Posted by cakfu @ 20:47 on June 5th 2007

Kecacatan adalah Karya Agung Tuhan

Mengapa saya terlahir berbeda dengan adikku?
Mengapa orang menyebut aku anak yang cacat?
Mengapa orang selalu melihatku ketika aku berjalan?
Mengapa Tuhan menciptakan aku berbeda dengan anak pada umumnya dan bahkan dengan adikku yang satu ayah dan satu ibu?
Kalau aku cacat karena hukuman, apa salahku?

Pertanyaan – pertanyaan di atas muncul ketika saya masih berusia 8 tahun. Saya pada mulanya protes dengan keberadaan fisik saya. Menurut saya Tuhan tidak adil, adik saya terlahir normal, dia dapat bermain bola sedang saya tidak. Adik saya dapat naik sepeda, berlari, dan bermain bersama teman-temannya sedang saya tidak. Seiring perjalanan waktu dan kematangan spiritual, saya pada akhirnya mensyukuri bahwa kecacatan yang saya alami adalah anugrah yang paling berharga dalam hidup saya. Dengan kondisi tubuh dan status yang saya sandang sebagai penyandang cacat saya punya banyak teman, saya bisa sekolah ke luar negri, dan yang paling berharga dalam hidup saya adalah percikan-percikan mutiara hikmah yang saya dapat selama ini yang mungkin tidak akan saya dapatkan seandainya saya tidak cacat. Dengan kondisi cacat yang saya alami ini, saya lebih paham dan mempunyai alasan mengapa saya harus hidup. Maka kondisi cacat yang saya alami adalah benar-benar anugrah yang sangat berharga dan sekaligus karya agung dari Sang Maha Kreatif.


Cacat adalah Kontruksi Sosial

Mengapa saya disebut cacat dan anda disebut normal? Bagaimana sebutan itu dapat muncul? Untuk mengawali diskusi ini saya akan memulainya dengan awal mula istilah normal. Kata normal, normality, normalcy,norm, average dan abnormal masuk ke daratan Eropa relatif belum lama. Kata-kata tersebut mulai diperkenalkan dalam bahasa Inggris sekitar tahun 1840. Selanjutnya kata normal tersebut dipakai secara luas antara tahun 1840-1860. Jika konsep normalitas yang selanjutnya dibakukan dalam sebuah kata “normal” muncul di Eropa pada abad 19, lalu pertanyaannya apa yang melatarbelakangi munculnya bembentukan kata tersebut. Jawabnya adalah ilmu statistik –salah satu cabang ilmu matematika. Menurut Porter (1986), kata statistik muncul pertama kali pada tahun 1749 yang diperkenalkan oleh Gottfried Achenwall sebagai aritmatik politik- penggunaan data untuk kebutuhan negara dalam merancang kebijakan. Konsep ini kemudian beralih fungsi dari bidang politik ke bidang kesehatan ketika Bisset Hawkins memperkenalkan konsep medical statistik pada tahun 1829. Medical Statistik adalah sebuah konsep penggunaan angka untuk menggambarkan kondisi kesehatan seorang pasien.

Selanjutnya seorang ahli statistik Prancis Adolphe Quetelet (1796-1849) membakukan konsep normalitas pada pola pikir masyarakat. Dia mengatakan bahwa hukum “law of error” yang digunakan oleh para ahli astronomi dalam menentukan posisi bintang dengan menghitung masing-masing kekuatan cahaya dari seluruh bintang dan kemudian mengukur rata-ratanya, juga dapat diaplikasikan pada manusia untuk mengukur berat dan tinggi mereka. Kemudian Quetelet merumuskan konsep yang diberi nama “l’homme moyen” atau manusia rata-rata. Konsep manusia rata-rata ini kemudian diadopsi oleh seluruh masyarakat di seluruh dunia, dimana ukuran rata-rata disesuaikan dengan kondisi masing-masing masyarakat di setiap negara. Selain itu Quetelet juga memperkenalkan konsep “kelompok dibawah rata-rata” yang dia sebut “les classes moyen”.

Dua teori normalitas yang disodorkan Quetelet tersebut yang kemudian memunculkan konsep tentang kecacatan. Sebuah konsep yang didasarkan pada karakteristik rata-rata manusia. Karakteristik yang lebih menekankan pada kondisi fisik manusia seperti berat ,tinggi, dan bentuk tubuh. Maka jika ada salah satu kelompok atau individu dalam masyarakat yang memiliki karakteristik diluar karakteristik rata-rata, maka mereka digolongkan sebagai kelompok atau individu yang tidak normal. Konsep ini kemudian berpengaruh pada pola pikir masyarakat kita terutama para ahli kesehatan dalam melihat kecacatan. Mereka berfikiran bahwa sesuatu yang berada diluar standard kenormalan harus dirubah atau disesuaikan untuk menjadi normal. Maka konsep rehabilitasi fisik ditawarkan oleh mereka sebagai solusi penyelesaian persoalan kecacatan. Operasi medik dilakukan terhadap mereka yang memiliki bentuk kaki ataupun tangan yang berbeda dari kebanyakan orang.

Muncul sebuah pertanyaan dalam benak saya, kenapa harus bentuk tubuh yang disesuaikan atau dirubah? Bukan tanpa resiko, tidak sedikit terjadi seorang penyandang cacat setelah menjalani operasi kondisinya tidak menjadi lebih baik. Disamping itu merubah kecacatan pada dasarnya berarti juga penghilangan identitas diri. Identitas yang merupakan anugrah dari Sang Pencipta. Kenapa penyesuaian tidak dilakukan pada benda atau peralatan disekitar kita? Bagaimana gelas dan sendok didesain sedemikian rupa sehingga dapat digunakan oleh saudara kita yang memiliki bentuk tangan berbeda. Atau kita mendesain kursi roda handy dan murah sehingga dapat dimanfaatkan oleh saudara kita yang kebetulan memiliki bentuk kaki berbeda. Jika konsep penyesuaian ini dibalik sedemikian rupa -menyesuaikan bentuk benda daripada bentuk manusia- ini dikembangkan, maka selain memacu kreatifitas kita, harkat kemanusiaan seorang penyandang cacat juga dapat terjaga.


Kecacatan adalah Karya Agung Tuhan

Pertama kali saya mendengar nama Romo Janssen ketika saya ditelepon oleh salah satu anggota tim penulis buku Alat Pilihan Tuhan. Awalnya saya hanya diajak konsultasi kemudian selanjutnya terjadi diskusi intens yang melibatkan saya dan tim penulis buku. Puncaknya saya diajak tim penulis buku untuk membantu membujuk Romo Janssen agar bersedia hadir dalam peluncuran serta bedah buku Alat pilihan Tuhan.

Pertemuan dengan Romo Janssen bagi saya merupakan anugrah. Saya melihat pandangan Romo atas penyandang cacat selain berbeda dengan pandangan masyarakat pada umumnya juga ada kesamaan visi apa yang selama ini saya perjuangkan. Akhirnya kesempatan tersebut benar-benar saya manfaatkan untuk menggali pemikiran Romo atas penyandang cacat yang kalau boleh saya golongkan sebagai pemikiran langka.

Romo Janssen di mata saya adalah sosok manusia yang sudah mampu memahami hakekat penciptaan manusia secara utuh. Hal ini dapat dilihat dari sikap serta cara pandang Romo terhadap anak-anak cacat. Romo sudah tidak lagi membedakan antara cacat maupun normal. Justeru di mata Romo kecacatan dilihat sebagai sesuatu yang agung yang terungkap dalam kata-kata beliau “ Ketika aku mencium pipi anak cacat, aku dicium Tuhan”.
Apa yang dilakukan Romo Janssen bertolak belakang dengan sikap dan prilaku masyarakat pada umumnya yang memandang penyandang cacat sebagai individu lemah dan tidak berdaya. Ketika masyarakat memandang kecacatan adalah aib yang harus disembunyikan, Romo Janssen justeru mengambil sikap hidup dan bergelut bersama dengan anak-anak cacat. Dalam visi karyanya Romo Janssen berusaha untuk mengembalikan harkat kemanusiaan penyandang cacat. Komitmen Romo Janssen untuk mengembalikan harkat kemanusian penyandang cacat terlihat pada sikap Romo yang sangat marah ketika ada beberapa kelompok yang datang ke panti dengan tujuan menyumbang dan kemudian mereka berpose bersama anak cacat seakan kelompok tersebut sudah berbuat baik. Romo Janssen menentang jika anak-anak cacat dijadikan kotak amal untuk tiket masuk surga.

Romo Janssen menurut saya memiliki pemikiran yang sangat maju dalam bidang kecacatan. Beberapa tahun yang lalu beliau sudah merintis adanya sekolah inklusi dengan dilatihnya beberapa siswa penyandang cacat Bakti Luhur untuk dapat masuk ke sekolah umum. Perkembangan paradigma tentang kecacatan di dunia kini sudah berubah dari yang mulanya Medical Model ke Social Model. Di mana paradigma Medical Model memandang dan memperlakukan penyandang cacat sebagai pasien, sehingga treatment yang berkembang adalah penyembuhan dan rehabilitasi medik. Sementara Social Model menekankan pada pemikiran bahwa kecacatan adalah sebuah realitas sosial. Penyandang cacat lahir dari masyarakat maka seharusnya mereka tetap hidup bersama masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat belajar hidup bersama masyarakat dan penyandang cacatpun dapat belajar untuk membangun kepercayaan dirinya untuk hidup bersama masyarakat. Tujuan akhir dari Social Model ini adalah terwujudnya tatanan masyarakat inklusi (inclusive society), dimana penyandang cacat dapat diterima dan hidup secara wajar bersama anggota masyarakat yang lain. Dan ini sudah dirintis oleh Romo Janssen dengan mengirim beberapa siswa cacat Bakti Luhur untuk mengikuti aktivitas belajar di sekolah reguler (umum).

Paradigma Social Model juga memandang kecacatan sebagai sebuah identitas diri seseorang. Ketika kecacatan pada seseorang ditolak dan dihilangkan maka sesungguhnya dia telah kehilangan identitasnya. Karya agung Tuhan tercermin pada diri setiap penyandang cacat (difabel), dimana dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya para penyandang cacat masih mampu menjalani kehidupan dengan caranya sendiri. Bahkan tidak jarang sebagian difabel mampu mengukir prestasi gemilang dalam kehidupannya dan mampu melebihi apa yang dilakukan oleh orang “normal”. Itu membuktikan bahwa Tuhan tidak sedang keterlenaan dalam mencipta difabel, Tuhan dalam ketersadaran penuh dalam mencipta semua karyanya termasuk difabel.

Manusia pada hakekatnya diciptakan pada kondisi yang paling sempurna. Kemudian Tuhan menjatuhkan sebagian dari mereka ke dalam jurang yang paling dalam. Kecuali mereka yang beriman dan mau berbuat kebajikan. Sehingga sebenarnya hakikat kemanusiaan ada pada keimanan dan amal baik. Jika seorang individu tidak mampu menjalankan dua misi tersebut maka dialah yang sebenarnya disebut penyandang cacat. Maka layak jika penyair agung Inggris Whillem Shakespear mengatakan, “ Tiada yang ternoda di dunia ini selain pikiran dan tak seorangpun boleh disebut cacat kecuali yang kejam.”

Makalah ini disajikan dalam rangka Peluncuran Buku Romo Janssen – Alat Pilihan Tuhan.
Universitas Katolik Widya Mandala- Surabaya , 27 Mei 2007

5 Comments »

  1. Cacat adalah musibah tinggal bagaimana kita menyikapi, hinaan, cemo’ohan, dan semua yang meyakitkan tidak juga mampir di diri kita, orang yang sehat walafiat tidak kurang suatu apa alias normal juga mengalami hal serupa cara dan waktunya saja yang berbeda, saya sendiri tidak cacat sejak lahir tapi virus polio menyerang saya yang tadinya normal sehingga menjadi cacat, semua itu ku anggap anugrah, walau tidak bisa dipungkiri sering hati kecil saya bergumam, kenapa saya harus cacat, saya bukan berasal dari keluarga berada dan mempunyai pendidikan yang tinggi semangat dan kerja kerja keras saya walaupun jauh dari namanya sukses dapat saya sukuri apalagi saya bersukur saya mempunya islam yang menuntun setiap langkahku, saya sangat bersukur dengan kepedulian mas membuat web ini, saya dapat bercerita ke sesama, yang paling ku sukuri orang-orang disekelilingku terus mensapot agak aku tidak kembali mundur, oke mas aku ada rencana mau buar web di web gratis nanti tilisan mas aka banyak aku ambil tanpa menghilangkan identitas pembuatnya, terimakasih.alamat e-mailku falit kok.

    Comment by aku — 11 June 2007 @ 11:40

  2. Well, kl kita memang tidak seharusnya disebut “tidak normal” alias cacat…lalu kenapa kita harus teriak2 berontak…toh kenyataannya kita adalah golongan minoritas yang hidup di tengah2 masyarakat yang menyebut dirinya “normal”. Berbesar hatilah menerima kenyataan bahwa: kita memang golongan “tidak normal”. Saya sendiri juga lahir normal…virus poliolah yang meninggalkan bekas di kaki kananku sehingga saya harus berjalan dengan “tidak normal” layaknya orang kebanyakan. Sejujurnya juga hal ini cukup ‘menggangguku’ dan jika diberi kesempatan untuk memilih… saya akan memilih masuk golongan “normal”. Penghalusan kata2
    dg istilah difabel terasa bagai sebuah ‘pembodohan’ dan ‘kemunafikan’ untuk ukuran telinga saya yang masih sangat udik. Maaf, untuk semua kaumku, terimalah kenyataan (walau pahit) bahwa kita memang golongan minoritas yang layak disebut “tidak normal”. Jika Anda ingin membalikkan istilah itu..bangunlah sebuah kota di bulan dimana kita menjadi golongan mayoritas yang berhak menyebut diri “normal”. Hingga suatu saat, saudaramu, ayahmu, ibumu, teman2mu yang datang berkunjung dari bumi…sesampainya di bulan akan kita kelompokkan dalam golongan “tidak normal”.
    Bravo!!! Life is so real!!! Apalah arti sebuah istilah…Shakespeare : “Apalah arti sebuah nama”. GBU ALL!!!

    Comment by lin — 12 July 2007 @ 16:49

  3. walau kita termasuk golongan “kurang” sempurna. Tapi, kita harus menunjukkan kepada dunia kalau kita juga bisa bermanfaat bagi orang lain.
    CATUK : CAcat Tubuhku Utuh Karyaku…

    NB: salam buat teman-teman PSBD suryatama bangil, Pasuruan

    alhakim

    Comment by alhakim — 24 August 2007 @ 06:30

  4. pada tanggal 24 agustus 2008 anak lahir di RS Al-Islam Bandung pada pukul 6.38 melalui persalinan sesar. sebelumnya sayang merangsa tegang sekali bahkan sekali-kali mataku berkaca-kaca. pada saat suster membaca bayi mungil dan menyebut nama istriku aku sempat kaget sampai aku dibawanya ke ruang khusus bayi. betapa shock kaget dan gemetar seluruh tubuhku ketika suster memperlihatkan semua bagian tubuh anakku, ternyata telinga sebelah kanannya berbentuk kecil dan terlipat menutupi lubang telinganya. Kasihan anakku.
    Beberapa saat setelah itu aku langsung bertemu dengan istriku di ruang “pasca operasi” tadinya aku tidak akan langsung menceritakan semua perihal tersebut, tapi aku tidak kuasa menahan perasaanku. aku langsung memeluk istriku sambil menangis dan mencerikannya.
    Aku dan istriku selalu membayangkan masa depan anakku nanti setelah besar dan mempunyai teman. Betapa sedihnya kami bila nanti banyak orang memandangi anakku saat kami jalan dan juga teman-temannya meledek, mencemoohnya.
    hari berganti hari, seminggu sudah anak lahir. perasaan itu sedikit demi sedikit aku hilangkan, aku dan istriku ingin sekali membahagiakan anakku agar bisa mempunyai ilmu dan derajat yang tinggi sehingga bisa mengangkat derajat dirinya dan keluarganya, semoga. AMIN
    Sekarang aku selalu berfikir positif mungkin Alloh menciptakan anakku dengan lahir tidak normal ada maksud lain yang kita semua tidak tahu, hanya Alloh yang tau akan maksudnya.
    Bangkitlah anakku, lawan semua cemoohan, cacian, dan makian dengan semangat tinggi untuk mengalahkan semua itu, untuk mencari jati diri yang lebih baik dari orang-orang normal.

    Comment by irvan — 6 September 2008 @ 08:44

  5. Cak Fu, terima kasih atas tulisan yang mencerahkan. Semua itu bukan karena belas kasihan, tetapi karena hak asasi manusia. Tentang Romo Janssen, meemang benar adanya. Saya agak ambil bagian atas karya yang dimulai dan terus diperjuangkannya, kendatipun banyak yang menyalah tafsirkan karya kemanusiaan tsb. Semoga kedepan orang-orang dengan kebutuhan khusus, makin dapat memperoleh hak-haknya. Selamat Menempuh Hidup Baru Cak Fuad, semoga berbahagia.

    Comment by Subasno — 14 August 2009 @ 14:51

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment