ANUGRAH 2
Seperti yang telah saya ceritakan pada ANUGRAH 1 bahwa saya sangat menikmati masa kecil saya sebagaimana anak – anak pada umumnya. Saya bermain bersama dengan teman sebaya tanpa perasaan minder. Hal ini sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua terhadap diri saya pada masa kanak – kanak. Orang tua saya tidak membedakan antara saya dengan adik – adik saya.
Sebagai orang tua, ayah dan ibu saya punya keinginan agar anaknya (saya) dapat “sembuh” dan menjadi sebagaimana anak – anak pada umumnya. Ayah saya khususnya yang punya keinginan besar agar saya dapat kembali normal. Banyak usaha yang telah dilakukan oleh ayah saya untuk mengusahakan kesembuhan saya. Sudah tidak terhitung berapa dukun, para normal, hingga kyai, dan dokter yang telah kami kunjungi, namun semuanya nihil.
Saya masih ingat ketika suatu hari ayah membawa saya ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada sekitar tahun 1983. Ayah yang seorang guru SD mengambil cuti tiga hari untuk pergi ke Surabaya. Ketika itu kami harus numpang dua hari di rumah teman ayah yang tinggal di Surabaya. Ketika itu saya diajak ayah untuk menghadap ke seorang dokter, sepertinya saat itu dokter merekomendasikan agar saya memakai sepatu besi. Saya masih ingat harga sepatu besi saat itu Rp.150.000,-. Bagi ayah harga segitu amatlah mahal, karena gaji ayah saya saat itu hanya sekitar Rp.100.000,- per bulan. Satu bulan kemudian ayah mengajakku kembali ke RSUD. Dr.Soetomo yang saat itu terkenal dengan RS. Karangmenjangan, dengan membawa uang Rp.150.000,- hasil dari pinjaman koperasi di kantor ayah saya. Ketika sampai di ruang dokter, ternyata kami bertemu dengan dokter yang berbeda dan dokter tersebut justeru melarang penggunaan sepatu besi. Saya melihat betapa lega raut muka ayah saat itu. Sementara dokter tersebut hanya menyarankan untuk fisio terapi bagi secara rutin di RS. Dr. Soetomo.
Atas saran dokter tersebut, hampir dua minggu sekali ayah mengajak saya datang ke RS.Dr. Soetomo untuk melakukan fisio terapi. Hal ini kami lakukan selama 6 bulan. Melihat tidak ada perubahan kemudian ayah memutuskan untuk menghentikan fisio terapi dan melakukannya sendiri di rumah. Saat itu ayah saya membuatkan alat bantu fisio terapi dari bambu di belakang rumah untuk latihan setiap pagi hari. Alat bantu fisio terapi tersebut merupakan modifikasi dari alat bantu yang ada di rumah sakit.
Pengobatan Alternatif
Pengobatan medis merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh ayah untuk mengusahakan kesembuhan saya disamping bentuk pengobatan alternatif. Di manapun ada informasi tentang keberadaan pengobatan alternatif dengan cepat ayah membawaku ke tempat tersebut. Saya sudah tidak ingat berapa dukun dan para normal yang telah kami kunjungi baik di dalam kota maupun di luar kota.
Dari sekian banyak pengalaman berinteraksi dengan para dukun maupun para normal, ada dua pengalam yang paling membekas dalam ingatan saya hingga saat ini. Pertama adalah ketika ada seorang dukun datang ke rumah kami. Awalnya dukun tersebut memeriksa kondisi saya. Setelah itu dia membuka sebuah bungkusan dan membaca mantra yang selanjutnya ditiupkan ke bungkusan tersebut. Kemudian dukun tersebut memberikan bungkusan tersebut pada ayah saya dan meminta untuk meminumkan isi bungkusan tersebut kepada saya selama tujuh hari. Setelah membuka bungkusan, ayah saya sedikit terkejut. Ternyata yang ada dalam bungkusan tersebut adalah tujuh butir gotri (butiran – butiran kecil berbentuk kelereng yang terbuat dari besi dan biasanya diletakkan pada pada poros roda sepeda). Saat itu setengah dipaksa oleh dukun saya menelan satu butir gotri yang sudah dimasukkan dalam pisang. Ketika itu ibu saya sempat menangis, rupanya tidak tega melihat saya saat itu. Mungkin karena mistik atau sugesti, ayah saya juga percaya kepada dukun dan meminta saya untuk menelan gotri tersebut. Setelah urusannya selesai kemudian sang dukun meminta uang ijab qabul sebagai uang ganti resep tersebut yang entah berapa jumlahnya dan iapun kemudian berpamitan. Sepeninggalnya dukun tersebut, ibu saya protes dan kemudian membuang bungkusan berisi sisa gotri tersebut.
Pengalaman kedua adalah ketika salah seorang dukun menganjurkan saya untuk memakan serbuk buah pala. Awal mulanya sama seperti dukun yang terdahulu, dia memeriksa saya kemudian memberi resep berupa serbuh pala kurang lebih sebanyak setengah kilogram. Sejumlah serbuk pala tersebut harus saya makan rutin setiap hari mulai pagi, siang, dan sore sebanyak satu sendok makan. Jelas rasa buah pala tersebut sangat pedas dan panas. Saya mengkonsumsi serbuk pala tersebut hampir satu minggu. Akibat dari mengkonsumsi serbuk pala tersebut badan saya menjadi sangat lemas dan bahkan keringat dan air kencing saya berbau buah pala.
Sekali lagi ibu saya tidak tega melihat kondisi saya semakin lama semakin lemas dan hanya tiduran di tempat tidur. Ternyata selain membuat lemas badan, serbuk pala tersebut juga membuat efek rasa ngantuk yang sangat kuat pada diri saya, hingga hampir satu hari penuh saya tiduran di tempat tidur. Akhirnya ibu saya menghentikan untuk memberi serbuk buah pala seperti yang dianjurkan oleh oleh dukun.
Hal di atas merupakan dua dari sekian banyak pengalaman masa kecil sebagai seorang difabel yang harus mengikuti kemauan orang tua yang ingin melihat anaknya menjadi normal. Dan dari sekian bentuk usaha penyembuhan, ternyata tak satupun yang berhasil merubah kondisi fisik saya menjadi “normal”.
Memberontak
Entah mengapa, sejak kecil saya tidak suka diatur – atur. Bahkan oleh orang tua saya sendiri. Ketika masih kecil saya sudah mencuci piring dan mencuci baju sendiri. Ketika itu mungkin maksud ibu saya baik, kasihan melihat kondisi saya maka beliau bermaksud untuk mencucikan dan mensetrikakan bajuku. Saat itu perasaan yang muncul dalam benak saya adalah rasa dianggap tidak mampu.
Akhirnya ketika melihat baju saya direndam oleh ibu dan kebetulan ibu saya tidak ada, maka saya segera mencucinya. Biasanya ibu memarahi saya karena dianggap mencucinya kurang bersih. Tapi itu saya lakukan berulang – ulang. Mungkin karena jengkel, akhirnya ibu saya membiarkannya dan biasanya ibu hanya menjemurkan paikaian yang sudah saya cuci. Karena untuk aktifitas yang satu ini saya tidak mampu.
Saya juga melakukan hal yang sama pada saat selesai makan. Biasanya ibu saya bilang “ piringnya ditaruh saja di sumur, nanti biar ibu yang mencucinya”. Namun sehabis makan tetp saya cuci. Memang akhirnya celana dan baju saya basah dan hal itu yang membuat ibu saya marah – marah. Suatu hari saya pernah marah dengan ibu saya . Ketika itu ibu sedang melihat saya mencuci piring dan gelas. Saat itu juga ibu menegur saya dengan nada marah agar tidak mencuci piring. Akhirnya dengan perasaan dongkol sebagai anak – anak, sambil pergi piring yang sudah saya pegang saya taruh dengan keras ke lantai dan akhirnya piring itupun pecah berkeping – keping. Hal itu kemudian justeru membuat ibu semakin marah dan seperti biasa telinga saya jadi sasaran.
Itulah sebagaian gambaran dari sifat pemberontak saya. Ketika itu yang muncul dalam benak saya adalah ingin meyakinkan kepada ibu dan ayah saya bahwa saua mampu melakukan sesuatu. Meski dengan cara saya sendiri. Entah kenapa saat itu saya tidak punya inisiatif untuk menyampaikan hal itu, tapi justeru sikap yang memberontak yang saya tunjukkan.
Wajar sebagai orang tua memiliki keinginan untuk melindungi anaknya dan tidak mau jika anaknya dalam kesulitan. Sebagaimana orang awam pada umumnya, orang tua saya juga beranggapan bahwa menjadi difabel berarti penderitaan. Sehingga mereka selalu ingin menolong saya. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya saya punya cara sendiri untuk menyelesaikan tugas hidup saya, tentunya dengan cara saya sendiri.
Saya bersyukur telah diberi Allah sifat pemberontak. Dengan sifat saya yang selalu memberontak tersebut secara tidak sadar telah merubah cara pandang orang tua saya terhadap diri saya. Pada akhirnya orang tua saya membiarkan saya untuk menyelesaikan tugas saya dengan cara saya sendiri. Dan mereka memperlakukan saya tidak jauh berbeda dengan perlakuan terhadap adik saya yang tidak difabel.
Orang tua saya akhirnya juga tidak segan untuk memberi tugas – tugas untuk membantu kebutuhan sehari – hari; berbelanja ke toko, mengisi bak mandi, mencuci pakaian, setrika, menyapu ruangan tamu, mengisi bak mandi dengan sumur pompa, dan kegiatan lain yang adik atau orang tua saya biasa melakukannya. Dengan demikian saya merasa dihargai, saya merasa bisa, dan saya merasa tidak berbeda dengan yang lain. Terima kasih ayah, ibu, dan saudaraku….

Subhanallah….Allah tidak akan menguji suatu kaum diluar batas kemampuannya…
Comment by desi — 3 April 2008 @ 12:11
Masya Allah… ternyata cara penyembuhan dukun memang tidak masuk akal.
Kalau saya dulu pernah disuruh makan otak monyet. Tapi, untungnya ortu saya Menolak nya. Kalau pengalaman alternatif saya yang berkesan adalah dengan seoran kyai di jombang (mbah susilo). Dari beliau saya akhirnya bisa jalan (dari sebelumnya pakai kursi)
Comment by alhakim — 16 April 2008 @ 12:51
Hallo Cak Fu, kenalin saya difabel dari jogja. Hampir sama dengan pengalaman Njenengan, saya juga difabel, katanya sih polio kaki kiri sejak umur 1,5 th. (Tahun lahir kita juga sama. Mungkin memang waktu itu ada wabah ya?)Sama persis, panas, terus disuntik. Pengalaman masa kecil hampir sama, tapi agak berbeda. Justru saya dulu terlalu banyak dilarang, jadinya waktu itu saya jadi sangat tergantung dengan orang lain. Dari sekolah, sampe kuliah selalu tergantung orang yang ngantar jemput. Wah gak enak benar rasanya, gak merdeka. Saya mulai punya keberanian sedikit demi sedikit ketika saya mulai aktif di Dria Mamunggal, dan bertemu dengan banyak teman difabel. Sekarang saya sudah gak tergantung orang lain lagi untuk pergi ke manapun. Motor roda 3 saya siap menemani saya, kapan pun, kemanapun. Sebuah catatan, bahwa maksud baik dari orang tua difabel yang serba ngeman pada anaknya, overprotektif, dengan alasan gak tega, ternyata malah akan menjerumuskan si anak nanti untuk terpola pada ketergantungan. Sekian, n salam sukses dari Jogja.
Comment by ninik — 13 June 2008 @ 13:44
Trima kasih Cak Fu, tulisan sampean menggugah dan menyadarkan saya bagaimana seharusnya saya dan kita bersikap terhadap para difable. Memang banyak ungkapan yg sebenarnya dimaksudkan baik tp tanpa disadari justru berpengaruh negatif terhadap psikologis anak2 (difable). Tulisan sampean dah mengingatkan kita.
Comment by Fathan — 19 June 2008 @ 15:47
Amazing, after I finished my reading in this article I say: GOD ALMIGHTY. Mengapa? Karena membaca artikel ini seperti membaca kisah tentang hidup saya sendiri. Sangat mirip sekali, kaki saya pincang dan mama saya guru SD juga. dulu saya kira yang punya kisah hidup penuh tekanan akibat kaki yang tidak sempurna hanya saya saja di dunia ini. Memang hanya pemberontakan yang harus dan mesti dilakukan agar terlepas dari penjara belas kasihan yang hanya membuat kita jadi tidak bisa apa-apa. Karena “pemberontakan” terhadap stigma yang diberikan orang sekeliling saya yang mengatakan bahwa saya tidak mampu untuk bekerja di kantor karena kaki saya pincang yang membuat saya sekarang bisa bekerja di kantor dan dapat memenuhi kebutuhan hidup saya sendiri. Dan pemberontakan itu harus saya lakukan terus menerus saya lakukan karena stigma bahwa “saya tidak bisa” itu terus nempel di otak orang sekeliling saya sehingga saya harus terus membuktikan bahwa “saya bisa dengan cara yang berbeda” So help me GOD. He is the source of my strength.
Comment by vera — 30 June 2008 @ 14:54
Pengalaman hidup mas hampir mirip denganku, cuma perbedaannya mamaku selalu memotivasi aku dengan ambisinya agar tidak menjadi orang yang cengeng. makian terkadang kerasnya mama dan ayah yang mendidik dengan penuh kedisiplinan Yang membuat saya menjadi pribadi yang keras dan tidak memiliki rasa minder. Bekerja pun saya tidak ingin dibedakan dengan yang lain. saya tidak ingin stigma lemah tertanam dari orang lain kepada diri saya.
Motivasi selalu saya dapatkan dari Ibu orang yang paling saya sayangi, dan watak berdisiplin dari ayah yang saya jadikan panutan dalam hal apapun.
Sepertinya kisah hidup yang hampir serupa inilah yang membuat saya tak ingin mengasihani diri sendiri.
Comment by Nurhayati — 24 July 2010 @ 16:06