Posted by cakfu @ 21:28 on May 21st 2007

Evolusi Paradigma Difabel

Difabel kini mulai dilirik oleh para akademika dari ilmu sosial. Masalah difabel bukan lagi dilihat dari sudut pandang medik namun sudah bergeser pada sudut pandang ilmu sosial. Tidak banyak yang tahu bahwa cara pandang (paradigma) masyarakat terhadap difabel telah mengalami pergeseran secara perlahan (evolusi) sejak ratusan tahun yang lalu. Mulanya masyarakat menghubungkan difabel dengan spiritualisme ( Moral Model) selanjutnya difabel dipandang sebagai orang sakit (Medical Model) sehingga penanganannyapun lebih bersifat medik. Kemudian pada perkembangannya keberadaan difabel diakui sebagai bagian dari warga negara yang memiliki hak untuk menikmati hidup dengan segala fasilitasnya ( Civil Rights Model), dan terakhir muncul sebuah cara pandang baru bahwa difabel adalah bagian dari masyarakat, mereka terlahir dari masyarakat dan sudah selayaknya mereka hidup bersama masyarakat secara wajar ( Post Modernism atau Social Model). Memang keberadaan satu model belum mampu menggeser keberdaan model yang lain secara utuh di masyarakat. Kita masih melihat sebagian masyarakat masih menggunakan cara model moral ataupun medical dalam melihat persoalan difabel. Hal tersebut dapat terlihat jelas dari bagaimana masyarkat tersebut memperlakukan para difabel. Di komunitas masyarakat pinggiran atau pedesaan yang tingkat pendidikannya masih minim, di sana masih tumbuh subur kepercayaan bahwa difabel atau kecacatan merupakan akibat dari sebuah tindakan spiritual, misalnya difabelitas atau kecacatan merupakan hukuman atas perbuatan dosa yang dilakukan seseorang karena menyalahi norma sosial yang berlaku ataupun norma agama. Sementara di ranah pengambil kebijakan, medical model masih menjadi maintream untuk dasar pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan keberadaan kaum difabel. Hal ini terbukti masih banyaknya berdiri pusat rehabilitasi (RC) yang diperuntukkan bagi kaum difabel.

Moral Model
Moral model dipercaya merupakan cara pandang paling lama yang digunakan oleh masyarakat dalam memandang difabel. Cara pandang ini dapat dikatakan sebagai representasi dari kepercayaan bahwa difabilitas (kecacatan) merupakan hukuman atau dosa akibat dari perbuatan yang menyalahi norma masyarakat atau norma agama yang berlaku yang dilakukan seseorang ataupun keluarga. Moral Model ini sangat erat kaitannya dengan kepercayaan yang berkembang di masyarakat dan disebarluaskan oleh para pemimpin kepercayaan ( agama) melalui dogma yang disampaikan. Prilaku yang umum dilakukan terhadap difabel pada Moral Model ini adalah isolasi, pengucilan, dibunuh, dan pembuangan. Sejarah mencatat ratusan difabel dibunuh oleh pasukan Hitler pada masa kekejaman Nazi. Pada model ini solusi yang dilakukan masyarakat dalam menyikapi keberadaan difabel adalah dengan berusaha memahami dan menerima bahwa difabel adalah merupakan kehendak dari Tuhan, menerima secara pasif sebagai takdir, menghukum diri sendiri, berusaha untuk menghapus dosa yang sudah diperbuat (tobat), tunduk dan mentaati doktrin, tuntunan, serta ajaran agama yang berlaku.
(more…)

Posted by cakfu @ 21:24 on May 21st 2007

Mewujudkan Surabaya untuk semua

Pada suatu hari kami para difabel (penyandang cacat) yang tergabung dalam Paguyuban Daya Mandiri Surabaya mampir ke Masjid Agung Surabaya untuk sholat Ashar, setelah melakukan jalan – jalan sore keliling Kota Surabaya. Kami sangat kecewa ketika menemukan bahwa ternyata tempat wudlu yang tersedia tidak dapat kami gunakan. Kami yang mayoritas berkursi roda tidak dapat masuk ke tempat wudlu yang didisain penuh dengan tangga. Selain itu bangunan masjid yang berarsitektur mewah dengan hiasan penuh tangga tersebut memaksa kami untuk merangkak guna sampai ke dalam masjid. Selama ini memang fasilitas publik yang ada di Kota Surabaya bukan hanya masjid, namun juga bangunan publik lainnya termasuk fasilitas transportasi umum tidak ramah terdahap keberadaan para difabel. Sehingga kondisi ini menjadi penghambat bagi kelompok difabel untuk berinteraksi atau bersosialisasi dalam aktifitas sosial di masyarakat.
(more…)

Posted by cakfu @ 21:14 on May 21st 2007

Aksesibilitas Hanya Soal Kemauan

Pada tanggal 15 November 2006 sejumlah difabel melakukan protes di Bandara Udara Juanda yang baru. Aksi protes tersebut memang tidak diikuti oleh banyak difabel, namun cukup menyita perhatian dari media masa karena aksi tersebut bertepatan dengan kedatangan Presiden SBY yang sedang mengunjungi bandara tersebut. Protes yang dilakukan oleh teman-teman difabel tersebut cukup beralasan karena bandar udara yang baru dibangun dengan nilai milyaran rupiah tersebut tidak aksesibel bagi para difabel.
(more…)