Posted by cakfu @ 13:38 on September 20th 2006

TUHAN TIDAK MENERIMA TAMU DIFABEL

Suatu ketika saya bersama beberapa teman dalam sebuah perjalanan mampir ke masjid Agung Surabaya untuk melakukan sholat Ashar. Hampir tiga jam kami berkeliling memutari bangunan masjid untuk mencari jalan agar kami dapat masuk ke dalam masjid yang megah tersebut. Akhirnya kamipun tetap tidak menemukannya, karena bangunan masjid Agung Al-Akbar tersebut didesain begitu megah dengan dikelilingi puluhan anak tangga. Karena waktu sholat Ashar hampir habis kemudian kami memutuskan untuk mengambil air wudlu. Tidak berbeda kasusnya, kami berlima menuju tempat wudlu dan ternyata tempat wudlu tersebut berada di bawah bangunan masjid megah tersebut. Untuk mencapainya maka kami harus menuruni anak tangga yang jumlahnya sepuluh buah. Saya sempat menatap ke-empat teman saya yang kesemuanya menggunakan kursi roda dan tongkat penyangga. Dalam benakku aku bergumam”Ya..Allah begitu jauh diri Mu untuk kami temui”.

Akirnya kamipun memutuskan untuk tetap mengambil air wudlu. Satu per satu teman saya tersebut harus digendong oleh satpam Masjid Agung untuk mengambil air wudlu dan masuk ke dalam masjid. Sesampainya di dalam serambi Masjid, kami menemukan tulisan “SUCI-Alas Kaki Harus Dilepas”. Pak Tompul salah seorang teman yang kebetulan kedua kakinya mengalami amputasi hingga paha terlihat kebingungan. Haruskah dia melepas kedua kaki palsunya di tengah tangga masjid. Akhirnya beliaupun melepasnya dan kemudian beliau merangkak menaiki sisa anak tangga untuk menuju kedalam Masjid. Mungkin kejadian semacam ini terlihat “wajar” oleh beberapa orang. Mungkin orang hanya berfikir dengan logika sederhana bahwa bangunan masjid tidak memungkinkan teman – teman saya yang difabel untuk masuk, oleh karena itu mereka harus dibantu dan membantu orang yang membutuhkan (difabel) adalah sebuah kebaikan dan akan mendapatkan pahala.

Ada sebuah pertanyaan yang seketika itu muncul di benak saya. Kenapa kebanyakan bangunan masjid atau bahkan sebagian besar rumah ibadah di Indonesia didesain begitu megah namun tak satupun yang aksesible bagi difabel. Dengan alasan keindahan dan kemegahan, rumah ibadah dibangun dengan tangga-tangga dan dilengkapi pula dengan lantai yang licin serta mengkilap. Bangunan masjid dengan arsitektur semacam itu memang terlihat indah dan setiap agama menganjurkan untuk membangun rumah ibadahnya seindah dan semegah mungkin. Ratusan juta rupiah dana dihabiskan untuk membiayai sebuah bangunan rumah ibadah, bahkan kalau perlu panitia pembangunan rumah ibadah tersebut meminta sumbangan kepada warga sekitar. Dalam Islam diajarkan bahwa jika membangun masjid harus lebih indah dan lebih megah dari rumah penduduk disekitarnya. Namun seindah apapun bangunan masjid dan rumah ibadah yang jelas kawan-kawan kita para difabel tetap tidak akan dapat melakukan sembahyang di dalamnya.

Rumah ibadah sering diidentikkan dengan Rumah Tuhan. Tuhan diyakini sebagai Dzat yang Maha Suci dan Maha Agung, sehingga rumah yang diperuntukkannyapun harus dibuat suci dan megah. Di tempat ibadah tersebut Tuhan tampak begitu eksklusif, Tuhan tampak begitu borju. Tuhan terlihat akrab menyapa kepada mereka yang berpenampilan necis dengan pakaian rapi, harum dan bersih. Sehingga masjid dan rumah ibadah lain tampak sebagai Istana Kerajaan Tuhan yang mewah dan megah.

Para pengemis, pemulung yang compang-camping, dan para difabel tidak diperkenankan masuk kedalam masjid atau tempat ibadah lain. Jadwal pertemuan dengan Tuhanpun harus mengikuti jadwal protokoler pengurus rumah ibadah. Tuhanpun menjadi sangat elit. Sehingga untuk bertemu Tuhanpun seperti ingin bertemu dengan Presiden. Padahal sering kita mendengar ceramah bahwa Tuhan selalu bersama kita, sehingga kita dapat bertemu dengan Dia di manapun dan kapanpun.

Sambil menuruni tangga Masjid pak Tompul bergumam”mau ketemu Tuhan saja kok susah, apa Tuhan memang tidak menerima tamu dari kita yang difabel?”. Sambil tersenyum saya menimpali”yang di dalam Masjid itu Tuhan mereka pak bukan Tuhan kita, Tuhan kita ada di dalam hati ini”.

13 Comments »

  1. Cak, apa kabar….

    Perkara aksesibilitas di Indonesia (dan negara-negara seperti kita) memang masih merupakan perkara pelik. Saya sepakat ini adalah masalah serius. Saya percaya secara garis besar hal ini pasti ada di UUD kita (sekarang tidak hapal lagi pasal berapa… lebih parah lagi saya tidak tahu ada berapa pasal sekarang, hehehe).

    Untuk cerita kasus Cak Fu di atas, mungkin ada bijaknya berdialog dengan pengurus masjid itu Cak… Mudah-mudahan Pak DKM mencarikan jalan keluar, karena memang sebaiknya kita membuat bangunan untuk publik yang bisa dikases oleh semua orang.

    Namun, insyaallah Allah tidak begitu jauh dari kita. Saya percaya, Allah senang dengan hamba-hamba seperti Cak Fu dan kawan-kawan… jelas saya bukan Tuhan yang bisa menentukan pahala/dosa, tapi saya teringat hadits yang kira-kira berbunyi Allah itu senang melihat hamba-Nya berjuang untuk menyembahnya. Yang jelas jangan berburuk sangka kepada Dia, dan juga jangan berbuuruk sangka kepada siapapun hamba-Nya :-)

    Mohon maaf lahir dan batin Cak, semoga puasa kita meningkatkan taqwa kita…

    Salaman dari sahabat di Groningen,
    Buyung

    Comment by Buyung — 20 September 2006 @ 13:57

  2. Cak Fu, saya bisa merasakan gimana repot nya cak Fu dan teman2 saat itu.Memang sulit sekali kita menemukan bangunan2 di indonesia (fasilitas umum) yg didesign untuk manula atau para difable. Sementara kalo kita di luar negeri seakan semua dibuat mudah termasuk buat yg kaum difable. Gimana kalo tulisan cak Fu di muat di koran, agar para arsitektur di indo dan para pejabat juga mulai berfikir ttg hal ini.

    Comment by Indah — 20 September 2006 @ 15:04

  3. Mas Fuad,

    Salam kenal dan salam solidaritas yah.

    Comment by farid — 20 September 2006 @ 23:38

  4. cak Fuad yang budiman,

    salam kenal. terimakasih telah mengingatkan kami. saya yakin tulisan anda akan sangat bermanfaat bila dipublikasikan lebih luas. ide tentang akses untuk para difabel memang patut diperjuangkan.

    Comment by sars — 24 September 2006 @ 17:19

  5. Salam kenal Cak.

    Saya turut prihatin. Tetapi Tuhan selalu menerima umat yang datang pada-Nya. Maksudnya adalah benar-benar datang kepada Allah, bukan hanya sekedar datang ke tempat ibadah.

    Salam.

    Comment by Emanuel Setio Dewo — 5 October 2006 @ 10:40

  6. Saya terharu membaca entri ini: betul bahwa banyak fasilitas publik, bahkan masjid, yang belum sensitif terhadap ‘tamu difabel’ ini. Moga-moga pelontaran-pelontaran aspirasi seperti ini akan menyentakkan masyarakat umumnya… salam, Anwar.

    Comment by Agusti Anwar — 11 October 2006 @ 21:14

  7. Cak, jangan bersedih. Allah tidak memandang fisik, rupa, harta hambaNya, tapi yang dipandang-Nya adalah ketaqwaan masing-masing hambanya. Cak dan kawan-kawan yang diffable, berusaha untuk memenuhi panggilan Allah, meskipun dengan fisik yang terbatas, hal ini adalah suatu amalan yang baik,yang insya Allah akan mendatangkan pahala. Anda lebih baik dibandingkan dengan mereka yang normal, tapi tidak memenuhi seruan-Nya untuk menghadap Dzat Yang Maha Adil.
    Cak, salam persahabatan dari saudaramu, sesama kaum diffable negeri ini (hawatarihimura@yahoo.com)

    Comment by rush_lee — 11 November 2006 @ 17:42

  8. DI KAMPUNG DESA PRUPUK SELATAN RT. 04 RW 07 KEC. MARGASARI KAB. TEGAL SEDANG MEMBUTUHKAN DANA UNTUKMERENOPASI MESJID YANG SUDAH TUA MOHON BANTUAN DI TRANSFER KE REK. 5540224210 ATAS NAMA SAMSUDIN BCA SEJATI MULIA PASAR MINGGU JAKSEL 12540

    Comment by SAMSUDIN — 5 March 2007 @ 20:15

  9. Bravo!! Luar biasa cak Fu!! Sangat kagum dan terharu membaca tulisan ini… Benar sekali mas! Berjuanglah utk fasilitas umum bagi kaum/golongan minoritas (difabel, istilah mas). Jujur ya mas, jauh sebelum membaca tulisan ini, pernah terlintas juga dipikiran saya ketika melewati sebuah bangunan masjid:…. “Bagaimana seandainya saya pemeluk agama ini, apakah saya bisa masuk ke rumah ibadah ini?”. Karena hal alas kaki tersebut mas, saya memakai alat bantu brisk (bener ga ya nulisnya) di kaki kanan saya sampai sepanjang kaki saya. Semangat mas! Berjuanglah!(adakah yang bisa saya bantu? dengan segala keterbatasan saya) Salut! Bravo!
    Syaloom!!

    Comment by lin — 12 July 2007 @ 18:09

  10. asw. kebetulan banget saya sedang menulis tema yang pas banget dengan yang cak fu keluhkan. beberapa waktu lalu saya mendapat pelatihan tentang aksesibilitas fasilitas publik bagi kaum difabel di kota tempat saya bekerja, Banda Aceh. Secara Aceh sedang menjalankan syariat islam, saya jadi teringat dengan fisik masjid/mushola yang seringkali tangganya banyak dan tinggi. tentu saja sulit bagi orang yang memliki keterbatasan gerak, apalagi pakai alat bantu. dalam hal ini tongkat, kruk, apalagi kursi roda. menjawab kebingungan cak fu cs, i dont know why, mungkin Allah swt telah menakdirkan, saya bertanya kepada seorang ustad bagaimana hukumnya kursi roda masuk ke dalam masjid. ternyata jawaban dia adalah BOLEH BANGET. hukumnya adalah kursi roda ini sebagai pengganti kaki. selain itu, sebenarnya dalam bab bersuci (kurang lebih namanya seperti itu), debu dan tanah yang berulangkali dilindas si roda kursi roda hakikatnya telah mensucikan kotoran-kotoran yang sebelumnya menempel. ibaratnya kayak kita kalo tayamum, kan pakai debu tuh. jadi sebenarnya, kata pak ustad temen saya itu, sepatu sebenarnya bisa dipakai untuk sholat dalam hal ini. oia, untuk kursi roda, di masjidil haram sendiri udah ga asing lagi sholat pake kursi roda. dan yang pake kruk ato kaki palsu, kalo sulit melakukan gerakan sholat yang biasanya, kata teman saya itu, lakukan semampu fisiknya bisa. percaya deh, islam itu memberi keringanan kok, sama orang yang normal aja banyak rukhsah, apalagi sama orang yang memiliki special needs. sayangnya, tidak semua orang tahu masalah ini, itu juga sulitnya, kalaupun kita tahu, sedangkan orang sekitar belum, jadinya mereka nanti menolak atau mengira islam aliran sesat lagi, hehehe … makanya, masyarakat harus dibuat ngerti dulu soal yang satu ini. kalo nggak, salah-salah terjadi penolakan. oia, katanya indonesia memang sngat ketinggalan dalam hal aksesibilitas masjid bagi orang cacat ini. tetangga terdekat, malaysia udah jauh lebih dulu beri fasilitas ini bagi kaum difabel. btw, beliau tinggal di malaysia almost kalo ga salah 15 tahunan lah.

    Comment by annie — 26 October 2007 @ 00:49

  11. Mohon ulasan lebih jauh tentang kriteria-kriteria difabel / gradasi difabel, terkait dengan hak-hak menggunakan sarana khusus yang telah disediakan oleh beberapa gedung public area. saya juga merupakan salah satu insan yang ditakdirkan mengalami ujian kecacatan tubuh (amputasi sebelah tungkai), tapi terus berusaha untuk mandiri dan bahkan berusaha memberi kontribusi mengentaskan pengangguran. tapi sejauh ini belum cukup mampu memikirkan pemberdayaan kaum difabel.terima kasih.

    Comment by Aank — 3 December 2007 @ 10:10

  12. calon istri saya adalah seorang difabel (kaki kirinya menggunakan brace, yang hampir imposible dilepas ditengah perjalanan) kalo saya jalan-jalan kemana (kebetulan saya hobi touring, dan calon saya seneng banget kalo jalan-jalan keluar rumah, biasalah tadinya selalu dibatasi oleh lingkungan rumah) ketika mau sholat biasanya dijamak qashar, kalo tidak sempat ya dia saya sarankan sholat diatas sepeda motor toh berjilbab lengkap. tinggal menepi sebentar untuk bertayammum. lalu saat menemui masjid atau musalla gantian saya yang sholat. kalo saya sih yakin jika Allah memberikan kemudahan atas uzur yang kita punya, selama belum menyerah, apa saja bisa kita lakukan kan?

    Comment by cak alphin — 27 January 2008 @ 09:40

  13. Assalamu ‘alaikum..

    salam hormat saya buwat cak Fu..

    sebuah kasus yg sangat mengiris hati saya dan temen2 di kampus.
    Saat ini, di kampus kami UIN Malang juga lagi banyak membahas tentang hal ini, permasalahan ttg sodara-sodara kami yang diffable dan menjadi kaum yg termarjinalkan di Negeri yg katanya sudah merdeka.

    Doakan kami semoga kami bisa menjadi seorang Arsitek yang berguna bagi setiap insan di Bumi Allah ini.

    Wassalamu ‘alaikum..

    Comment by tedonk — 26 April 2008 @ 13:26

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment