Posted by cakfu @ 02:54 on February 23rd 2008

ANUGRAH 1

Kali ini saya akan menuliskan sebuah rangkaian artikel secara bersambung yang berkisah tentang perjalanan hidup pribadi, perjalanan ideology, serta perjalanan spiritual saya dalam pergulatan dengan kehidupan sebagai seorang difabel. Saya merasa perlu untuk menuangkan rekaman hidup saya ke dalam tulisan di web ini karena saya melihat bahwa perjalan hidup pribadi saya sebagai seorang difabel merupakan potret kehidupan dan sekaligus pola interaksi sosial masyarakat terhadap difabel.

Sengaja judul dari artikel bersambung ini saya buat sama yaitu ANUGRAH dan hanya menambahkan angka secara berurutan di belakang kata ANUGRAH guna memudahkan pembaca mengenali urutan artikel. Kata ANUGRAH saya pilih sebagai judul, karena saya memandang kondisi difabel saya sebagai anugrah dari Tuhan yang luar biasa. Proses kesadaran untuk sampai menerima kondisi difabel sebagai anugrah akan didapatkan penjelasannya di sepanjang rangkaian artikel ini.
(more…)

Posted by cakfu @ 18:14 on February 5th 2008

Santun(an)

Seorang teman difabel saya mintai pendapatnya jika ada seseorang memberikan bantuan cuma-cuma kepadanya berupa uang. Kemudian teman saya berkomentar,”ya wajar mas, kita kan difabel. Itu sudah menjadi kewajiban mereka untuk membantu yang lemah seperti kita”.

Saya sejenak terdiam dan kemudian mencoba untuk bertanya kembali,”apa Anda tidak merasa tersinggung dengan sikap orang tersebut?”. Teman saya menjawab,”lho kenapa harus tersinggung?memang faktanya kita difabel, dan itu sudah kewajiban pemerintah dan masyarakat untuk membantu kita”.

Respon yang hampir sama saya dapatkan dari beberapa teman difabel meskipun dengan corak bahasa yang berbeda. Namun sebagian besar dari mereka memaklumi dan memandang bahwa “bantuan” baik dalam bentuk materi maupun non-materi merupakan hal yang wajar bagi mereka. Sehingga mereka sebagai difabel merasa layak untuk menerima bantuan yang diberikan oleh orang lain secara cuma-cuma. Jawaban dan respon teman difabel tersebut membuat saya bertanya,”apakah jawaban dan respon teman tersebut memang benar adanya? Ataukah memang itu yang selayaknya terjadi dalam kehidupan difabel?”.
(more…)