Мария 35 новосибирск знакомства Карта сайта Карта сайта Порнографические знакомства Карта сайта Карта сайта Эмо сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Знакомства тверская область конаково Карта сайта Карта сайта Цель знакомства виртуальный Карта сайта Карта сайта Сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Девушка знакомится первой Карта сайта Карта сайта Асд знакомства Карта сайта Карта сайта Знакомства луганск алчевск Карта сайта Карта сайта Правильное знакомство с девушками Карта сайта Карта сайта Вап майл знакомства Карта сайта Карта сайта Самый модный сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Знакомства саратов фото Карта сайта Карта сайта Знакомства г краматорск Карта сайта Карта сайта Сайт знакомств мамбо Карта сайта Карта сайта Знакомства с мужчинами в москве Карта сайта Карта сайта Секс порно ебля онлайн Карта сайта Карта сайта Секс знакомства урюпинск Карта сайта Карта сайта Сайт знакомства тирасполь Карта сайта Карта сайта
Posted by cakfu @ 02:31 on October 9th 2007

Menjadi Difabel dan Misi Kenabian

Beberapa waktu yang lalu saat ngobrol santai, seorang sahabat menawari saya untuk operasi kaki saya. Dia kelihatan sangat serius dan berusaha meyakinkan saya bahwa operasi tersebut dapat membantu saya untuk lebih leluasa dalam melakukan aktivitas. Bahkan dia berjanji bersedia untuk membiayai operasi untuk kaki saya tersebut. Untuk meyakinkan saya dia juga mengambil contoh bahwa teman dekatnya dulu yang difabel juga pernah menjalani operasi pada kakinya dan berhasil.

Saya terus terang merasa terharu dengan tawaran sahabat saya tersebut. Sepertinya dia punya harapan bahwa dengan ”sembuhnya” kaki kiri saya maka segala potensi yang ada pada diri saya akan dapat dimaksimalkan. Mungkin hal tersebut ada benarnya dan saya juga setuju bahwa dengan berubahnya bentuk kaki saya, maka gerak saya akan menjadi lebih leluasa. Namun jelas ada sesuatu yang akan hilang dari diri saya ketika kondisi tubuh saya berubah paska operasi. Satu hal, yang jelas saya tidak lagi memiliki predikat difabel. Lebih dari itu, saya akan kehilangan pengalaman spiritual yang menakjubkan ketika menyandang predikat sebagai seorang difabel. Itulah yang mungkin tidak terpikirkan oleh sahabat terbaik saya, ketika dia menawari saya operasi.

Menjadi seorang difabel, bagi saya bukan saja sekedar memiliki pengalaman berbeda secara fisik namun yang lebih penting adalah pengalaman spiritual sepanjang perjalanan menjadi seorang difabel. Ketika masa kanak-kanak, saya pernah iri dengan adik kandung saya. Saat itu saya bertanya dalam hati kenapa saya dilahirkan berbeda dengan adik saya, padahal saya terlahir dari ibu yang sama. Kemudian hal itu berpengaruh secara psikologis terhadap sikap dan prilaku saya baik kepada adik kandung saya maupun kedua orang tua saya. Saya merasa orang tua saya memperlakukan saya berbeda dengan adik saya. Namun nyatanya jelas tidak, orang tua saya jelas tidak akan membedakan kedua anaknya yang telah dilahirkannya. Namun kondisi psikologis tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kondisi fisik saya. Artinya saat itu saya telah dapat merasakan bagaimana masyarakat mengkonstruksikan bahwa cacat atau difabel adalah sebuah aib. Sehingga hal tersebut membuat saya menjadi rendah diri dan merasa tersisih. Namun perasaan tersebut muncul kadang kala, karena dilain kesempatan saya dapat menjadi sangat percaya diri. Saat masa kanak-kanak saya sering bermain bola dan petak umpet dengan teman-teman sebaya. Dan saya beruntung kawan-kawan saya menerima keberadaan saya secara wajar saat itu. Sehingga membantu saya untuk membangun rasa percaya diri.

Proses penerimaan diri atas kondisi fisik saya terus berlangsung dan pergulatan spiritual dalam jiwa saya terus bergejolak. Dimana saat remaja saya pernah mempertanyakan tentang keadilan Tuhan serta proses penciptaan. Saat itu saya berfikir bahwa Tuhan telah berlaku tidak adil terhadap semua manusia yang terlahirkan cacat (difabel). Karena kami para difabel bukan hanya mengalami diskriminasi secara fisik, namun juga secara sosial kami menerima cap bahwa difabel adalah sebuah aib,individu yang tidak sempurna. Disaat yang sama saya juga mempertanyakan atas proses penciptaan. Hal ini berangkat dari ungkapan umum di masyarakat bahwa difabel adalah individu yang tidak sempurna. Sehingga secara logika saat itu saya berfikir bagaimana Tuhan yang Maha Sempurna menciptakan mahluk dengan tidak sempurna. Apakah Tuhan sedang melakukan kesalahan dalam penciptaan? Mulai saat itu saya terus berusaha mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Waktu itu saya putuskan untuk mendaftarkan diri ke sebuah pesantren di Jombang dengan harapan saya akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut yang saya pikir sangat erat kaitannya dengan teologi (aqidah).

Dalam perjalanannya memang saya tidak menemukan jawaban secara langsung. Namun jawaban tersebut justeru saya dapatkan dari permenungan-permenungan selama di pesantren. Dan selain itu pertanyaan tersebut terjawab ketika saya menemukan banyak hal yang saya dapatkan justeru karena saya difabel, misalnya ketika saya aktif di gerakan difabel sejak tahun 1996-an saya mendapatkan banyak teman dan relkasi yang mungkin tidak akan pernah saya dapatkan seandainya saya tidak difabel. Termasuk saya menerima penghargaan beasiswa, dimana salah satu faktornya karena saya adalah seorang difabel.

Pergulatan spiritual sangat panjang tersebut ternyata telah merubah sikap saya terhadap keberadaan kondisi fisik saya dari menolak menjadi menerima dan bahkan mensyukurinya bahwa saya terlahir menjadi seorang difabel. Bagi saya sekarang, menjadi seorang difabel bukan hanya sekedar berbeda secara fisik namun menjadi difabel adalah sebuah pilihan hidup dan sekaligus tugas hidup. Karena sebenarnya hidup itu sendiri adalah sebuah Amanah agung dari Tuhan, dan kita sebagai manusia punya tugas untuk menjalankan Amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Menjadi difabel hanyalah sebuah peran, sebagaimana orang lain juga memiliki peran yang sama meski dalam bentuk yang berbeda.

Nah, sekarang tinggal bagaimana kita sebagai difabel mampu menjadi individu yang inspiratif bagi manusia lain dengan cara hidup secara wajar dan penuh rasa syukur. Sebagaimana para nabi yang senantiasa mengajak para umat manusia untuk memahami hakekat dan tujuan hidup di dunia. Silakan Anda berbangga karena Anda telah dipilih Tuhan menjadi bagian dari ayat-ayat Nya yang tersirat. Wallahu’alam bishshawaab.

1 Comment »

  1. saya sangat setuju dengan pernyataan cak Fu bahwa hidup adalah sebuah pilihan dan tugas. menjadi seorang difabel bukanlah sebuah aib atau kutukan yang harus disesali. tapi menjadi difabel adalah sebuah pilihan,sebaik2 pilihan adalah memilih yang terbaik. kita menjadi berbeda bukanlah suatu keanehan. tapi akan membuat hidup lebih bervariasi dan berwarna. kita harus bangga karena apa yang kita miliki belum tentu mereka miliki,dan yang mereka miliki belum tentu juga kita miliki. so kita akan saling melengkapi dalam hidup ini. kita harus percaya diri karena dengan memiliki rasa percaya diri maka diri kita akan lebih dapat menggali potensi dari dan lebih dapat berkembang…..

    Comment by nur syamsiah — 11 February 2010 @ 06:48

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment