Pandang Difabel secara Wajar
Ini adalah petikan wawancara saudari Woro Harkandi Kencana (Mahasiswi S1 Ekstensi Jurusan Komunikasi Massa FISIP Universitas Indonesia) dengan Cak Fu dalam rangka menyelesaikan Tugas Skripsi KOMODIFIKASI PENYANDANG CACAT (DIFABLE PERSON) PADA TAYANGAN YANG MENGANGKAT PENDERITAAN MANUSIA. Selama ini media telah mengekplorasi difabel dengan kepentingan kapitalisme. Salah satu contoh adalah tayangan sinetron yang mengangkat peran difabel dengan tujuan menguras air mata dan mengharu – birukan penonton.
Bagaiamana anda mengistilahkan keadaan yang anda
alami?
Sebenarnya saya juga tidak punya istilah khusus tentang keadaan saya. Memang orang lain menyebut saya sebagai penyandang cacat atau difabel. Tapi jujur saya tidak punya istilah apapun untuk keadaan saya, karena saya lebih sering merasa tidak terbelenggu atau terganggu dengan keadaan saya.
Apakah itu berati istilah yang anda gunakan adalah
bagian dari jati diri anda ?
Memang saya merasa bahwa fisik saya berbeda dengan orang pada umumnya, tapi saya tidak punya istilah khusus untuk keadaan saya ini. Iya, keadaan saya yang berbeda ini adalah bagian dari jati diri saya. Dan saya bangga dengan keadaan saya ini.
Bagaiamana anda menjalani kehidupan anda?
Saya menjalani kehidupan saya dengan wajar. Sejak masa kecil saya sudah terbiasa bermain dengan teman sejawat. Bagi saya biasa main sepak bola di masa kecil, main gobag sodor, kasti, dan permaian anak-anak lainnya. Dan Alhamdulillah saat itu teman sejawat menerima saya dengan wajar.
Saya selama ini menjalani kehidupan sebagaimana orang lain atau anda jalani. Saya kadang juga sedih menangis, bahagia,atau kadang tertawa terbahak-bahak ketika ada sesuatu yang lucu.
Saya lebih melihat dan menyikapi kehidupan ini sebagai amanah dan sekaligus anugrah dari Allah. Amanah berarti saya harus menjalankan peran hidup ini termasuk memiliki keadaan fisik yang berbeda ini dengan sebaik-baiknya, dan Anugrah berarti senantiasa mensyukuri hidup dan kehidupan dengan cara mengoptimalkan waktu, ketrampilan, dan pengetahuan untuk perbaikan tata kehidupan baik untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain.
Bagaimana anda menanggapi segala bentuk perlakuan
yang diberikan orang disekitar anda ?
Saya menyikapinya dengan tenang dan wajar. Saya sadar bahwa masyarakat masih belum paham soal difabel. Sebagian mereka ada yang memperlakukan saya dengan penuh kasihan secara berlebihan dan ada juga yang diskriminatif. Tapi semua saya sikpi dengan penuh kesadaran.
Menurut pandangan anda bagaimana penilaian
masyarakat terhadap keberadaan difable person saat ini?
Menurut saya ada 4 penilaian umum di masyarakat terhadap difabel:
1. Masyarakat yang menilai difabel sebagai korban kontruksi social. Kebanyakan dari mereka adalah para cendikia yang kritis dan pro egaliter.
2. Masyarakat yang menilai bahwa difabel adalah kutukan Tuhan sebagai akibat perbuatan dosa seseorang. Kebanyakan dari kelompok ini adalah para agamawan ortodok dan konservatif.
3. Masyarakat yang mengasihani difabel. Sehingga sikap dan prilakunya lebih berbentuk charity yang didasaarkan pada rasa belas kasihan.
4. Masyarakat yang melihat difabel sebagai orang sakit. Ini adalah mereka yang dipengaruhi oleh cara pandang medik. Sehingga mereka selalu berusaha untuk menghilangkan kondisi difabel dengan cara usaha penyembuhan secara medik.
Menurut anda bagaimana media merepresentasikan
keberadaan masyarakat difable person khususnya dalam
tayangan televisi?
Saya melihat media masih mewakili cara pandang umum masyarakat kita terhadap keberadaan komunitas difabel. Ada beberapa sinetron yang menayangkan adegan difabel hanya untuk menguras air mata dan membuat haru biru para penonton. Belum ada yang menampilkan difabel sebagai sosok yang wajar. Itu saja…
Maaf, adakah dalam tayangan mengenai difable
person di media ada hal yang membuat anda tidak dapat
menerima realitas yang dihadirkan?
Ya itu tadi, media lebih mengeksplore difabel hanya untuk menguras air mata atau mengharu birukan penonton. Kalaupun ada yang lain, melihat keberhasilan seorang difabel sebagai sesuatu yang luar biasa dan heroic. Padahal difabel itu ya orang biasa, yang bisa salah dan berbuat jahat.
Menurut anda seharusnya bagaimana difable person
ditampilkan dalam media?
Ya ditampilkan sewajarnya sajalah. Kalaupun ada hal baik yang dapat menginspirasi seseorang ya ditampilkan secara proprsional.

Hebat Cak, Semoga semua tulisan tulisan yang ada di blok ini bisa menjadi media pembelajaran yang efektif bagi bangsa ini untuk bisa memiliki cara pandang yang beda terhadap dunia kedifabelan, sekaligus tergerak hatinya untuk ikut berusaha menjadikan isu kedifabelan menjadi isu sosial yang segala permasalahannya juga merupakan permasalahan seluruh bangsa dan negara ini. Amin ya robbal `alamin
Comment by Aulia Amin — 17 August 2010 @ 21:05