ANUGRAH 1
Kali ini saya akan menuliskan sebuah rangkaian artikel secara bersambung yang berkisah tentang perjalanan hidup pribadi, perjalanan ideology, serta perjalanan spiritual saya dalam pergulatan dengan kehidupan sebagai seorang difabel. Saya merasa perlu untuk menuangkan rekaman hidup saya ke dalam tulisan di web ini karena saya melihat bahwa perjalan hidup pribadi saya sebagai seorang difabel merupakan potret kehidupan dan sekaligus pola interaksi sosial masyarakat terhadap difabel.
Sengaja judul dari artikel bersambung ini saya buat sama yaitu ANUGRAH dan hanya menambahkan angka secara berurutan di belakang kata ANUGRAH guna memudahkan pembaca mengenali urutan artikel. Kata ANUGRAH saya pilih sebagai judul, karena saya memandang kondisi difabel saya sebagai anugrah dari Tuhan yang luar biasa. Proses kesadaran untuk sampai menerima kondisi difabel sebagai anugrah akan didapatkan penjelasannya di sepanjang rangkaian artikel ini.
Ketertarikan saya untuk menggeluti dunia difabel memang banyak dipengaruhi oleh kondisi fisik saya yang kebetulan juga mengalami difabel. Namun selebihnya karena sepanjang menjalani hidup sebagai seorang difabel, banyak pengalaman dan sekaligus fenomena kehidudupan yang berkaitan dengan kondisi saya sebagai seorang difabel. Pengalaman dan fenomena tersebut telah menggelitik pikiran saya untuk selalu bertanya dan sekaligus berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut.
Masa Kecil
Masa kecil saya terasa tidak jauh berbeda dengan teman sebaya saya saat itu.Yang membedakan saya dengan teman sebaya saat itu, jelas hanya kondisi dan sekaligus kemampuan fisik saya. Menurut cerita ibunda saya, kondisi saya saat dilahirkan cukup normal sebagaimana kebanyakan bayi pada umumnya. Memang saat itu untuk melahirkan saya ibunda saya harus menjalani operasi Cesar, dan menurut ibunda sehabis terlahir dari rahimnya, dokter kemudian meletakkan saya dalam incubator untuk beberapa minggu. Setelah satu bulan di rumah sakit kemudian saya dan ibunda dibawa pulang ke rumah.
Pada usia sekitar sembilan bulan, seperti balita pada umumnya orang tua saya mengajariku berjalan (dititah – Jawa) dan sayapun dapat berjalan normal sebagaimana balita seusia saat itu. Namun ketika saya menginjak usia satu setengan tahun, tubuh saya mengalami panas tinggi (kejang /step). Orang tua saya saat itu menduga saya mengalami demam biasa, kemudian membawa saya ke seorang dokter praktek anak satu – satunya di kota Kediri. Menurut cerita ibunda, saya mendapatkan suntikan beberapa kali di paha kiri saya. Beberapa hari kemudian panas badan saya reda dan suhu badan menjadi normal. Namun, anehnya saya tidak lagi dapat berjalan seperti semula. Kaki saya menjadi kaku dan tidak dapat digerakkan. Sehingga untuk pergi ke mana – mana saya harus merangkak tidak peduli apakah itu di dalam rumah ataukah di halaman bahkan bermain ke rumah tetangga.
Ketika sudah dewasa sekarang ini, saya sering melakukan sharing dengan sesama difabel yang dilahirkan antara tahun 1960 an hingga tahun 1980 an, ternyata banyak dari kawan – kawan difabel yang mengalami kasus serupa ketika masa kanak – kanak. Mereka mengalami demam panas tinggi saat balita kemudian diberikan suntikan oleh dokter dan akhirnya mereka tidak dapat berjalan kembali. Saya sudah mencoba konfirmasi kepada beberapa teman yang berprofesi sebagai dokter, namun saya belum mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena medik yang terjadi sekitar tahun 1960 hingga 1980 an. Mereka mengatakan bahwa yang jelas fenomena tersebut bukan merupakan malpraktek penanganan medik. Namun fakta menunjukkan bahwa sebagian besar difabel yang kini berusia antara 20 hingga 40 tahun pada usia balita mengalami kasus demam tinggi dan mendapatkan suntikan dari dokter dan sekarang mereka mengalami polio dan juga CP (Cerebral Palsy). Menurut hemat saya fenomena medis ini sangat menarik untuk diteliti, namun hingga sekarang saya belum membaca satupun hasil penelitian dari kasus tersebut. Pertanyaan saya yang hingga kini belum terjawab adalah apakah pada dekade tersebut di Indonesia sedang terjadi wabah polio atau wabah penyakit lainnya? Atau mungkin pada masa itu teknologi kedokteran belum begitu maju?
Kembali ke masa kanak-kanak saya, saya baru dapat berjalan sekitar usia sembilan tahun. Sebelumnya, kemanapun saya pergi, bekunjung ke tetangga atau bermain bersama teman sebaya, saya lakukan dengan merangkak. Ketika itu saya sering mendengar para tetangga membicarakan tentang kondisi fisik saya. Yang sering mereka ungkapkan adalah perasaan iba dan kasihan yang kemudian disusul dengan doa,”gak apa – apa sekarang begini, semoga nanti ketika sudah dewasa kelak hidupmu sejahtera”. Adapula yang mengatakan bahwa kondisi fisik yang aku alami merupakan akibat dari tindakan ayah saya yang ketika ibu hamil mengandung saya, ayah menyembelih ayam. Pernyataan tersebut seringkali saya dengar dari percakapan para tetangga.
Memang ada banyak kepercayaan masyarakat atau mitos dalam budaya Jawa berkenaan dengan difabel. Mitos terhadap kelompok difabel di masyarakat Jawa sangatlah kental. Menurut saya hal ini jelas berkaitan erat dengan budaya masyarakat Jawa yang agraris, dimana semua fenomena yang terjadi pada kehidupan manusia selalu dikaitkan dengan alam. Sehingga dalam pandangan pribadi saya, masyarakat Jawa memandang ketidak normalan baik secara fisik maupun sosial yang terjadi pada diri manusia merupakan akibat atau hukuman atas perbuatan manusia yang tidak ramah terhadap alam.
Anak – anak Lebih Plural
Semasa kanak – kanak saya merasa sangat percaya diri. Saya bermain bersama dengan teman – teman sebaya tanpa merasa minder dengan keadaan fisik saya. Begitu juga teman – teman sebaya menerima secara terbuka keberadaan saya. Mereka tidak canggung untuk bergaul dengan saya. Kami biasa bermain petak umpet, bermain kelereng, bermain gobag sodor, atau bahkan sepak bola sekalipun. Ketika main sepak bola biasanya saya diposisikan sebagai kipper, karena memang saya tidak dapat bergerak leluasa. Dengan menjadi kipper, saya hanya duduk menunggui di depan gawang dan sesekali harus berebut dengan bola dengan kawan yang berusaha memasukkan bola ke gawang saya. Sehingga saat masa kanak – kanak saya sangat menikmati dunia saya, seakan saya tidak merasa sebagai seorang difabel. Hanya satu hal yang membuat saya menjadi iri, yaitu ketika teman – teman sebaya saya bermain balap sepeda BMX yang saat itu sangat digandrungi anak – anak. Di saat teman – teman sebaya saya bermain saya hanya melihat mereka dengan asiknya berkeliling kampung rame – rame.
Untuk menghibur hati saya saat itu, kakek memberiku hadiah sebuah sepeda mini dengan dua roda kecil di samping kiri dan kanan di bagian belakang sepeda. Saya memang tergolong anak penakut kala itu, saya sangat grogi (dredeg – Jawa) ketika harus mengayuh sepeda meski kadang ayah ataupun ibunda saya memegangi pundak saya dari belakang. Ketika mencoba sendiri kaki dan tangan saya selalu bergetar dan saya tak dapat mengendalikannya. Sudah berlatih mengendarai sepeda selama dua tahunpun saya tetap tidak dapat mengendarai sendiri sepeda tersebut. Nah akhirnya justeru adik saya yang kemudian menggunakannya.
Dalam pandangan saya, anak – anak pada dasarnya sangat terbuka dengan kehadiran saya saat itu. Justeru hubungan kami antar anak – anak sebaya saat itu menjadi agak kaku ketika ada intervensi orang tua terhadap hubungan kami yang alami. Memang intervensi tersebut tidak terjadi secara langsung, namun seringkali secara tidak sadar orang tua mengungkapkan kata – kata yang mungkin menurut mereka baik, namun secara psikologis sangat besar dampknya terhadap relasi kami. Sebagai misal, seringkali orang tua mengatakan “adik jangan nakal, nanti kamu bisa jadi seperti Fuad ( Fuad yang difabel)” atau “adik ! jangan nakal dengan Fuad, kasihan dia”. Kedua kalimat yang keluar dari beberapa orang tua teman sebaya saya ketika itu memang terasa baik dan tepat. Namun tahukah anda apa yang terjadi setelah kata itu terucap, kami yang awalnya bersenda gurau dengan alami sebagai anak kecil, secara tiba – tiba sikap teman saya menjadi berubah. Teman saya tersebut sesaat terdiam dan kemudian bermain lagi dengan saya namun kali ini dengan sikap yang sangat berbeda. Sepertinya dia sangat takut dengan kata-kata orang tuanya. Bahkan tidak jarang setelah orang tuanya memperingatkan teman saya langsung pergi meninggalkan saya.
Ketika itu perasaan saya sempat sedih karena secara tidak langsung saya dikatakan sebagai anak nakal. Namun karena perkataan semacam itu sering saya dengar akhirnya lama kelamaan sudah biasa. Memang sekilas muncul pertanyaan dalam benak saya apakah memang benar keadaan saya yang difabel ini merupakan hukuman atau akibat dari perbuatan salah yang dilakukan oleh orang tua saya. Tapi pikiran tersebut sekilaspun hilang bersama dengan keceriaan masa kanak – kanak.
Diperlakukan Sama
Dalam keluarga saya tidak diperlakukan secara istimewa karena kondisi saya yang difabel. Ayah serta ibu saya tidak membedakan saya dengan kedua adik saya. Seperti anak – anak pada umumnya, setiap hari saya pasti bertengkar dengan adik saya yang dipicu oleh perkara remeh seperti berebut bantal, berebut mandi, makanan, ataupun hal sepele lainnya. Ketika bertengkar biasanya kami selalu mendapatkan hukuman baik dari ayah maupun ibu. Biasanya ayah saya kalau sudah marah akan mengambil ranting pohon Lamtoro kemudian memukulkannya pada kaki kami. Semasa itu hal tersebut wajar dilakukan oleh setiap orang tua kepada anak – anaknya.
Untuk keperluan sehari – hari sayapun diperlakukan sama, saya terkadang harus mencuci baju dan menyetrika baju seragam sekolah sendiri. Kegiatan seperti itu sudah biasa saya lakukan dan justeru saya merasa senang karena dipercaya oleh orang tua saya. Memang kalau kelihatannya pekerjaan tersebut cukup berat, ibu saya kemudian membantunya.
Memang sebagai anak – anak saya terkadang juga merasa iri dengan adik saya yang dapat melakukan beberapa kegiatan yang saya jelas tidak dapat melakukannya. Terkadang juga muncul perasaan semacam penyesalan kenapa saya menjadi difabel sementara adik saya tidak. Padahal kami dilahirkan dari rahim yang sama. Namun perasaan iri ataupun penyesalan tersebut tidak begitu parah dalam diri saya dan seringkali hal itu terlupakan dan berganti dengan keasyikan menikmati hidup sebagai anak – anak.
Saya sungguh mengakui bahwa peran orang tua sangat besar dalam membangun kepercayaan diri dan keberanian untuk menerima keberadaan diri saya sebagai difabel. Dan ternyata cara orang tua saya membangun kepercayaan diri saya sebagai anak difabel cukup sederhana yaitu hanya dengan memperlakukan saya secara wajar di kehidupan keluarga. Saya sangat bangga dan berterimakasih besar atas cara orang tua saya membesarkan saya.

membaca sedikit perjalanan hidup diatas,,saya jadi teringat perjalanan hidup saYa yg juga tidak jauh dari cerita diatas,,tapi saya belum mau komentar banyak dulu ah..pengen baca dulu cerita lengkapnya…ditunggu yaa kelanjutannya.Mudah2an hikmahnya nanti bisa bikin saya lebih semangat lagi…:)
Comment by desi — 8 March 2008 @ 13:32
Sangat jarang para difabel yang bisa melihat kecacatannya sebagai anugerah. Semoga tulisan cak fu bisa memberikan inspirasi buat teman-teman difabel.
salam
NB: dapat salam dari mbak anik (nganjuk)
Comment by alhakim — 10 March 2008 @ 16:05
…..tulisan yg bagus mas, saya juga penca, ada ga website/milist di indonesia tentang difabel?
ym: mas_tulus_bp@yahoo.com
Comment by Tulus Budi — 10 March 2008 @ 16:05
saya tertarik ngasih comment utk topik anugrah….(maklum sama2 diffabel) hahahha
salah satu ciri ummat ygy dikasihi Allah SWT, jika kita pandai Iqra’. Dalam hal ini, apakah kita bisa Iqra’ dengan keadaan kita. dalam kaitan ini, mengenai fisik. jika kita bisa membaca keadaan kita, dan mengambil hikmah positif dan keadaan negatif, insya allah, kita akan mendapatkan cara pandang yg berbeda terhadap cara kita melakoni hidup. kita ambil positifnya, bahwa ada anugrah lainnya dari “kekurangan” kita…. semoga dari anugrah yg kita terima saat ini, akan membuat kita lebih “aman” dari hal-hal yang kita tidak duga sebelumnya.
Comment by khaidir — 15 March 2008 @ 16:47
[...] Barusah saya blogwalking dan blogreading otobiografi Bahrul Fuad atau biasa dipanggil Cak Fu. Dia bercerita tentang kisah hidupnya mulai dari masa kecil sampai masa dewasanya. Cak fu merupakan seorang pejuang kesetaraan kaum difabel. Diantara ceritanya itu ada satu bagian yang menarik buat saya yakni penyebab orang menjadi difabel. Ternyata sebagian besar kaum difabel memiliki kasus yang sama yakni, disuntik ketika mengalami panas tinggi. Berikut cuplikan dari blognya cakfu: [...]
Pingback by Difabel, Panas Tinggi dan Jarum Suntik « My Simple Blog — 29 April 2008 @ 13:04
cakfu..untung orang tua mendidik anda seperti itu …banyak sekali orang normal tapi tidak berprestasi dan tidak mempunyai kebisaaan seperti anda…mungkin karena orangtua tidak membeda-bedakan sehingga anda pun jadi orang yang tidak berbeda dengan orang normal baik dalam prestasi, pendidikan dan pemikiran ..dan tentu di mata Allah semua tidak ada yang berbeda kecuali amal ibadah.
Comment by marina artiyasa — 12 August 2008 @ 14:39