Posted by cakfu @ 12:02 on October 28th 2007
The collapse of WTC in New York could be seen by every people in the world. Children in remote area of Indonesia could see the kissing of Madona and Britney Spears. That is globalization. Globalization is not only an issue but also a reality that cannot be ignored by every body. Like virus, globalization spread easily and speedily trough every part of the world. It is difficult to answer when actually globalization was started. In reality, globalization has influenced – sometimes has changed – culture and also tradition in society. Some societies do not take granted the globalization, but they tray to negotiate with globalization.
Basically, globalization is not a recent phenomenon. It has happened since Western people went to Asia and Africa. Western people have brought several parts of their culture to non-Western through military forces in the past, but now information technology has played a main role in this part. As if there is no border between West and non- West; everything is similar. Today people both in the East and in the West experience the same thing. Mc. Donald, Coca Cola can be enjoyed in the East and also in West at the same time. Moreover, mass media such as television, radio, news paper, and internet have supported globalization to be main actor in society.
(more…)
Posted by cakfu @ 21:20 on October 24th 2007
Ini adalah petikan wawancara saudari Woro Harkandi Kencana (Mahasiswi S1 Ekstensi Jurusan Komunikasi Massa FISIP Universitas Indonesia) dengan Cak Fu dalam rangka menyelesaikan Tugas Skripsi KOMODIFIKASI PENYANDANG CACAT (DIFABLE PERSON) PADA TAYANGAN YANG MENGANGKAT PENDERITAAN MANUSIA. Selama ini media telah mengekplorasi difabel dengan kepentingan kapitalisme. Salah satu contoh adalah tayangan sinetron yang mengangkat peran difabel dengan tujuan menguras air mata dan mengharu – birukan penonton.
(more…)
Posted by cakfu @ 02:31 on October 9th 2007
Beberapa waktu yang lalu saat ngobrol santai, seorang sahabat menawari saya untuk operasi kaki saya. Dia kelihatan sangat serius dan berusaha meyakinkan saya bahwa operasi tersebut dapat membantu saya untuk lebih leluasa dalam melakukan aktivitas. Bahkan dia berjanji bersedia untuk membiayai operasi untuk kaki saya tersebut. Untuk meyakinkan saya dia juga mengambil contoh bahwa teman dekatnya dulu yang difabel juga pernah menjalani operasi pada kakinya dan berhasil.
Saya terus terang merasa terharu dengan tawaran sahabat saya tersebut. Sepertinya dia punya harapan bahwa dengan ”sembuhnya” kaki kiri saya maka segala potensi yang ada pada diri saya akan dapat dimaksimalkan. Mungkin hal tersebut ada benarnya dan saya juga setuju bahwa dengan berubahnya bentuk kaki saya, maka gerak saya akan menjadi lebih leluasa. Namun jelas ada sesuatu yang akan hilang dari diri saya ketika kondisi tubuh saya berubah paska operasi. Satu hal, yang jelas saya tidak lagi memiliki predikat difabel. Lebih dari itu, saya akan kehilangan pengalaman spiritual yang menakjubkan ketika menyandang predikat sebagai seorang difabel. Itulah yang mungkin tidak terpikirkan oleh sahabat terbaik saya, ketika dia menawari saya operasi.
(more…)