Kecacatan adalah Karya Agung Tuhan
Mengapa saya terlahir berbeda dengan adikku?
Mengapa orang menyebut aku anak yang cacat?
Mengapa orang selalu melihatku ketika aku berjalan?
Mengapa Tuhan menciptakan aku berbeda dengan anak pada umumnya dan bahkan dengan adikku yang satu ayah dan satu ibu?
Kalau aku cacat karena hukuman, apa salahku?
Pertanyaan – pertanyaan di atas muncul ketika saya masih berusia 8 tahun. Saya pada mulanya protes dengan keberadaan fisik saya. Menurut saya Tuhan tidak adil, adik saya terlahir normal, dia dapat bermain bola sedang saya tidak. Adik saya dapat naik sepeda, berlari, dan bermain bersama teman-temannya sedang saya tidak. Seiring perjalanan waktu dan kematangan spiritual, saya pada akhirnya mensyukuri bahwa kecacatan yang saya alami adalah anugrah yang paling berharga dalam hidup saya. Dengan kondisi tubuh dan status yang saya sandang sebagai penyandang cacat saya punya banyak teman, saya bisa sekolah ke luar negri, dan yang paling berharga dalam hidup saya adalah percikan-percikan mutiara hikmah yang saya dapat selama ini yang mungkin tidak akan saya dapatkan seandainya saya tidak cacat. Dengan kondisi cacat yang saya alami ini, saya lebih paham dan mempunyai alasan mengapa saya harus hidup. Maka kondisi cacat yang saya alami adalah benar-benar anugrah yang sangat berharga dan sekaligus karya agung dari Sang Maha Kreatif.
