Мария 35 новосибирск знакомства Карта сайта Карта сайта Порнографические знакомства Карта сайта Карта сайта Эмо сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Знакомства тверская область конаково Карта сайта Карта сайта Цель знакомства виртуальный Карта сайта Карта сайта Сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Девушка знакомится первой Карта сайта Карта сайта Асд знакомства Карта сайта Карта сайта Знакомства луганск алчевск Карта сайта Карта сайта Правильное знакомство с девушками Карта сайта Карта сайта Вап майл знакомства Карта сайта Карта сайта Самый модный сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Знакомства саратов фото Карта сайта Карта сайта Знакомства г краматорск Карта сайта Карта сайта Сайт знакомств мамбо Карта сайта Карта сайта Знакомства с мужчинами в москве Карта сайта Карта сайта Секс порно ебля онлайн Карта сайта Карта сайта Секс знакомства урюпинск Карта сайта Карта сайта Сайт знакомства тирасполь Карта сайта Карта сайта
Posted by cakfu @ 02:31 on September 20th 2007

Menembus Keterbatasan

Hebat ya…meskipun cacat, tapi Fuad dapat melanjutkan study hingga Master di luar negeri”. Komentar ini banyak saya dengar dari beberapa orang baik secara tidak langsung maupun secara langsung yang diutarakan kepada saya. Biasanya saya mengomentari dengan santai,”ah..nggak juga, karena untuk mendapat Master tidak ada kaitannya dengan kondisi fisik saya yang difabel, saya hanya difabel kaki dan organ lain tubuh saya berfungsi normal. Sehingga tidak berpengaruh banyak pada kemampuan saya untuk melakukan aktivitas akademik”. Kemudian saya selalu menimpali komentar tersebut dengan sedikit humor,”saya baru merasa hebat jika saya menjadi bintang sepak bola club favourit Inggris”.

Banyak orang memandang dan sekaligus berkeyakinan bahwa cacat atau difabel adalah hambatan atau minimal keadaan yang tidak mengenakkan bagi yang menyandangnya. Memang pandangan umum tersebut kebanyakan diungkapkan oleh orang yang tidak mengalami kondisi difabel. Tapi apakah benar difabel atau cacat tersebut merupakan kondisi yang tidak mengenakkan? Nah ini tergantung pada individu difabel sendiri yang memandangnya. Dan cara pandang individu difabel tersebut sangat dipengaruhi oleh pola asuh difabel pada masa kecil di lingkungan keluarganya. Sebagian keluarga sangat over protective terhadap anak mereka yang difabel, namun ada pula keluarga yang memperlakukan anak difabel mereka secara wajar sebagaimana memperlakukan anak mereka yang lainnya.

Kebetulan saya dilahirkan dalam keluarga yang tidak begitu protective terhadap kondisi fisik saya yang difabel, meskipun saya tidak dapat mengatakan bahwa orang tua saya lepas begitu saja terhadap aktivitas keseharian saya. Dalam beberapa hal memang orang tua saya masih membantu untuk beberapa aktivitas keseharian saya yang menurut mereka berat untuk saya lakukan misalnya; menimba air dari sumur, menjemur pakaian, mengangkat air, dan aktivitas lain yang dianggap saya tidak mampu melakukannya. Namun untuk hal lain misalnya mencuci baju dan menyelesaikan tugas pribadi keseharian orang tua saya membiarkan saya melakukannya dengan cara saya sendiri. Bahkan dalam hal sikap dan perlakuan orang tua saya tidak membedakan saya dengan kedua adik saya. Ketika saya melakukan kesalahan, maka saya akan menerima hukuman sebagaimana adik saya menerima hukuman dan ketika saya melakukan hal yang baik maka tak segan orang tua saya memberikan hadiah atau pujian secara sewajarnya. Singkatnya kehidupan kanak-kanak saya tidak jauh berbeda dengan kehidupan anak-anak yang lainnya. Jadi saya sangat beruntung karena dapat menikmati masa kanak-kanak secara wajar.

Saya merasa bahwa kondisi tersebut yang mungkin banyak berkontribusi pada pertumbuhan rasa kepercayaan diri yang saya miliki. Seringkali saya merasa bukan sebagai difabel, dan saya yakin hal ini juga dirasakan oleh banyak teman-teman yang kebetulan juga mengalami difabel. Hal ini yang saya sebut sebagai bentuk penerimaan diri (self-acceptance) terhadap kondisi fisik yang menurut orang lain tidak menguntungkan. Namun proses penerimaan diri yang saya miliki hingga menumbuhkan rasa percaya diri bukanlah sebuah hasil instant.
Awal mulanya ketika masa kanak-kanak, memang ada penolakan meskipun tidak terlalu ekstrim terhadap kondisi fisik saya. Hal tersebut sering saya ekspresikan dalam bentuk protes terhadap perintah orang tua. Ketika itu saya berfikir, saya dan adik saya dilahirkan dari seorang ibu yang sama tapi kenapa saya berbeda. Proses penolakan ini terus terjadi hingga saya menginjak usia 15 tahun. Pada usia tersebut saya mulai mengalami perubahan cara pandang, dimana saya melihat bahwa kondisi difabel yang saya alami merupakan taqdir atau kehendak Tuhan yang harus saya terima dan tidak dapat saya tolak. Namun, penerimaan diri tersebut tidak berhenti hingga di situ. Secara spiritual saya selalu berproses untuk menemukan sebuah jawaban “kenapa saya harus terlahir sebagai difabel”.

Pada usia 17 an tahun saya mulai memasuki dunia sebuah pesantren di Jombang. Di situ saya tidak hanya belajar tentang agama namun juga belajar tentang bagaimana hidup mandiri. Nah di pesantren tersebut saya mulai belajar untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang menggelitik tersebut. Memang jawaban yang saya temukan tidak begitu serta merta, namun melalui sesuatu yang saya sebut sebagai dialog bathin. Dimana saya selalu melakukan perenungan atas kejadian yang saya alami dan berusaha membaca hikmah di balik kejadian tersebut. Pada akhirnya saya menemukan bahwa menjadi seorang difabel itu bukan sekedar menjalankan taqdir, namun lebih merupakan menjalankan amanah. Karena saya yakin dan sadar bahwa Tuhan pasti menciptakan semua mahluknya dengan ketersadaran penuh. Sehingga pandangan saya berubah atas kondisi fisik yang saya miliki. Menjadi seorang difabel hanyalah sebuah peran, sebagaimana banyak orang yang memiliki rambut kriting, kulit hitam, atau lainnya. Karena itu tak pantas jika saya selalu meratapi kondisi fisik yang saya miliki.Mensyukuri untuk kemudian memetakan kelebihan yang ada pada diri saya dan selanjutnya memaksimalkannya demi kemaslahatan hidup akan membuat diri ini lebih bermakna.

Satu kunci yang harus dimiliki oleh seorang difabel untuk dapat menjadi sukses dalam hidupnya adalah; menerima dan memaafkan kondisi difabel yang dimilikinya untuk kemudian keluar dari dirinya sendiri dan melakukan hal yang positif dalam kehidupan. Maka kita akan menemukan bahwa difabel itu hanyalah sekedar identitas dan yang jelas hidup akan menjadi ringan untuk dijalankan karena setiap langkah kita akan dihiasi oleh kebermaknaan.

6 Comments »

  1. Sesungguhnya, Cak Fu bukanlah orang cacat. Sejujurnya, CakFu adalah seorang pribadi, sahabat, teman belajar yang utuh buat saya. Sejujurnya pula, Cak Fu dan saya hanyalah memiliki sedikit perbedaan dalam kemampuan berjalan dengan kaki, kemampuan menaiki tangga masjid yang berlapis-lapis. Selebihnya adalah perbedaan relatif yang dalam proses waktu bisa berubah tanpa harus diperkirakan: selera bacaan, kebiasaan mengisi waktu luang, jenis rasa makanan kesukaan, kesanggupan berpikir, mengambil keputusan, membuat pilihan dsb.

    Sedikit perbedaan dalam kemampuan menaiki tangga masjid yang berlapis-lapis itulah yang menyebabkan saya dan Cak Fu saling membantu ketika hendak menjalankan shalat bersama di masjid Syuhada Jogja, beberapa tahun yang lalu. Pada saat shalat, juga hanya ada sedikit perbedaan dimana CakFu menjalankan shalat sebagai orang muslim, sementara saya menjalankan shalat yang sama namun sebagai orang katholik. Imamnya adalah Pak Mul yang sehari-hari bertanggungjawab berat sebagai sopir kantor. Ini ingatan yang indah bersama Cak Fu pada masa itu, sebelum akhirnya meninggalkan Jogja dan meluncur ke negeri Belanda.

    Menembus keterbatasan adalah tanggungjawab dan tantangan setiap orang, karena setiap orang selalu saja memiliki keterbatasan. Yang seringkali membedakan adalah bagaimana kegigihan setiap orang dalam menembus keterbatasan itu.

    Tetapi sekarang ini saya mengamini bahwa sebagaian besar rakyat harus menanggung derita, kemiskinan, terpinggir, tanpa jaminan, rentan terhadap gusuran, tak bisa bayar biaya pendidikan dan kesehatan. Itu disebabkan oleh ulah orang-orang cacat, yakni mereka yang jahat yang suka merampas hak-hak rakyat.

    Salam hangat buatmu Cak Fu

    Comment by Indro Suprobo — 21 September 2007 @ 12:49

  2. Mari kita berkenalan Cak Fu,saya juga seorang pria difabel, 2kaki saya lumpuh karena sewaktu kecil saya terserang penyakit polio.Sekarang kaki saya sudah dipasang brace dan berjalan dengan menggunakan walker.
    Hidup saya biasa2 saja,soalnya dari kecil sudah seperti orang ga difabel, saya bergaul, bermain-main dengan teman2 seperti anak normal lain.Lucunya lagi saya bisa bermain apa saja loh, seperti main kelereng, main layangan, pernah main sepakbola juga tapi cuma boleh jadi kiper ha5.Teman2 suka main dengan saya,sering ajak saya main dan pergi kemana-mana.Saya juga sekolah dan kuliah seperti orang normal lain.
    Sewaktu kelas 1 SLTP saya udah mulai ngajar gratis,terutama teman2 adik saya yang sering berkunjung ke rumah.Kelas 2 SMU saya da benar2 ngjar les di rumah sampai sekarang.
    Saya teringat sewaktu saya duduk di SMU sebenarnya saya ingin memilih jurusan IPS karena pada saat itu saya berpikir kondisi saya akan menjadi kendala jika saya masuk jurusan IPA terutama kegiatan praktikum, tetapi tidak dikabulkan walikelas saya.Bahkan beliau pernah memberi kesempatan beberapa hari untuk mencoba belajar di kelas IPS, ternyata guru saya itu benar,saya tidak betah di kelas IPS karena terlalu ribut,ga ada konsentrasi untuk belajar.Akhirnya saya masuk jurusan IPA, ga ada kendala sama sekali,semua berjalan seperti biasa.Sampai sekarang saya sudah menikah dan dikarunia 2 orang putra yang sehat mental dan fisik.Saya kira teman baru Cak Fu adalah orang hebat dan tidak difabel sama sekali.Selamat berjuang terus,orang2 seperti kita akan dapat mengubah kekurangan menjadi kelebihan.Semoga.

    Comment by Yung Mau Lim — 23 September 2007 @ 17:59

  3. Assalamualaikum…
    saya baru menemukan web ini.terima kasih atas banyaknya motivasi yang tidak ternilai bwt saya.saya seorang yg juga difable..saat ini saya sedang sekolah di Fak.Kedokteran di cimahi..do`akan lancar yaaa..mudah2an bisa ikut membantu menjadi dokter pribadi para difable…he2…semangattttt!!!!!Hiduplah untuk Alloh SWT..dan kita tidak akan merasa berat..insya Alloh..

    Comment by desi — 11 December 2007 @ 11:44

  4. Terimakasih untuk semua teman yang telah memberi comment pada tulisan-tulisan di cakfu.info Maaf saya tidak dapat membalas keseluruhan comment dikarenakan keterbatasan akses internet yang saya miliki.

    Salam

    Cak Fu

    Comment by Administrator — 12 January 2008 @ 22:11

  5. semoga tulisan ini bisa meningkatkan motivasi bagi penyandang difabel yang laen untuk menatap masa depan dan mencari inti&makna hidup…. amien… ym: mas_tulus_bp@yahoo.com

    Comment by Tulus Budi — 10 March 2008 @ 16:14

  6. subhanallah…membaca tulisan2 cakfu saya jadi lebih bersyukur bahwa Allah sayang pada kita semua…….doa saya untuk semua

    Comment by marina artiyasa — 12 August 2008 @ 14:53

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment