Мария 35 новосибирск знакомства Карта сайта Карта сайта Порнографические знакомства Карта сайта Карта сайта Эмо сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Знакомства тверская область конаково Карта сайта Карта сайта Цель знакомства виртуальный Карта сайта Карта сайта Сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Девушка знакомится первой Карта сайта Карта сайта Асд знакомства Карта сайта Карта сайта Знакомства луганск алчевск Карта сайта Карта сайта Правильное знакомство с девушками Карта сайта Карта сайта Вап майл знакомства Карта сайта Карта сайта Самый модный сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Знакомства саратов фото Карта сайта Карта сайта Знакомства г краматорск Карта сайта Карта сайта Сайт знакомств мамбо Карта сайта Карта сайта Знакомства с мужчинами в москве Карта сайта Карта сайта Секс порно ебля онлайн Карта сайта Карта сайта Секс знакомства урюпинск Карта сайта Карта сайта Сайт знакомства тирасполь Карта сайта Карта сайта
Posted by cakfu @ 11:13 on October 3rd 2006

Undang – Undang itu Hanya Janji Manis

Di sore yang cerah, kami berempat; Pak Tompul, Pak Kamto, Pak Nur, dan saya sharing-berbagi pikiran- di tengah kebun. Sharing merupakan aktifitas rutin yang kami lakukan seusai berkebun tanaman obat dan sayur. Kebun kami memang tidak luas, ia hanya sepetak tanah ukuran 3×3 meter yang berada di depan kantor saya Pusdakota – Ubaya. Berkebun dan sharing merupakan aktifitas yang kami rancang sebagai media perjumpaan baik antara sesama teman difabel maupun antara difabel dengan anggota masyarakat lain.

Sore itu pak Nur bercerita tentang pengalaman beliau beberapa tahun yang lalu. Di mana pak Nur yang asli Pasuruan itu bermaksud untuk pulang kampung karena sudah 2 tahun tidak pulang. Karena untuk pulang ke kampungnya di Pasuruan, selain mahal ongkosnya juga pak Nur merasa kesulitan untuk memanfaatkan alat transportasi umum. Pak Nur bersama bebrapa teman difabel lainnya bekerja di PT.Kedawung Surabaya, sebuah perusahaan barang pecah belah yang juga menerima para difabel sebagai karyawan. Sehingga minimal 1 tahun sekali khususnya saat Idul Fitri mereka pulang kampung.

Saat itu pak Nur berencana pulang kampung bersama anak dan istrinya. Maklum Pak Nur adalah seorang karyawan rendahan, maka beliau memilih angkutan umum yang jauh lebih terjangkau dengan koceknya daripada menyewa travel-jasa angkutan antar jemput- yang jelas lebih memudahkan beliau. Namun memang jasa travel ongkosnya bisa dua atau bahkan tiga kali lipat dari harga tiket angkutan umum. Dari kos tempat tinggalnya pak Nur dan keluarganya naik becak menuju terminal. Jelas biaya becaknya juga mahal karena jarak kos tempat tinggalnya dengan terminal bis cukup jauh. Setelah sampai di terminal bis pak Nur bersama istri dan anaknya menuju tempat pemberangkatan bis antar kota. Namun karena ditempat tersebut cukup padat dengan penumpang yang akan mudik, maka pak Nur dan keluarga berpindah tempat menuju yang agak sepi yaitu di pintu tempat keluarnya bis dari terminal. Jelas untuk mencapai tempat itu pak Nur haru bersusah payah karena beliau hanya bisa merangkak kemanapun dia pergi. Kita bisa bayangkan betapa keras perjuangan pak Nur yang harus merangkak di atas aspal terminal yang panas karena sinaran terik matahari.
(more…)

Posted by cakfu @ 08:35 on September 20th 2006

Kecacatan dalam Belenggu Terminology

Saya agak merasa risih ketika disebut sebagai penyandang cacat (Disabled Person) bukan karena saya tidak bisa menerima kenyataan yang ada pada diri saya, namun lebih disebabkan oleh istilah cacat itu sendiri. Istilah yang sampai sekarang saya tidak mengerti maksud dan latar belakang penggunaannya.

Kata atau istilah yang dilekatkan pada para penyandang cacat (baik dalam bahasa Indonesia ataupun Inggris) selama ini lebih banyak mengacu kepada ketidak mampuan, kelemahan, ketidak berdayaan, kerusakan dan makna lain yang cenderung negatif. Seperti Tuna Netra, Tuna Rungu, bahkan kata cacat itu sendiri.Tuna berarti hilang atau tidak memiliki, sedangkan cacat bermakna rusak. Begitu juga dalam bahasa Inggris kita temukan ada Disability yang artinya ketidakmampuan, invalid yang berarti tidak lengkap. Saya sendiri tidak dapat memahami kenapa kata-kata tersebut dipilih untuk menggambarkan kondisi atau keadaan fisik yang hanya “kebetulan berbeda” dari yang lain umumnya.

Istilah tersebut diatas baik secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan pengaruh psikologis yang cukup signifikan bukan hanya terhadap penyandang istilah itu sendiri namun juga terhadap sikap serta prilaku masyarakat terhadap kelompok penyandang istilah tersebut. Hanya karena istilah yang disandangnya mereka menjadi rendah diri, inferior, malu, merasa tak berguna dan tak punya harapan. Dilain pihak masyarakat memperlakukan mereka secara tidak adil, mereka dianggap sebagai kelompok tidak produktif, lemah dan hanya perlu untuk dikasihani dan disantuni. Lebih parah lagi mereka oleh para “orang sholeh” dijadikan ladang kebajikan untuk menggali “pahala”.
(more…)

Posted by cakfu @ 08:33 on September 20th 2006

Difabel dan Keberpihakan Kata

Seorang teman berkomentar tentang tulisan saya terdahulu yang berjudul Teologi Kecacatan, “Saya juga tidak setuju dengan istilah penyandang cacat. Kata cacat memang sangat tidak enak terdengar di telinga.” Komentar tersebut dapat dipandang mewakili opini masyarakat terhadap istilah cacat yang dilekatkan pada kelompok masyarakat tetentu. Masyarakat sendiri ternyata merasakan hal yang kurang nyaman jika mengucapkan kata cacat pada seseorang. Sering seseorang minta maaf terlebih dahulu sebelum menyebutkan nama seseorang yang diikuti kata cacat dibelakangnya. Misalkan, “Saya kenal dengan si Fulan yang (maaf) cacat itu”. Memang masyarakat tidak disodori pilihan dalam hal ini, sehingga mereka terpaksa harus mengucapkan kata cacat karena memang itu satu-satunya kata yang tersedia. Tapi kenapa harus disertai kata maaf?
(more…)

Posted by cakfu @ 08:30 on September 20th 2006

Diskriminasi : Perasaan atau Realitas?

Seorang teman berbicara pada saya dalam sebuah perjalanan di kereta menuju Amsterdam,“ Jika kamu bicara soal kecacatan selalu kamu kaitkan dengan diskriminasi”. Selanjutnya teman baik saya itu menyeletuk,” Jangan-jangan diskriminasi itu hanya perasaanmu saja”. Omongan setengah guyon itu seakan telah membangunkan kesadaran kritis saya untuk melihat secara lebih netral mahluk yang namanya “diskriminasi”. Dalam konteks sebagai seorang penyandang cacat memang sulit bagi saya untuk melihat secara jelas batasan antara perlakuan diskriminasi dan sebuah realitas yang disebabkan oleh kondisi kecacatan yang saya sandang. Oleh karena itu sungguh menarik untuk mengulas tema diskriminasi ini dari dua sudut pandang teori dan realitas pengalaman kehidupan.
(more…)

Posted by cakfu @ 21:13 on September 13th 2006

MITOS

Pengalaman yang diceritakan oleh saudara Idrus dalam kolom Resonansi Republika merupakan hal yang umum dialami oleh sebagian besar para penyandang cacat di Indonesia. Baik mereka yang cacat karena bawaan dari lahir maupun mereka yang cacat akibat kecelakaan atau sebab hal yang lain. Menjadi cacat merupakan sebuah petaka, makanya banyak orang yang tidak mau memilih menjadi cacat. Namun sayangnya kecacatan itu bisa datang dengan tiba-tiba dan pada siapa saja tanpa pilah-pilih. Pada dasarnya menjadi cacat itu hanya sebuah perubahan kondisi ataupun bentuk fisik seseorang. Kecacatan berubah menjadi masalah bagi seseorang yang mengalaminya ketika kondisi cacat tersebut dikaitkan dengan mitos, stigma, dan kepercayaan -kepercayaan tak berdasar yang berkembang dalam masyarakat.
(more…)

Posted by cakfu @ 11:15 on September 7th 2006

Penerimaan Diri sebagai Kunci Kesuksesan

Seorang pemuda terlihat duduk termenung di sebuah teras rumah. Dia adalah Fulan, anak pak Karya yang baru mengalami kecelakaan lalu lintas hingga kedua kakinya harus diamputasi. Amputasi kaki tersebut telah memukul jiwa Fulan, pemuda yang dulu energik dan selalu ceria kini menjadi pemurung, suka menyendiri, dan mudah tersinggung. Fulan tidak lagi terlihat main gitar sambil menyanyikan lagu kesayangannya dengan gaya konser, dia juga tidak mau lagi hadir dalam rapat Karang Taruna. Padahal dulu sebelum terjadi kecelakaan yang menimpa dirinya, Fulan adalah pemuda yang paling vokal dalam setiap rapat pengurus Karang Taruna, ide-idenya cukup cemerlang, maka tak salah jika tahun kemarin dia terpilih untuk mewakili kotanya menjadi Pemuda Pelopor tingkat Nasional.

Kecelakaan lalu lintas tersebut telah mengubah 180 derajat kehidupan Fulan. Bagi Fulan dunia seakan begitu sempit dan masa depan hanya mimpi kosong yang hampa. Dalam catatan hariannya Fulan menuliskan bahwa dia telah mengubur dalam-dalam impian dan cita-citanya, karena dia sudah tidak yakin bahwa dia dapat mewujudkan impiannya dengan kondisi yang sekarang dia miliki. Memang telah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan bahwa Fulan kini menyandang predikat baru sebagai seorang difabel. Predikat baru tersebut telah membuatnya menjadi risih dan minder, karena difabel bagi dia dan masyarakat sekitar identik dengan ketidakberdayaan dan aib. Yang ada dalam benak pikiran Fulan sekarang ini hanyalah penyesalan dan ratapan akan nasib yang menimpa dirinya.
(more…)

Posted by cakfu @ 00:40 on November 21st 2005

Teori Normalitas dan Konsep Kecacatan

Secara sadar atau tidak sadar kita selama ini hidup di dunia normalitas. Setiap dari kita berusaha untuk menjadi normal. Kita berusaha untuk mengikuti apa yang kebanyakan orang pikir, lakukan, atau dapatkan. Kita juga mengukur tingkat kecerdasan, kadar kolesterol, berat badan, tinggi badan, dan segala macam hal dalam kehidupan ini. Di sekolah, guru memberikan ujian untuk menentukan apakah seorang murid masuk dalam standard kecerdasan. Begitu juga seorang dokter akan mengukur tinggi atau berat badan kita untuk mengetahui apakah kita berada dibawah atau diatas rata-rata. Praktis dalam kehidupan keseharian kita tak satupun hal yang lepas dari nilai rata-rata atau konsep normalitas.
(more…)

Posted by cakfu @ 17:58 on November 17th 2004

Teologi Kecacatan

Kecacatan bagi sebagian besar masyarakat kita masih dipandang sebagai aib. Lebih dari itu ada sebagian masyarakat awam kita yang melihat kecacatan sebagai kutukan dari Tuhan atas dosa yang diperbuat oleh orang tua atau nenek moyang si penyandang cacat. Pandangan negatif yang melekat di masyarakat kita tersebut telah berakibat buruk pada kehidupan psikologis dan sosial para penyandang cacat. Sebagai akibatnya banyak dari mereka yang hidup dalam keterpurukan ekonomi dan menjalani hidup dengan perlakuan diskriminatif dari masyarakat.

Kecacatan pada dasarnya merupakan persoalan sosial yang butuh penanganan serius sebagaimana masalah sosial lainnya. Hal ini dikarenakan bukan saja karena kecacatan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, namun juga karena jumlah penyandang cacat dinegeri kita berbanding lurus dengan frekwensi konflik sosial politik yang marak terjadi akhir-akhir ini.Yang lebih memprihatinkan lagi adalah fakta bahwa sebagian besar dari populasi penyandang cacat hidup dalam kemiskinan. Kondisi tersebut terjadi karena terbatasnya akses mereka dalam bidang ekonomi, pendidikan, pelayanan umum dan politik. Disamping itu secara umum masyarakat kita belum dapat menerima keberadaan kelompok penyandang cacat secara penuh sebagai bagian integral masyarakat. Keengganan masyarakat ini sangat erat hubungannya dengan mitos dan kepercayaan kuno yang masih melekat dalam masyarakat kita bahwa kecacatan adalah akibat buruk atau dosa yang harus ditanggung oleh seseorang dari perbuatan yang melanggar norma sosial. Kepercayaan yang tanpa dasar ini telah ditularkan turun temurun dari generasi ke generasi hingga berakibat buruk pada kehidupan para penyandang cacat saat ini.
(more…)

« Previous Page