Posted by Administrator @ 17:55 on January 13th 2009

DIFABEL = PRODUK GAGAL?

Suatu hari saya berdialog dengan seorang teman santri senior ketika masih nyantri di Tambakberas Jombang. Saya bertanya kepadanya ;”Apakah Anda percaya Allah SWT Maha Sempurna?”. Kemudian teman saya menjawab,”Ya, saya percaya!”. Kemudian saya bertanya kepadanya, “Jika Allah Maha Sempurna, tapi kenapa saya terlahir difabel (cacat)?”. Sejenak teman saya terdiam dan kemudian dia menjawab”, itu sifat Iradah Nya,pasti di balik itu semua ada hikmahnya – wallahu’alam”.

Penggalan dialog di atas terjadi 15 tahun yang lalu dan hingga kini saya masih belum menemukan dialog yang memuaskan. Dalam setiap dialog yang saya lakukan dengan siapapun termasuk dengan para ustad selalu berakhir dengan “mauidhah hasanah” untuk selalu bersabar menerima kenyataan dan menjanjikan pahala yang besar buah dari kesabaran tersebut. Kalau jawaban seperti itu, jelas saya sudah mendapatkannya di madrasah dan di pesantren. Namun yang menjadi kegundahan saya adalah kenyataan bahwa kelompok difabel (penyandang cacat) hingga kini masih menjadi kelompok marginal yang hak-hak dasarnya belum terpenuhi. Diskriminasi terhadap kelompok difabel terjadi dalam ruang lingkup negara dan sosial. Negara terlihat tidak serius menangani persoalan yang dihadapi oleh kaum difabel. Meskipun terdapat program pemberdayaan untuk kaum difabel melalui Departemen Sosial, namun program tersebut tetap tidak memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap perbaikan mutu kehidupan kaum difabel di Indonesia. Pada ranah lain, masyarakat kita masih dibelenggu oleh prasangka-prasangka serta mitos yang negatif terhadap kaum difabel. Difabel sering dipandang sebagai individu yang lemah dan hanya patut untuk dibantu. Sementara sebagian masyarakat lain masih berkeyakinan bahwa kondisi difabel yang terjadi merupakan akibat dari perbuatan yang melanggar norma sosial dan agama.
(more…)

Posted by Administrator @ 17:31 on July 1st 2008

Dilema Pendidikan Inklusi

Seorang sahabat yang berprofesi sebagai guru di sebuah SMU Negeri di Surabaya bercerita pada saya bahwa dia merasa sangat kesulitan untuk menerangkan mata pelajaran kimia kepada salah satu siswanya yang tuna netra di kelasnya. Di satu sisi dia merasa sangat kesulitan dan sepertinya hampir putus asa, namun di sisi lain dia merasa bahwa tanggungjawabnya adalah mencerdaskan seluruh siswanya tanpa terkecuali termasuk siswa difabel. Sahabat saya tersebut kemudian terus berusaha untuk menemukan cara yang tepat guna mengajarkan ilmu kimia kepada salah satu siswanya yang tuna netra. Sementara siswa tuna netra tersebut semakin merasa tersisih dari proses belajar dalam kelas tersebut karena kebutuhannya informasi yang cukup tidak terakomodasi dengan metode belajar yang dilakukan.
(more…)

Posted by cakfu @ 02:05 on April 3rd 2008

Pilgub dan Nasib Kaum Difabel*

Seminggu yang lalu saya bertanya kepada salah seorang teman difabel tentang siapa calon gubernur favoritnya. Ternyata jawabnya di luar dugaan saya, teman saya tersebut tidak memilih satupun cagub dan cawagub Jatim yang sekarang lagi sering muncul di media masa. Ketika saya tanya alasannya, teman saya tadi menjawab sangat sederhana,”Karena dari dulu hingga sekarang tidak satupun gubernur yang peduli dengan keberadaan kaum difabel”. Teman saya tersebut kemudian mencontohkan bagaimana susahnya dia mengakses gedung Kantor Kelurahan di daerahnya ketika dia harus mengurus perpanjangan KTP. Selain itu dari dulu hingga sekarang sarana transportasi yang ada di Surabaya tidak ramah dengan kondisi difabel hingga menyulitkan mobilitasnya. Menurutnya kondisi ini tidak berubah dari tahun ke tahun meskipun gubernurnya sudah berganti beberapa kali.

Ironis memang, namun itulah kenyataannya. Ketika banyak orang sibuk memilih dan memilah calon terbaik untuk duduk sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim, teman saya justeru acuh tak acuh dengan persoalan tersebut. Bisa jadi ini hanya bentuk kekecewaan seorang teman, namun mungkin juga kekecewaan teman saya ini merupakan potret apatisme politik sebagian kaum pinggiran terhadap sistem politik dewasa ini.
(more…)

Posted by cakfu @ 18:45 on March 24th 2008

ANUGRAH 2

Seperti yang telah saya ceritakan pada ANUGRAH 1 bahwa saya sangat menikmati masa kecil saya sebagaimana anak – anak pada umumnya. Saya bermain bersama dengan teman sebaya tanpa perasaan minder. Hal ini sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua terhadap diri saya pada masa kanak – kanak. Orang tua saya tidak membedakan antara saya dengan adik – adik saya.

Sebagai orang tua, ayah dan ibu saya punya keinginan agar anaknya (saya) dapat “sembuh” dan menjadi sebagaimana anak – anak pada umumnya. Ayah saya khususnya yang punya keinginan besar agar saya dapat kembali normal. Banyak usaha yang telah dilakukan oleh ayah saya untuk mengusahakan kesembuhan saya. Sudah tidak terhitung berapa dukun, para normal, hingga kyai, dan dokter yang telah kami kunjungi, namun semuanya nihil.
(more…)

Posted by cakfu @ 02:54 on February 23rd 2008

ANUGRAH 1

Kali ini saya akan menuliskan sebuah rangkaian artikel secara bersambung yang berkisah tentang perjalanan hidup pribadi, perjalanan ideology, serta perjalanan spiritual saya dalam pergulatan dengan kehidupan sebagai seorang difabel. Saya merasa perlu untuk menuangkan rekaman hidup saya ke dalam tulisan di web ini karena saya melihat bahwa perjalan hidup pribadi saya sebagai seorang difabel merupakan potret kehidupan dan sekaligus pola interaksi sosial masyarakat terhadap difabel.

Sengaja judul dari artikel bersambung ini saya buat sama yaitu ANUGRAH dan hanya menambahkan angka secara berurutan di belakang kata ANUGRAH guna memudahkan pembaca mengenali urutan artikel. Kata ANUGRAH saya pilih sebagai judul, karena saya memandang kondisi difabel saya sebagai anugrah dari Tuhan yang luar biasa. Proses kesadaran untuk sampai menerima kondisi difabel sebagai anugrah akan didapatkan penjelasannya di sepanjang rangkaian artikel ini.
(more…)

Posted by cakfu @ 18:14 on February 5th 2008

Santun(an)

Seorang teman difabel saya mintai pendapatnya jika ada seseorang memberikan bantuan cuma-cuma kepadanya berupa uang. Kemudian teman saya berkomentar,”ya wajar mas, kita kan difabel. Itu sudah menjadi kewajiban mereka untuk membantu yang lemah seperti kita”.

Saya sejenak terdiam dan kemudian mencoba untuk bertanya kembali,”apa Anda tidak merasa tersinggung dengan sikap orang tersebut?”. Teman saya menjawab,”lho kenapa harus tersinggung?memang faktanya kita difabel, dan itu sudah kewajiban pemerintah dan masyarakat untuk membantu kita”.

Respon yang hampir sama saya dapatkan dari beberapa teman difabel meskipun dengan corak bahasa yang berbeda. Namun sebagian besar dari mereka memaklumi dan memandang bahwa “bantuan” baik dalam bentuk materi maupun non-materi merupakan hal yang wajar bagi mereka. Sehingga mereka sebagai difabel merasa layak untuk menerima bantuan yang diberikan oleh orang lain secara cuma-cuma. Jawaban dan respon teman difabel tersebut membuat saya bertanya,”apakah jawaban dan respon teman tersebut memang benar adanya? Ataukah memang itu yang selayaknya terjadi dalam kehidupan difabel?”.
(more…)

Posted by cakfu @ 17:24 on January 16th 2008

Inclusive Community (Sebuah Dekonstruksi Paradigma tentang Difabel)

CONFIDENT (Center on Difabel Community Development and Empowerment) merupakan sebuah program yang dirancang oleh PUSDAKOTA dengan misi untuk mendorong penguatan serta pengembangan komunitas difabel (penyandang cacat) di masyarakat. CONFIDENT selama 2 tahun (2005 – 2007) menerjemahkan visi dan misinya kedalam tiga program utama; penelitian, pengembangan komunitas difabel, dan pelatihan pengembangan karakter bagi difabel. Program pengembangan dan penguatan komunitas difabel dipandang perlu karena didasarkan pada kenyataan bahwa kehidupan kelompok difabel belum terintegrasi secara total dalam kehidupan bermasyarakat. Fasilitas umum yang tidak bersahabat dengan kondisi para difabel serta masih kuatnya pandangan negatif masyarakat terhadap keberadaan para difabel merupakan hambatan utama bagi para difabel dalam bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat.
(more…)

Posted by cakfu @ 16:38 on January 4th 2008

DIFABEL

Sekarang ini telah banyak orang menggunakan kata difabel sebagai kata gabti untuk sebutan penyandang cacat. Bahkan Harian Kompas telah menggunakan kata difabel sebagai kata resmi dalam setiap tulisannya. Namun tak banyak orang tahu kapan dan bagaimana kata difabel itu muncul. Kata difabel ternyata pertama kali muncul bukan dari sebuah seminar atau symposium nasional, namun hasil dari obrolan santai dua orang aktivis gerakan social Mansour Fakih (INSIST Jogja) dan Setya Adi Purwanta (Dria Manunggal-Jogja). Saat itu keduanya sedang asyik berbincang lewat telepon. Seperti kutipan pembicaraan di bawah ini.
(more…)

Posted by cakfu @ 10:37 on December 16th 2007

Kritik Pemberdayaan Difabel

Sebut saja Ninu, gadis difabel daksa pada suatu sore didatangi oleh seorang petugas Dinas Sosial Kabupaten. Dia diminta untuk mendaftar menjadi peserta pelatihan menjahit yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial setempat. Ninu sempat menjawab,”Lho pak saya kan sudah dua kali ikut pelatihan”. Kemudian pegawai Dinsos tadi menjawab,”gak apa-apa siapa lagi kalau bukan kamu, susah cari penyandang cacat. Ini datanya harus cepat-cepat dikirim ke pusat”. Akhirnya Ninu pun mengiyakan untuk ikut pelatihan menjahit untuk yang ketiga kalinya dengan materi, guru, dan tempat yang sama. Ninu sudah pernah mendapatkan dua mesin jahit dari hasil pelatihan tersebut, namun sekarang tinggal satu karena salah satu mesin jahit sudah dijual untuk tambahan beli kebutuhan sehari-hari. Bagi Ninu kesempatan ini diterimanya dengan senang hati karena selain bertambah teman, yang jelas koleksi mesin jahitnya pun akan bertambah.
(more…)

Posted by cakfu @ 09:27 on December 16th 2007

Beretika dengan Difabel

Difabel adalah kelompok masyarakat yang memiliki kondisi atau bentuk tubuh serta kemampuan yang berbeda dengan anggota masyarakat yang lain. Oleh karena itu ada tata cara atau etika tersendiri dalam berinteraksi dengan mereka.
(more…)

Next Page »