Posted by cakfu @ 13:35 on December 6th 2007
Tema International Disability Day yang diperingati setiap tanggal 3 Desember pada tahun ini mengambil tema “decent work for people with disabilities”, atau pekerjaan yang layak bagi kaum difabel atau penyandang cacat. Menurut data Dinas Sosial Jatim jumlah difabel di Jawa Timur adalah 79.869 orang sementara untuk kota Surabaya ada sekitar 816 orang. Dari sekian jumlah yang ada hanya sekitar 10% difabel yang mendapatkan pekerjaan yang layak. Selebihnya mereka adalah pengangguran dan bekerja pada sektor non-formal. Hal ini dikarenakan oleh terbatasnya akses lapangan kerja yang tersedia bagi kaum difabel.
(more…)
Posted by cakfu @ 17:16 on December 3rd 2007
Pada tanggal 2 Desember 2007 , beberapa komunitas yang terdiri dari Paguyuban Daya Mandiri Surabaya (merupakan organisasi yang dibangun oleh keluarga difabel), CONFIDENT (Center on Difabel Community Development and Empowerment), PEKA (Pengembangan Karakter Anak), Kader Pengembangan Karakter Keluarga Sehat (PKKS), Karang Taruna Kalirungkut Surabaya, Komunitas Sten Kali Bratang Surabaya, Gema Nurani Kediri, dan PUSDAKOTA – Universitas Surabaya melakukan pawai bersama memperingati Hari Difabel Internasional. Pawai yang diikuti oleh sekitar 100 orang ini berangkat dari halaman Pusat Pemberdayaan Comunitas Perkotaan –(PUSDAKOTA) – Ubaya pada pukul 06.00 WIB menuju Taman Bungkul Surabaya dengan menempuh jarak 10 km dengan melalui jalan protokol A.Yani Surabaya.
(more…)
Posted by cakfu @ 21:20 on October 24th 2007
Ini adalah petikan wawancara saudari Woro Harkandi Kencana (Mahasiswi S1 Ekstensi Jurusan Komunikasi Massa FISIP Universitas Indonesia) dengan Cak Fu dalam rangka menyelesaikan Tugas Skripsi KOMODIFIKASI PENYANDANG CACAT (DIFABLE PERSON) PADA TAYANGAN YANG MENGANGKAT PENDERITAAN MANUSIA. Selama ini media telah mengekplorasi difabel dengan kepentingan kapitalisme. Salah satu contoh adalah tayangan sinetron yang mengangkat peran difabel dengan tujuan menguras air mata dan mengharu – birukan penonton.
(more…)
Posted by cakfu @ 02:31 on October 9th 2007
Beberapa waktu yang lalu saat ngobrol santai, seorang sahabat menawari saya untuk operasi kaki saya. Dia kelihatan sangat serius dan berusaha meyakinkan saya bahwa operasi tersebut dapat membantu saya untuk lebih leluasa dalam melakukan aktivitas. Bahkan dia berjanji bersedia untuk membiayai operasi untuk kaki saya tersebut. Untuk meyakinkan saya dia juga mengambil contoh bahwa teman dekatnya dulu yang difabel juga pernah menjalani operasi pada kakinya dan berhasil.
Saya terus terang merasa terharu dengan tawaran sahabat saya tersebut. Sepertinya dia punya harapan bahwa dengan ”sembuhnya” kaki kiri saya maka segala potensi yang ada pada diri saya akan dapat dimaksimalkan. Mungkin hal tersebut ada benarnya dan saya juga setuju bahwa dengan berubahnya bentuk kaki saya, maka gerak saya akan menjadi lebih leluasa. Namun jelas ada sesuatu yang akan hilang dari diri saya ketika kondisi tubuh saya berubah paska operasi. Satu hal, yang jelas saya tidak lagi memiliki predikat difabel. Lebih dari itu, saya akan kehilangan pengalaman spiritual yang menakjubkan ketika menyandang predikat sebagai seorang difabel. Itulah yang mungkin tidak terpikirkan oleh sahabat terbaik saya, ketika dia menawari saya operasi.
(more…)
Posted by cakfu @ 20:47 on June 5th 2007
Mengapa saya terlahir berbeda dengan adikku?
Mengapa orang menyebut aku anak yang cacat?
Mengapa orang selalu melihatku ketika aku berjalan?
Mengapa Tuhan menciptakan aku berbeda dengan anak pada umumnya dan bahkan dengan adikku yang satu ayah dan satu ibu?
Kalau aku cacat karena hukuman, apa salahku?
Pertanyaan – pertanyaan di atas muncul ketika saya masih berusia 8 tahun. Saya pada mulanya protes dengan keberadaan fisik saya. Menurut saya Tuhan tidak adil, adik saya terlahir normal, dia dapat bermain bola sedang saya tidak. Adik saya dapat naik sepeda, berlari, dan bermain bersama teman-temannya sedang saya tidak. Seiring perjalanan waktu dan kematangan spiritual, saya pada akhirnya mensyukuri bahwa kecacatan yang saya alami adalah anugrah yang paling berharga dalam hidup saya. Dengan kondisi tubuh dan status yang saya sandang sebagai penyandang cacat saya punya banyak teman, saya bisa sekolah ke luar negri, dan yang paling berharga dalam hidup saya adalah percikan-percikan mutiara hikmah yang saya dapat selama ini yang mungkin tidak akan saya dapatkan seandainya saya tidak cacat. Dengan kondisi cacat yang saya alami ini, saya lebih paham dan mempunyai alasan mengapa saya harus hidup. Maka kondisi cacat yang saya alami adalah benar-benar anugrah yang sangat berharga dan sekaligus karya agung dari Sang Maha Kreatif.
(more…)
Posted by cakfu @ 21:28 on May 21st 2007
Difabel kini mulai dilirik oleh para akademika dari ilmu sosial. Masalah difabel bukan lagi dilihat dari sudut pandang medik namun sudah bergeser pada sudut pandang ilmu sosial. Tidak banyak yang tahu bahwa cara pandang (paradigma) masyarakat terhadap difabel telah mengalami pergeseran secara perlahan (evolusi) sejak ratusan tahun yang lalu. Mulanya masyarakat menghubungkan difabel dengan spiritualisme ( Moral Model) selanjutnya difabel dipandang sebagai orang sakit (Medical Model) sehingga penanganannyapun lebih bersifat medik. Kemudian pada perkembangannya keberadaan difabel diakui sebagai bagian dari warga negara yang memiliki hak untuk menikmati hidup dengan segala fasilitasnya ( Civil Rights Model), dan terakhir muncul sebuah cara pandang baru bahwa difabel adalah bagian dari masyarakat, mereka terlahir dari masyarakat dan sudah selayaknya mereka hidup bersama masyarakat secara wajar ( Post Modernism atau Social Model). Memang keberadaan satu model belum mampu menggeser keberdaan model yang lain secara utuh di masyarakat. Kita masih melihat sebagian masyarakat masih menggunakan cara model moral ataupun medical dalam melihat persoalan difabel. Hal tersebut dapat terlihat jelas dari bagaimana masyarkat tersebut memperlakukan para difabel. Di komunitas masyarakat pinggiran atau pedesaan yang tingkat pendidikannya masih minim, di sana masih tumbuh subur kepercayaan bahwa difabel atau kecacatan merupakan akibat dari sebuah tindakan spiritual, misalnya difabelitas atau kecacatan merupakan hukuman atas perbuatan dosa yang dilakukan seseorang karena menyalahi norma sosial yang berlaku ataupun norma agama. Sementara di ranah pengambil kebijakan, medical model masih menjadi maintream untuk dasar pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan keberadaan kaum difabel. Hal ini terbukti masih banyaknya berdiri pusat rehabilitasi (RC) yang diperuntukkan bagi kaum difabel.
Moral Model
Moral model dipercaya merupakan cara pandang paling lama yang digunakan oleh masyarakat dalam memandang difabel. Cara pandang ini dapat dikatakan sebagai representasi dari kepercayaan bahwa difabilitas (kecacatan) merupakan hukuman atau dosa akibat dari perbuatan yang menyalahi norma masyarakat atau norma agama yang berlaku yang dilakukan seseorang ataupun keluarga. Moral Model ini sangat erat kaitannya dengan kepercayaan yang berkembang di masyarakat dan disebarluaskan oleh para pemimpin kepercayaan ( agama) melalui dogma yang disampaikan. Prilaku yang umum dilakukan terhadap difabel pada Moral Model ini adalah isolasi, pengucilan, dibunuh, dan pembuangan. Sejarah mencatat ratusan difabel dibunuh oleh pasukan Hitler pada masa kekejaman Nazi. Pada model ini solusi yang dilakukan masyarakat dalam menyikapi keberadaan difabel adalah dengan berusaha memahami dan menerima bahwa difabel adalah merupakan kehendak dari Tuhan, menerima secara pasif sebagai takdir, menghukum diri sendiri, berusaha untuk menghapus dosa yang sudah diperbuat (tobat), tunduk dan mentaati doktrin, tuntunan, serta ajaran agama yang berlaku.
(more…)
Posted by cakfu @ 21:24 on May 21st 2007
Pada suatu hari kami para difabel (penyandang cacat) yang tergabung dalam Paguyuban Daya Mandiri Surabaya mampir ke Masjid Agung Surabaya untuk sholat Ashar, setelah melakukan jalan – jalan sore keliling Kota Surabaya. Kami sangat kecewa ketika menemukan bahwa ternyata tempat wudlu yang tersedia tidak dapat kami gunakan. Kami yang mayoritas berkursi roda tidak dapat masuk ke tempat wudlu yang didisain penuh dengan tangga. Selain itu bangunan masjid yang berarsitektur mewah dengan hiasan penuh tangga tersebut memaksa kami untuk merangkak guna sampai ke dalam masjid. Selama ini memang fasilitas publik yang ada di Kota Surabaya bukan hanya masjid, namun juga bangunan publik lainnya termasuk fasilitas transportasi umum tidak ramah terdahap keberadaan para difabel. Sehingga kondisi ini menjadi penghambat bagi kelompok difabel untuk berinteraksi atau bersosialisasi dalam aktifitas sosial di masyarakat.
(more…)
Posted by cakfu @ 21:14 on May 21st 2007
Pada tanggal 15 November 2006 sejumlah difabel melakukan protes di Bandara Udara Juanda yang baru. Aksi protes tersebut memang tidak diikuti oleh banyak difabel, namun cukup menyita perhatian dari media masa karena aksi tersebut bertepatan dengan kedatangan Presiden SBY yang sedang mengunjungi bandara tersebut. Protes yang dilakukan oleh teman-teman difabel tersebut cukup beralasan karena bandar udara yang baru dibangun dengan nilai milyaran rupiah tersebut tidak aksesibel bagi para difabel.
(more…)
Posted by cakfu @ 11:13 on October 3rd 2006
Di sore yang cerah, kami berempat; Pak Tompul, Pak Kamto, Pak Nur, dan saya sharing-berbagi pikiran- di tengah kebun. Sharing merupakan aktifitas rutin yang kami lakukan seusai berkebun tanaman obat dan sayur. Kebun kami memang tidak luas, ia hanya sepetak tanah ukuran 3×3 meter yang berada di depan kantor saya Pusdakota – Ubaya. Berkebun dan sharing merupakan aktifitas yang kami rancang sebagai media perjumpaan baik antara sesama teman difabel maupun antara difabel dengan anggota masyarakat lain.
Sore itu pak Nur bercerita tentang pengalaman beliau beberapa tahun yang lalu. Di mana pak Nur yang asli Pasuruan itu bermaksud untuk pulang kampung karena sudah 2 tahun tidak pulang. Karena untuk pulang ke kampungnya di Pasuruan, selain mahal ongkosnya juga pak Nur merasa kesulitan untuk memanfaatkan alat transportasi umum. Pak Nur bersama bebrapa teman difabel lainnya bekerja di PT.Kedawung Surabaya, sebuah perusahaan barang pecah belah yang juga menerima para difabel sebagai karyawan. Sehingga minimal 1 tahun sekali khususnya saat Idul Fitri mereka pulang kampung.
Saat itu pak Nur berencana pulang kampung bersama anak dan istrinya. Maklum Pak Nur adalah seorang karyawan rendahan, maka beliau memilih angkutan umum yang jauh lebih terjangkau dengan koceknya daripada menyewa travel-jasa angkutan antar jemput- yang jelas lebih memudahkan beliau. Namun memang jasa travel ongkosnya bisa dua atau bahkan tiga kali lipat dari harga tiket angkutan umum. Dari kos tempat tinggalnya pak Nur dan keluarganya naik becak menuju terminal. Jelas biaya becaknya juga mahal karena jarak kos tempat tinggalnya dengan terminal bis cukup jauh. Setelah sampai di terminal bis pak Nur bersama istri dan anaknya menuju tempat pemberangkatan bis antar kota. Namun karena ditempat tersebut cukup padat dengan penumpang yang akan mudik, maka pak Nur dan keluarga berpindah tempat menuju yang agak sepi yaitu di pintu tempat keluarnya bis dari terminal. Jelas untuk mencapai tempat itu pak Nur haru bersusah payah karena beliau hanya bisa merangkak kemanapun dia pergi. Kita bisa bayangkan betapa keras perjuangan pak Nur yang harus merangkak di atas aspal terminal yang panas karena sinaran terik matahari.
(more…)
Posted by cakfu @ 08:35 on September 20th 2006
Saya agak merasa risih ketika disebut sebagai penyandang cacat (Disabled Person) bukan karena saya tidak bisa menerima kenyataan yang ada pada diri saya, namun lebih disebabkan oleh istilah cacat itu sendiri. Istilah yang sampai sekarang saya tidak mengerti maksud dan latar belakang penggunaannya.
Kata atau istilah yang dilekatkan pada para penyandang cacat (baik dalam bahasa Indonesia ataupun Inggris) selama ini lebih banyak mengacu kepada ketidak mampuan, kelemahan, ketidak berdayaan, kerusakan dan makna lain yang cenderung negatif. Seperti Tuna Netra, Tuna Rungu, bahkan kata cacat itu sendiri.Tuna berarti hilang atau tidak memiliki, sedangkan cacat bermakna rusak. Begitu juga dalam bahasa Inggris kita temukan ada Disability yang artinya ketidakmampuan, invalid yang berarti tidak lengkap. Saya sendiri tidak dapat memahami kenapa kata-kata tersebut dipilih untuk menggambarkan kondisi atau keadaan fisik yang hanya “kebetulan berbeda” dari yang lain umumnya.
Istilah tersebut diatas baik secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan pengaruh psikologis yang cukup signifikan bukan hanya terhadap penyandang istilah itu sendiri namun juga terhadap sikap serta prilaku masyarakat terhadap kelompok penyandang istilah tersebut. Hanya karena istilah yang disandangnya mereka menjadi rendah diri, inferior, malu, merasa tak berguna dan tak punya harapan. Dilain pihak masyarakat memperlakukan mereka secara tidak adil, mereka dianggap sebagai kelompok tidak produktif, lemah dan hanya perlu untuk dikasihani dan disantuni. Lebih parah lagi mereka oleh para “orang sholeh” dijadikan ladang kebajikan untuk menggali “pahala”.
(more…)