Posted by cakfu @ 16:38 on January 4th 2008

DIFABEL

Sekarang ini telah banyak orang menggunakan kata difabel sebagai kata gabti untuk sebutan penyandang cacat. Bahkan Harian Kompas telah menggunakan kata difabel sebagai kata resmi dalam setiap tulisannya. Namun tak banyak orang tahu kapan dan bagaimana kata difabel itu muncul. Kata difabel ternyata pertama kali muncul bukan dari sebuah seminar atau symposium nasional, namun hasil dari obrolan santai dua orang aktivis gerakan social Mansour Fakih (INSIST Jogja) dan Setya Adi Purwanta (Dria Manunggal-Jogja). Saat itu keduanya sedang asyik berbincang lewat telepon. Seperti kutipan pembicaraan di bawah ini.

Pada suatu pagi di awal tahun 1996 saya ditelpon oleh Mansour untuk diajak berbicara tentang persiapan penyelenggaraan rally dialog. Kira-kira jam 10 pagi kami berbincang-bincang masalah penyelenggaraan rally dialog itu di kantor OXFAM. Di tengah-tengah pembicaraan itu Mansour nyeletuk: ‘’Hey, Pak Setia beberapa kali kita telah membicarakan dan sepakat bahwa cacat itu sebenarnya tidak ada. Jadi bagaimana kalau kita berusaha agar cacat itu tidak ada lagi. Sebagai langkah awal proses dekonstruksi sosial, kita harus membuat sebutan pengganti istilah penyandang cacat. Tapi kemudian akan menggunakan istilah apa ya?’’
‘’Yah, memang benar bahwa pada hakekatnya cacat itu tidak ada. Seperti yang telah kita bicarakan di Wisma Galuh, bahwa sebenarnya yang ada di antara kita adalah perbedaan kemampuan. Jadi bukan ketidakmampuan’’, jawabku.
Mansour berpikir sejenak dan kemudian, ‘’Tunggu dulu, bagaimana kalau kita menggunakan istilah ‘diffable’? Kata itu merupakan akronim dari istilah differently able people, seperti yang telah Anda katakan orang yang berbeda kemampuan tadi’’, kata Mansour.
‘’Okay aku sangat setuju. Istilah itu sangat menempel pada istilah disable, tetapi sekaligus menabraknya. Dengan demikian istilah diffable tidak sulit untuk diucapkan orang terutama dari kalangan menengah. Tetapi lalu Bahasa Indonesianya apa ya? Hal ini penting agar orang kebanyakan lebih mudah menggunakannya’’, tanyaku kepada Mansour.
‘’Ya, di samping mudah menyebutkannya juga yang tak kalah pentingnya adalah maksud penggunaan istilah itu’’ kata Mansour.
‘’Okelah, sambil berjalan nanti kita cari Bahasa Indonesianya’’, lanjutnya lagi.
Sorenya aku tilpon Sukanti (seorang temanku yang bekerja sebagai penerjemah Bahasa Inggris), dan aku menceriterakan apa yang telah kubicarakan dengan Mansour mengenai penggunaan istilah diffable. Kemudian aku tanyakan istilah yang tepat dalam Bahasa Indonesianya. Dengan enak dan gayanya yang khas ia menjawab, ‘’Ya, pakai saja istilah difabel, dengan ejaan D I F A B E L’’
Aku menyetujui dan aku pun segera menelpon Mansour untuk mengkomunikasikan hal ini, dan Mansour pun menyetujui juga. Sejak itulah kami bertiga sepakat untuk menggunakan dan mensosialisasikan penggunaan istilah difabel atau diffable tersebut.
(Kutipan diambil dari makalah yang ditulis oleh Setia Adi Purwanta pada Seminar Sehari Memperingati 100 Hari Wafatnya Mansour Fakih , Yogyakarta 25 Mei 2004)

Memang kemudian kata difabel disebarluaskan dan diakui oleh para aktivis gerakan difabel pada tahun 1998. Saat itu para aktivis gerakan difabel melakukan Sarasehan Nasional untuk menggagas Format Baru Gerakan Difabel di Hotel Sargede Jogjakarta tahun 1998.

Memang kata difabel hingga sekarang masih menjadi kontroversial dikalangan teman-teman aktivis gerakan difabel. Sebagian masih senang menggunakan istilah cacat daripada difabel. Saya sadari bahwa sebenarnya belum ada kata yang tepat untuk mewakili kondisi yang berbeda yang dialami oleh teman-teman. Namun untuk sementara inilah hasil maksimal dari sebuah usaha kawan-kawan aktivis gerakan difabel untuk melakukan dekonstruksi sosial terhadap pandangan masyarakat terhadap difabel selama ini. Terimakasih kami sampaikan kepada Almarhum Mansour Fakih dan bapak Setia sebagai ”guru” yang telah mengajarkan kepada saya tentang gerakan difabel.

4 Comments »

  1. Cak Fu, semoga sukses selalu.

    Comment by Noe — 24 January 2008 @ 01:29

  2. [...] untuk kesamaan hak kaum difabel, Bahrul Fuad dan beliau sendiri seorang difabel yang mengagumkan. Difabel adalah kata ganti resmi untuk penyandang cacat yang ternyata jumlahnya di Indonesia sangat banyak, [...]

    Pingback by Mereka Yang Tak Lengkap Namun Terbang Tinggi | Kata-Kata — 24 January 2008 @ 04:31

  3. [...] Google Labs beberapa waktu lalu meluncurkan produk eksperimen Mesin Pencari Google yang Aksesibel. Menyadari telah diakses oleh banyak pengguna dari pelbagai peramban dan sistem operasi (’multi platform’), mereka memahami tiap pengguna adalah spesial. Kebutuhan masing-masing pengguna pun memiliki kekhususan. Dengan aksesibilitas, Google berusaha membuat produk mesin pencarinya dapat berfungsi baik bagi semuanya sesuai kebutuhan pengguna, termasuk para ‘difable’ (’differently-abled’; yang sering di-Indonesia-kan menjadi ‘difabel‘). [...]

    Pingback by Aksesibilitas Mesin Pencari Google - Dani Iswara .Net - Indonesia Physician Weblog — 17 May 2008 @ 08:53

  4. PATTIRO Magelang mendampingi kawan2 difabel (PPCI) kab Magelang dalam penganggaran daerah,
    hasilnya lumayan dapat diakomodasi oleh pemda

    Comment by ciwir — 30 August 2008 @ 19:22

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment