Мария 35 новосибирск знакомства Карта сайта Карта сайта Порнографические знакомства Карта сайта Карта сайта Эмо сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Знакомства тверская область конаково Карта сайта Карта сайта Цель знакомства виртуальный Карта сайта Карта сайта Сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Девушка знакомится первой Карта сайта Карта сайта Асд знакомства Карта сайта Карта сайта Знакомства луганск алчевск Карта сайта Карта сайта Правильное знакомство с девушками Карта сайта Карта сайта Вап майл знакомства Карта сайта Карта сайта Самый модный сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Знакомства саратов фото Карта сайта Карта сайта Знакомства г краматорск Карта сайта Карта сайта Сайт знакомств мамбо Карта сайта Карта сайта Знакомства с мужчинами в москве Карта сайта Карта сайта Секс порно ебля онлайн Карта сайта Карта сайта Секс знакомства урюпинск Карта сайта Карта сайта Сайт знакомства тирасполь Карта сайта Карта сайта
Posted by cakfu @ 22:00 on January 12th 2008

Kisah Sumi

Sore itu cuaca tampak cerah, langit tampak begitu biru membuat pemandangan begitu sangat indah. Sumi tampak tampak duduk di bangku bambu di teras rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu (gedek) sambil memangku Ratmi anak perempuan satu-satunya. Ratmi adalah putri satu-satunya hasil pernikahannya dengan Dasan.

Sudah menjadi kebiasaan Sumi, setiap sore habis mandi dan berdandan Sumi duduk di teras rumah menemani suaminya yang menganyam kerajinan dari bambu. Sumi memang tidak bisa kemana-mana kalau tidak dengan suaminya. Sejak lahir dia sudah tidak dapat melihat, jangankan untuk menikmati indahnya pemandangan sore itu, rupa anak dan suaminya dia tak pernah tahu. Meski demikian dalam menjalankan aktivitas sehari-hari seperti mandi, makan, bahkan membuatkan kopi untuk sang suaminya dapat dia lakukan sendiri. Dasan yang mengalami folio sejak usia 1 tahun sangat setia dan bertanggung jawab sebagai suami. Menganyam bambu menjadi berbagai macam bentuk kerajinan adalah satu-satunya ketrampilan sekaligus mata pencaharian yang dimiliki oleh Dasan untuk menghidupi anak dan isterinya. Lumayan juga penghasilannya, jika lagi ramai sehari Dasan bisa mendapatkan uang tujuhpuluh ribu rupiah, tapi sehari-hari biasanya dia mendapatkan uang antara duapuluh sampai duapuluh lima ribu rupiah. Bahkan kadang sehari tak satupun orang membeli hasil kerajinannya.

“Mas sudah jam lima lebih lho, ya mbok istirahat dulu besok dilanjutkan kerjanya. Kita setelah magrib kan harus ke pak mantri untuk memeriksakan anak kita”, Sumi mengingatkan suaminya yang sedang asyik bekerja setelah ia memencet jam tangan khusus untuk tunanetra.

“Sebentar dik, ini tinggal sedikit, nanggung!” balas Dasan sambil terus melanjutkan pekerjaannya.

Tak lama kemudian terdengar suara adzan Magrib dari musola sebelah dan Dasan segera merapikan pekerjaannya. Setelah bersih seluruhnya kemudian Dasan berkemas mandi dan seperti biasa mereka solat magrib berjamaah. Seusai menjalankan sholat magrib mereka berdua segera beranjak pergi ke rumah bapak mantri yang berjarak seratus meter dari rumahnya.

Sumi segera menggendong anaknya yang usia dua tahun sementara Dasan segera mengambil tongkat dan mengunci pintu rumah. Sejenak kemudian mereka berdua sudah terlihat berjalan bersama.Tangan kanan Sumi menggandeng tangan kiri Dasan sementara tangan kanan Dasan harus memegang tongkat untuk menyangga tubuhnya ketika berjalan. Masyarakat sekitar sudah tidak merasa aneh melihat pemandangan tersebut, karena setiap pergi ke pasar ataupun kemana saja mereka selalu bergandeng tangan.

Sekitar duapuluh lima meter berjalan dari rumahnya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di samping mereka. Pengemudi mobil membuka cendela dan melongokan kepalanya sambil berkata dengan santun,”maaf pak…bu, bisa minta waktunya untuk bertanya sebentar?”.

“Ehm…iya, ada apa pak?”, jawab Dasan dengan senyum pula.

Kemudian pengendara mobil mewah itu membuka pintu dan menghampiri Sumi dan Dasan. “Begini pak saya baru pindah ke kampung ini, saya sedang mencari rumah pak RT untuk mengurus surat pindah. Kira-kira dimana ya pak rumah pak ketua RT.01?” tanya pengemudi mobil tadi.

“Oh..bapak lurus saja nanti ada mushola di sebelah kanan jalan, nah lurus di depannya itulah rumah pak ketua RT,namanya pak Sumarto”, jelas Dasan.

“Terimakasih pak, dan ini untuk bapak”, pengemudi tadi memberikan selembar uang seratus ribu rupiah.

Dasan kaget dan terbengong, “lho…ini apa pak?”.

“Terima saja pak shodaqah saya dan sekalian rasa terimakasih saya karena bapak sudah bantu saya”, jelas pengemudi tadi.

“Oh..tidak usah pak, itu sudah wajar. Tugas kita sebagai manusia kan saling membantu,” jawab Dasan sambil tersenyum ramah. Tangan kiri Dasan kemudian menepuk pundak pengemudi mobil tadi sambil berkata,” Terimakasih pak, tapi saya belum berhak menerima uang itu, berikan saja pada mereka yang lebih berhak. Saya sudah berterimakasih bapak mau menyapa kami”.

“Tapi pak…?”, sepertinya pengemudi tadi keberatan jika niat bersodaqahnya ditolak..

“Gak apa pak, monggo bapak silakan menemui pak ketua RT, nanti beliau keburu pergi,” Dasan mempersilahkan bapak pengemudi tadi untuk segera pergi menemui pak ketua RT dan mereka berdua melanjutkan pergi ke rumah pak Mantri.

Pertanyaan:
1. Pelajaran apa yang saudara dapatkan dari Cerita Pendek di atas?
2. Pernahkah saudara menghadapi kasus seperti yang ada dalam cerita pendek di atas? Meskipun dalam situasi dan kondisi yang berbeda?

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment