Posted by cakfu @ 06:56 on October 3rd 2006

Cerita dari Sahabat

“Heb je even voor mij…Na…na…na…na…na…na…” Malik berdendang sambil menggoyangkan bahunya naik turun keatas. Dan kakinya pun tak lupa ikut bergoyang. Dimanakah ia melakukan aksinya itu? Di depan seorang oma Belanda! Oma itu duduk di sebelah kami dalam perjalanan kereta api Amsterdam-Groningen. Energi pangeran kecilku ini memang tak ada habisnya. Padahal saat itu kami sudah kelelahan setelah mengikuti tahrib ramadan di PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa) Amsterdam.

Tentu saja si oma menyambut polahnya, bahkan ia ikut bernyanyi bersama Malik. Lalu, Oma bertanya pada Malik, “Wie zing dat (siapa yang menyanyikan lagu itu) ?” Sambil mesam-mesem penuh percaya diri memperlihatkan deretan gigi mungilnya, Malik menjawab,” Cak Fu!” katanya lucu. Ha ha ha, kontan saja aku dan suamiku terbahak, koq Cak Fu?! Berulang kali mereka bernyanyi lagi. Dan berulangkali pula si oma mengatakan bahwa penyanyi lagu itu adalah Frans Bouwer. Tapi anak lelakiku yang baru berusia 3,5 tahun ini tetap ngeyel,” Cak Fu Bun, Aik betul!” Katanya berusaha meyakinkan aku, agar aku tak tertawa lagi.

Hei! Ada apa dengan Cak Fu, mengapa kenangannya bersama Cak Fu begitu melekat kuat? Ah ya! Tentu saja, siapa yang tak kenal Cak Fu. Barangkali hampir setiap pelajar asal Indonesia di Groningen yang mengenalnya, bahkan anak-anak pun, telah memahat memori indah tentangnya. Hanya sekira setahun ia tinggal di kota Groningen. Beasiswa untuk program Master dari Ford Fondation yang diraihnya telah membawanya kemari.

Namanya Bahrul Fuad, tapi kami biasa memanggilnya Cak Fu. Pria ramah asal Kediri ini selalu tersenyum. Tubuhnya terbilang mungil. Ya, karena bentuk dan ukuran kakinya memang tak sempurna. Ia tak bisa berjalan dengan kedua kakinya. Hanya kaki kanan yang mampu menopang tubuhnya. Dokter memvonisnya mengalami CP (Cerebral Palsy) sejak usia balita. Tapi dibalik semua itu, ia adalah pria yang penuh percaya diri dan bersemangat tinggi. Bahkan, seorang pejuang!

Kejadian lucu di kereta api itu mengingatkan perpisahanku dengan Cak Fu beberapa bulan lalu. Dengan scooter khusus bagi orang yang mengalami kesulitan mobilitas, ia bertandang ke rumah kami sore itu. Cak Fu senang bernyanyi. Malah ketika PPI Groningen mengadakan acara malam dana bagi korban Tsunami di Aceh, suara Cak Fu lah yang mengiringi tarian Saman dengan nyanyian Acehnya.

Jadi mengapa Malik keukeuh mengatakan bahwa lagu Heb je even voor mij adalah milik Cak Fu? Karena selama di rumah kami, lagu itulah yang selalu ia nyanyikan bersama anak-anakku. Mereka bernyanyi bersama, bahkan bermain bola bersama. “Aku dulu suka main bola lho Mbak. Dengkulku sampek kandel (lututku sampai tebal),” katanya dengan logat Jawa yang kental. “Aku selalu jadi kiper, karena aku kan kemana-mana merangkak,” lanjutnya lagi.

“Cak Fu bisa dapat beasiswa kesini, dan punya kepercayaan diri yang tinggi ngalahin orang normal, hebat tenan lho Cak. Ceritanya gimana Cak, koq bisa jadi lain begini?” tanyaku penasaran. “Mungkin faktor orangtua yang sangat berperan Mbak. Kebetulan aku dari keluarga guru, mereka ngerti tentang pendidikan. Orangtuaku menerima aku dengan jujur, apa adanya seperti anak lain. Orangtuaku bisa membangun kepercayaan diriku. Aku dulu dibiarin aja main bola, bedil-bedilan, jumpritan, sampek kulu-kulu berdebu. Di rumah ya dimarahi juga sama ibuku.” Senyum Cak Fu mengembang mengingat masa lalunya.

Pada awalnya orangtua Cak Fu pun ingin merubah kondisi Cak Fu, terutama ayahnya. Cak Fu sempat dibawa ke dukun, kyai, orang pinter, dan juga ke dokter. Malah, saat usianya 4 tahun, oleh salah seorang dukun, Cak Fu pernah disuruh makan gotri (roda gigi sepeda berukuran kecil seperti kelereng). “Ibuku nangis Mbak, Anakku ga oleh dipulosoro (anakku tidak boleh disakiti),” tutur Cak Fu menirukan ibunya yang tersedu-sedu. “Pasti ibunya Cak Fu berproses dan bergejolak juga kan Cak untuk bisa menerima apa adanya dan mendidik Cak Fu dengan baik?” Sahutku ingin tahu.

“Wah ya jelas Mbak. Bagi seorang ibu, melahirkan anak cacat itu sangat berat. Jujur saja, keluarga dan masyarakat masih menganggap kecacatan itu sebagai aib. Ibuku selalu berdoa dan selalu yakin bahwa Allah itu ndak sare (tidak tidur). Bahkan saat aku dikuliahkan, ibuku diejek sama tetangga. Ibuku cuek saja. Ibuku ingin merubah cara pandang masyarakat. Ibuku berprinsip, anakku ini tidak boleh menjadi hinaan orang. Ibu akan buktikan pada orang-orang bahwa anak ibu ini akan jadi orang. Ibuku selalu ngomong begitu Mbak,” cerita Cak Fu panjang lebar. “Memangnya tetangganya Cak Fu mengejek seperti apa Cak?” tanyaku lagi. “Ya begitu Mbak, ngapain sih anak cacat disekolahkan tinggi-tinggi? Kamu koq sok kaya!” kata Cak Fu mengenang tetangganya.

Karena suka dukanya menjadi orang cacat itulah Cak Fu ingin berjuang untuk kawan-kawannya sesama penyandang cacat. Selama ini kebanyakan orang cacat di Indonesia merasa minder, karena mereka merasa ditolak. Semua orang cacat dianggap tidak mampu memiliki potensi lain. Orang buta misalnya, akhirnya hanya dilatih untuk menjadi tukang pijat, atau pembuat kerajinan tangan saja. Padahal banyak teman Cak Fu disini sesama penyandang cacat yang sukses mendapat beasiswa PhD. Bahkan Profesor Ayub dari Temple University- USA yang pakar studi Islam itu pun seorang tuna netra.

“Kecacatan itu seharusnya dilihat sebagai sebuah realita Mbak, layaknya hidung pesek atau rambut pirang. Kecacatan merupakan bagian dari keragaman dan juga kebesaran Allah. Hingga saat ini, masyarakat Indonesia tidak mendidik orang-orang cacat untuk menerima kecacatannya sebagai sebuah realita. Mestinya, masyarakat yang harus ditata. Seperti halnya di negara-negara maju, orang cacat bisa hidup setara, dalam artian aku cacat, aku butuh ini, maka aku dapat ini, begitu Mbak,” papar Cak Fu penuh semangat.

Dari obrolan panjang dengan Cak Fu, ternyata ada sebuah cita-cita mulia yang hendak diperjuangkannya. Cak Fu ingin menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada semua elemen masyarakat, termasuk penyandang cacat, untuk berpartisipasi dalam aktifitas di masyarakat. Dan kini, sebagai staff di Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Surabaya, ia tengah merintis cita-citanya tersebut. Cak Fu, semoga dengan usahamu, mata-mata kami akan semakin terbuka. Melihat kecacatan sebagai sebuah realita, sebagai kebesaran Sang Pencipta. Kita memang berbeda, tapi di mataNya semua menjadi sama, hanya ketaqwaan manusia jua yang akan dinilaiNya. Selamat berjuang Cak!

Ditulis oleh Agnes Tri Harjaningrum,penulis buku Kitchen Table Melody,tinggal di Groningen, Belanda.

5 Comments »

  1. Terima kasih mbak agnes,untuk semangat yang anda berikan. buat temen temen sekomunitas hubungi aku di (masinnung@yahoo.co.id) “ALLAH TIDAK RIDHlO JIKA CIPTAANNYA DI BILANG TIDAK SEMPURNA.”

    Comment by Much Nurmadi — 3 December 2006 @ 13:45

  2. saya sangat terharu dengan cerita itu, kalau boleh saya mau ketemu langsung dengan orang itu bisa nggak? atau saya boleh minta contact personnya saja ataupun alamatnya juga boleh.

    terima kasih

    Helver

    Comment by Helver — 5 January 2007 @ 15:51

  3. Mbak Agnes…
    Sangat senang sekali membaca tulisan Mbak!! Dan cukup terharu! Saya juga seorang penyandang polio pada kaki kanan. Bedanya lagi dengan cak Fu, ibuku tidak terlalu membedakanku dengan saudaraku yang lain…dalam arti difasilitasi…atau dicita-citain..seperti: “anakku ini tdk boleh menjadi hinaan orang,Ibu akan buktikan kepada orang2 bahwa anakku ini akan jadi orang”… Ibuku nyaris memperlakukanku sama seperti kelima saudaraku yang lain. Aq disekolahkan sampai S1, aq mencari/ melamar pekerjaan sendiri, bahkan aq menikah juga tidak dicarikan jodoh segala sama ibuku…dan saat ini juga aq sedang menjalani sekolah s2 di Indonesia, pun tanpa campur tangan ibuku. Kadang2 aq lupa kalau aq ini ‘berbeda’. Tapi itulah cara seorang ibu mendidik anaknya. Satu hal yang aq tau pasti sama dengan ibu cak Fu adalah: ibuku sangat mengasihiku..ibuku menganggapku sama berharga dengan kelima anaknya yang lain…ibuku selalu membantuku di dalam doanya!!
    Bravo Mbak Agnes!
    Syaloom!!

    Comment by lin — 12 July 2007 @ 17:52

  4. saya nelda merupakan mahasiswa di PTN kaltim ingin mencari beasiswa kemana ya yang untuk org cacat seperti saya…krna di tempat PTN saya tidak pernah mendapatkan beasiswa….padahl saya ingin mendapatkan beasiswa untuk biaya kuliah saya yg sekarang di semester 6 ini…mohon jawabanya…kemana saya bisa meminta beasiswa tuk org cacat seperti saya ini.makasih

    Comment by nelda — 12 March 2008 @ 10:54

  5. tulisan yang bagus, jarang saya membaca tulisan yang memberi semangat untuk orang – orang cacat, biasanya orang cacat hanya diberi keterampilan tidak perna diberi kesempatan yang sama, kalau boleh saya minta alamat atau emaialnya cakfu

    terima kasih banyak atas bantuannya

    edi matnali
    palembang

    Comment by edi matnali — 4 December 2009 @ 09:46

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment