpeliharaan motivasi dari dalam ini sangat tergantung pada bagaimana seseorang dapat terus menghidupi visi serta misi hidupnya.
• Kedua, extrinsic motivation, adalah motivasi yang digantungkan pada faktor-faktor di luar diri individu. Biasanya seseorang akan melakukan sebuah tindakan hanya jika ada reward atau punishment. Jenis motivasi ini tidak permanen dan sustain. Seorang individu akan sangat mudah menyerah dalam melakukan tindakan ketika dia mampu mendapatkan reward yang diharapkan atau di saat seorang individu memperoleh punishment yang sangat ia ditakuti.

3. Alasan
Alasan (reason) merupakan aspek terpenting bagi individu untuk menjaga keberlanjutan (sustainability) Tindakan yang Bertujuan.Seorang individu akan mudah menyerah dalam menjalankan tindakannya ketika dia tidak memiliki ‘alasan’ mengapa dan untuk apa harus bertindak. Tanpa mnemiliki alasan untuk bertindak seorang individu hanya akan terombang ambing oleh pengaruh eksternal di tengah proses pencapaian tujuan dalam tindakannya. Sehingga seringkali individu tersebut menjadi ragu terhadap tindakannya sendiri dan kemudian secara perlahan semangat untuk mencapai tujuan yang diharapkan menjadi melemah. ‘Alasan’ dan motivasi memiliki hubungan yang sangat erat dalam proses menjalankan Tindakan yang Bertujuan. ‘Alasan’ ini yang selalu menyalakan motivasi ketika ia meredup oleh serangan “virus” dari luar diri individu.Alasan juga dapat disebut sebagai sebuah determinasi (determination) yang memberikan kekuatan bagi seorang individu meyakini atas pilihan hidupnya.

4. Kesetiaan
Selain motivasi dan alasan seorang individu butuh sebuah Kesetiaan (commitment) terhadap ‘alasan’ dan ‘motivasi’ untuk melakukan sebuah Tindakan yang Bertujuan. Dalam proses menjalankan Tindakan yang Bertujuan, kesetiaan seorang individu akan selalu diuji oleh godaan-godaan eksternal yang sifatnya sementara seperti materi, power, posisi, fasilitas, dan kemapanan. Kesetiaan ini merupakan aspek yang sangat rawan dalam proses menjalankan Tindakan yang Bertujuan. Oleh karena itu dalam merawat kesetiaan ini seseorang butuh untuk selalu melihat kembali serta merenungkan ‘alasan’ yang dimiliki dalam menjalankan sebuah Tindakan yang Bertujuan.

5. Kepercayaan Diri
Faktor yang tidak kalah pentingnya dalam menjalankan Tindakan yang Bertujuan adalah Kepercayaan Diri (Self Confidence). Kepercayaan diri sangat dibutuhkan oleh seorang individu sebagai bahan bakar untuk menjalankan sebuah Tindakan yang Bertujuan. Tujuan, motivasi, alasan, dan kesetiaan belumlah cukup bagi seorang individu untuk dapat menjalankan sebuah Tindakan yang Bertujuan. Akibatnya Tindakan yang Bertujuan hanya akan menjadi sebuah mimpi indah ketika seorang individu tidak memiliki kepercayaan diri untuk menjalankannya. Kepercayaan diri dapat dibangun melalui penggalian potensi diri (talent) yang dimiliki oleh seorang individu. Ketika seorang individu memiliki potensi diri yang telah dikembangkan, maka akan muncul perasaan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan yang telah diputuskan. Kepercayaan diri ini harus selalu dipupuk dan diremajakan agar tidak layu. Karena kepercayaan diri ini sangat rentan dengan perubahan iklim lingkungan di mana seorang individu berada. Salah satu cara memupuk kepercayaan diri tersebut adalah dengan terus mengisi diri dengan pengetahuan dan ketrampilan baru. Sehingga pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh individu tersebut akan selalu up to date. Dengan demikian maka individu tersebut akan selalu mampu untuk beradaptasi dengan perubahan waktu dan tempat. Pada akirnya Tindakan yang Bertujuan akan dapat selalu dijalankan secara kontinyu.

Kelima aspek di atas harus dijalankan secara simultan dan berkelanjutan. Satu diantara kelima aspek tersebut hilang maka Tindakan yang Bertujuan tersebut akan sulit untuk dijalankan. Sehingga kelima aspek tersebut sama – sama pentingnya, salah satu diantaranya tidak boleh diutamakan sehingga mengesampingkan yang lain.

Menurut pendapat saya faktor yang menghambat terlaksananya Tindakan yang Bertujuan adalah;

Distorsi Kehidupan

Saya menyebutnya sebagai Distorsi Kehidupan, karena ketika visi dan misi kehidupan seorang individu telah terdistorsi oleh kondisi eksternal maupun internal dari individu, maka pelaksanaan Tindakan yang Bertujuan akan terhambat.

Kondisi eksternal yang berpengaruh terhadap terjadinya Distorsi Kehidupan antara lain intervensi individu lain terhadap pribadi seorang individu. Sehingga biasanya kondisi ini secara perlahan dan tidak disadari akan menggeser visi dan misi hidup seseorang. Kondisi ini terjadi karena individu yang bersangkutan secara tidak sadar telah menjalin hubungan saling ketergantungan dengan individu lain. Sehingga ketika terjadi perubahan sikap atau kondisi pada individu di luar dirinya, maka visi dan misi kehidupan individu yang bersangkutan juga akan berubah. Hal ini dapat terjadi karena individu yang bersangkutan dibayangi oleh perasaan yang tidak beralasan.

Perasaan – perasan yang mendominasi pada kondisi ini antara lain; perasaan takut salah, sungkan, perasaan takut kehilangan, dan perasaan lainnya. Sehingga individu yang bersangkutan selalu berusaha untuk menyesuaikan dengan tuntutan lingkungan dimana dia berada.

Kondisi internal yang berpengaruh terhadap terjadinya Distorsi Kehidupan adalah munculnya harapan baru yang dimiliki oleh seorang individu. Harapan baru pada dasarnya tidak menjadi masalah ketika harapan tersebut tidak jauh melenceng dari tujuan utama. Namun jika harapan baru tersebut telah jauh dari tujuan utama maka harapan tersebut akan mendistorsi tujuan yang sudah ditetapkan di awal. Salah satu contoh kondisi internal yang dapat berpengaruh pada munculnya Distorsi Kehidupan adalah kegagalan. Kegagalan dapat menimbulkan dua macam akibat tergantung pada daya kepribadian seorang individu. Pada individu yang memiliki daya kepribadian yang kuat maka kegagalan dapat dimaknai sebagai sebuah pemacu untuk terus melakukan karya. Namun bagi mereka yang memiliki daya kepribadian lemah, kegagalan akan dipandang sebagai sebuah ancaman. Sehingga hal yang sering dilakukan oleh individu tipe ini adalah berusaha mengubah tujuan utama dengan standard yang lebih rendah. Hal ini dilakukan untuk mengambil posisi aman dalam proses pelaksanaan Tindakan yang Bertujuan. Menurut hemat saya kondisi semacam ini pada dasarnya sama saja artinya bahwa Tindakan yang Bertujuan tidak terlaksana karena tujuan utama telah diubah menjadi tujuan turunan.

Kedua kondisidi atas dapat dieliminir dengan cara senantiasa merawat visi dan misi kehidupan pribadi kita masing-masing. Perawatan visi dan misi tersebut dapat dilakukan dengan memperbaharui motivasi dan melakukan refleksi terhadap alasan dan komitmen yang telah dibangun.

1 Comment »

  1. arti kepercayaan diri itu apa?

    Comment by aditya — 31 January 2008 @ 17:45

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment