SERIBU MATA
Pada jam 3.30 tiba-tiba telepon berdering nyaring. Daslan bergegas bangun sambil mengucek-ucek matanya yang masih mengantuk. Tidak biasa telepon berdering sepagi ini.
“Ayah meninggal, cepat pulang!.Pemakaman hari ini jam satu siang!”, terdengar suara dari seberang telepon. Suara itu sudah tiga ahun tidak terdengar lagi. Kini tiba-tiba suara itu memenuhi seluruh ruang telinganya. Tidak ada yang berubah dalam nada suara itu. Masih tetap tegas, apa adanya,dan seperti ada jarak yang tidak diketahui berapa jauhnya. Daslan tidak mengetahui secara persis apa yang sebenarnya dirasakan, sedihkah?Gembirakah? Tak tahu! Tapi nada dari seberang telepon itu masih terngiang-ngiang dan mengingatkan Daslan pada sepasang mata yang menatapnya tanpa rasa persahabatan. Selanjutnya nada suara itu juga mengingatkan kepada pasangan-pasangan mata yang lain yang menatapnya dengan seribu wajah.
Daslan membangunkan Darmi isterinya yang masih juga mengantuk.
“Ayah meninggal. Kita mesti pulang. Pemakaman siang nanti”, kata Daslan sambil melipat selimut tebal. Keduanya lalu bangun dan bergegas menyiapkan pakaian serta barang yang harus dibawa.. Paling tidak mereka harus tinggal selama tiga hari di rumah ayahnya di desa Karangkobar.
Jam lima pagi itu Daslan dan Darmi sudah berangkat dengan mobil mereka. Perjalanan menuju ke Karangkobar memakan waktu sekitar empat sampai lima jam. Kalau lancer kira-kira jam sembilan pagi mereka sudah sampai. Mereka hanya berdua di mobil itu. Selama tiga tahun menikah, mereka belum juga dikaruniai anak. Padahal dokter menyatakan bahwa mereka sehat dan subur.
“Tidak usah ngebut mas, kita masih sedikit mengantuk”,tegur isterinya mengingatkan. Daslan lalu memperlambat laju mobilnya.
“Kita tidak perlu lama-lama di sana ya. Tiga hari saja cukup, sampai selamatan tiga hari. Aku tidak lagi mau berdebat dengan mereka”, kata Daslan kepada isterinya.
Darmi tidak menjawab. Ia memahami kata-kata suaminya dengan baik. Ia sangat mengerti bagaimana saudara-saudara iparnya bersikap terhadap suaminya dan dirinya. Pernikahan mereka tidak disetujui oleh seluruh saudara suaminya. Hanya ayah Daslan yang merestui perkawinan mereka. Ibu Daslan sudah meninggal dua tahun sebelum mereka menikah. Darmi masih sangat teringat bagaimana Daslan suaminya pada saat itu berdebat dengan saudara-saudaranya agar bisa menikah dengannya.
Sambil menyetir, Daslan membayangkan seribu pasang mata dari seribu macam wajah yang dulu pernah dihadapinya dan siang nanti pasti akan dihadapinya kembali. Daslan menyadari bahwa sampai sekarang ini, semua saudaranya tidak menyetujui perkawinannya dengan Darmi.Satu-satunya alasan mereka adalah karena Darmi tidak dapat melihat alias buta sejak lahir.
“Apakah kamu pikir, kamu itu seorang pahlawan sehingga mau menikahi perempuan buta?”, tanya mas Margono kakak sulung.
“Mbok dipikir lagi secara lebih matang. Apakah kamu nanti tidak repot punya istri yang begitu karena kamu harus menuntun ke mana-mana. Aku pikir kamu belum matang berfikir”, begitu kata mbakyu Tatik yang gayanya seperti orang bijaksana tapi kata-katanya pedas.
“Mbok wis mas Das, cari yang lain yang normal-normal saja, tidak perlu aneh-aneh. Apa kata orng nanti kalau menantunya keluarga Reksapandaya adalah perempuan cacat”,itu kata si Saptono adik ragilnya yang memang seneng gengsi.
Sementara ayahnya, Reksapandaya yang hari ini meninggal dan akan dimakamkan siang nanti tidak banyak bicara pada saat rembugan keluarga. Ia lebih suka mendengarkan anaknya berbicara terlebih dahulu bahkan dari mereka sampai ada yang menangis. Dialah satu-satunya orang dalam keluarga yang merestui perkawinannya.
“Sebaiknya kita mampir makan di warung pinggir jalan mas. Nanti kita di sana tidak punya waktu lagi”,kata Darmi memecahkan pikirannya. Daslan menyetujui usul istrinya. Mereka makan di warung pinggir jalan. Seperti biasa Daslan membukakan pintu, lalu tangan kanannya menyenggol tangan kiri Darmi sebagai tanda dia siap untuk menuntun istrinya. Selanjutnya Darmi langsung menggapin lengan suaminya dan berjalan menuju warung.
Beberapa pasang mata mencuri pandang memperhatikan mereka. Daslan sudah terbiasa juga dengan pasangan-pasangan mata mata semacam itu. Setiap kali pergi bersama istrinya Daslan selalu menjumpai pasangan mata yang menatapnya dengan seribu macam ekspresi. Dulu setelah menikah, semasa masih tinggal di Karangkobar, Daslan juga menghadapi sepasang mata yang memperhatikannya seyiap kali ia keluar rumah dengan istrinya. Pada awalnya ia merasa sangat marah seakan ia dan istrinya merupakan orang yang paling aneh di dunia. Lama-lama Daslan terbiasa dengan tatapan seribu pasang mata tersebut.
Selesai makan mereka berangkat lagi supaya tidak kesiangan. Di mobil Darmi lebih banyak tidur dan sesekali bangun menanyakan sampai di mana. Daslan membangunkan Darmi ketika sudah memasuki gerbang desa. Tampak dari kejauhan bensera putih di tiang depan sebuah rumah. Dan beberapa kursi besi warna hijau tertata berderet rapi di halaman rumah.dan beberapa kali mereka berpapasan dengan para pelayat. Ada yang menyapa dengan ramah namun ada juga yang mencuri pandang seperti ada rasa sungkan melihat Daslan dan Darmi berjalan menuju rumah orang tuanya setelah keluar dari mobil.
Di ruang tengah jenazah ayahnya terbaring diam dalam keheningan yang tiada tara. Semua saudaranya berkumpul mengelilingi jenazah ayahnya, ada yang duduk dan ada pula yang berdiri.Daslan dan Darmi menyalami mereka satu per satu. Mata mereka masih menyimpan suasana yang sama seperti dulu.
Daslan menatap wajah ayahnya yang terbaring. Matanya tertutup rapat. Sama seperti mata isterinya yang tertutup rapat.Tiba-tiba ia menangis dan seperti tak kuasa membendung derai air mata. Ia merasa sangat kehilangan karena tak bisa lagi melihat sepasang mata yang memandangnya berbeda. Mata yang tertutup itu dulu menatapnya tajam dalam kelembutan dan keheningan. Sepasang mata itu dulu yang menatapnya penuh persetujuan dan pengertian. Sepasang mata itu mampu menggantikan serbu pasang mata yang menatap dirinya. Sepasang mata itu dulu yang menatapnya sambil berkata,”Daslan, semua saudaramu telah melihatmu dengan sepasang mata yang mereka miliki. Tetapi aku juga melihat bahwa Darmi telah melihatmu dengan seribu pasang mata yang ada dalam dirinya, karena seribu pasang mata yang ada pada dirinya berbeda dengan sepasang mata yang ada pada wajah saudara-saudaramu. Oleh karena itu aku mengerti dan sangat menghargai pilihanmu”.
Daslan tetap menangis mengiringi dikuburnya jenasah ayahnya. Sepasang mata ayahnya itu kini telah menjadi seribu pasang mata yang ada pada diri dan istrinya.
*Cerpen ini ditulis oleh Indro Suprobo, di Majalah Gemma Edisi 9 Th.III Maret – Mei 2002 Terbitan USC Satunama Yogyakarta.
