Posted by cakfu @ 08:35 on December 3rd 2009

Ironi Peringatan Hari Difabel Internasional

Hari ini saya dikabari teman-teman dari Jakarta kalau dalam rangka memperingati International Disability Day 2009, teman-teman difabel di Jakarta diundang ke Istana Wapres untuk bertemu dengan Wapres baru bapak Budiono. Beberapa teman terlihat sangat senang, bahkan ada salah seorang teman yang update status FBnya kalau dia akan ke Istana Wapres. He..he..gak apa mungkin pengalaman pertama baginya ke Istana.
(more…)

Posted by cakfu @ 22:00 on January 12th 2008

Kisah Sumi

Sore itu cuaca tampak cerah, langit tampak begitu biru membuat pemandangan begitu sangat indah. Sumi tampak tampak duduk di bangku bambu di teras rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu (gedek) sambil memangku Ratmi anak perempuan satu-satunya. Ratmi adalah putri satu-satunya hasil pernikahannya dengan Dasan.
(more…)

Posted by cakfu @ 01:05 on December 30th 2007

SERIBU MATA

Pada jam 3.30 tiba-tiba telepon berdering nyaring. Daslan bergegas bangun sambil mengucek-ucek matanya yang masih mengantuk. Tidak biasa telepon berdering sepagi ini.

“Ayah meninggal, cepat pulang!.Pemakaman hari ini jam satu siang!”, terdengar suara dari seberang telepon. Suara itu sudah tiga ahun tidak terdengar lagi. Kini tiba-tiba suara itu memenuhi seluruh ruang telinganya. Tidak ada yang berubah dalam nada suara itu. Masih tetap tegas, apa adanya,dan seperti ada jarak yang tidak diketahui berapa jauhnya. Daslan tidak mengetahui secara persis apa yang sebenarnya dirasakan, sedihkah?Gembirakah? Tak tahu! Tapi nada dari seberang telepon itu masih terngiang-ngiang dan mengingatkan Daslan pada sepasang mata yang menatapnya tanpa rasa persahabatan. Selanjutnya nada suara itu juga mengingatkan kepada pasangan-pasangan mata yang lain yang menatapnya dengan seribu wajah.

Daslan membangunkan Darmi isterinya yang masih juga mengantuk.

“Ayah meninggal. Kita mesti pulang. Pemakaman siang nanti”, kata Daslan sambil melipat selimut tebal. Keduanya lalu bangun dan bergegas menyiapkan pakaian serta barang yang harus dibawa.. Paling tidak mereka harus tinggal selama tiga hari di rumah ayahnya di desa Karangkobar.
(more…)

Posted by cakfu @ 21:43 on December 5th 2007

Kendati Cerdas Tak Bisa Sekolah

Namanya Alfan, usianya tujuh tahun. Kalau sekolah, ia pasti sudah kelas dua SD. Namun bocah berkulit putih ini tidak bisa mengenyam pendidikan formal sebagaimana anak seusianya. Alfan tidak dapat menikmati pendidikan formal selayaknya teman-teman seusianya dikarenakan ia memiliki pendengaran yang menurut ukuran banyak orang disebut tidak “normal”. Kisah nyata yang ditulis oleh Alpha Savitri bukan dimaksudkan untuk mengharubirukan perasaan, namun lebih dimaksudkan untuk memberikan potret nyata prilaku diskriminasi atas kaum difabel.
(more…)

Posted by cakfu @ 02:31 on September 20th 2007

Menembus Keterbatasan

Hebat ya…meskipun cacat, tapi Fuad dapat melanjutkan study hingga Master di luar negeri”. Komentar ini banyak saya dengar dari beberapa orang baik secara tidak langsung maupun secara langsung yang diutarakan kepada saya. Biasanya saya mengomentari dengan santai,”ah..nggak juga, karena untuk mendapat Master tidak ada kaitannya dengan kondisi fisik saya yang difabel, saya hanya difabel kaki dan organ lain tubuh saya berfungsi normal. Sehingga tidak berpengaruh banyak pada kemampuan saya untuk melakukan aktivitas akademik”. Kemudian saya selalu menimpali komentar tersebut dengan sedikit humor,”saya baru merasa hebat jika saya menjadi bintang sepak bola club favourit Inggris”.
(more…)

Posted by cakfu @ 06:56 on October 3rd 2006

Cerita dari Sahabat

“Heb je even voor mij…Na…na…na…na…na…na…” Malik berdendang sambil menggoyangkan bahunya naik turun keatas. Dan kakinya pun tak lupa ikut bergoyang. Dimanakah ia melakukan aksinya itu? Di depan seorang oma Belanda! Oma itu duduk di sebelah kami dalam perjalanan kereta api Amsterdam-Groningen. Energi pangeran kecilku ini memang tak ada habisnya. Padahal saat itu kami sudah kelelahan setelah mengikuti tahrib ramadan di PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa) Amsterdam.

Tentu saja si oma menyambut polahnya, bahkan ia ikut bernyanyi bersama Malik. Lalu, Oma bertanya pada Malik, “Wie zing dat (siapa yang menyanyikan lagu itu) ?” Sambil mesam-mesem penuh percaya diri memperlihatkan deretan gigi mungilnya, Malik menjawab,” Cak Fu!” katanya lucu. Ha ha ha, kontan saja aku dan suamiku terbahak, koq Cak Fu?! Berulang kali mereka bernyanyi lagi. Dan berulangkali pula si oma mengatakan bahwa penyanyi lagu itu adalah Frans Bouwer. Tapi anak lelakiku yang baru berusia 3,5 tahun ini tetap ngeyel,” Cak Fu Bun, Aik betul!” Katanya berusaha meyakinkan aku, agar aku tak tertawa lagi.
(more…)

Posted by cakfu @ 13:38 on September 20th 2006

TUHAN TIDAK MENERIMA TAMU DIFABEL

Suatu ketika saya bersama beberapa teman dalam sebuah perjalanan mampir ke masjid Agung Surabaya untuk melakukan sholat Ashar. Hampir tiga jam kami berkeliling memutari bangunan masjid untuk mencari jalan agar kami dapat masuk ke dalam masjid yang megah tersebut. Akhirnya kamipun tetap tidak menemukannya, karena bangunan masjid Agung Al-Akbar tersebut didesain begitu megah dengan dikelilingi puluhan anak tangga. Karena waktu sholat Ashar hampir habis kemudian kami memutuskan untuk mengambil air wudlu. Tidak berbeda kasusnya, kami berlima menuju tempat wudlu dan ternyata tempat wudlu tersebut berada di bawah bangunan masjid megah tersebut. Untuk mencapainya maka kami harus menuruni anak tangga yang jumlahnya sepuluh buah. Saya sempat menatap ke-empat teman saya yang kesemuanya menggunakan kursi roda dan tongkat penyangga. Dalam benakku aku bergumam”Ya..Allah begitu jauh diri Mu untuk kami temui”.
(more…)

Posted by cakfu @ 13:26 on September 7th 2006

Tindakan yang Bertujuan

Tindakan yang Bertujuan bagi saya merupakan sebuah tindakan yang didasarkan pada motivasi untuk mencapai sebuah hasil tertentu. Oleh karena itu biasanya seseorang dalam menjalankan Tindakan yang Bertujuan, telah mempersiapkan tahapan-tahapan tindakan sedetail mungkin agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Selain itu seseorang juga akan mempersiapkan beberapa tindakan alternatif yang dipandang strategis yang akan digunakan jika sebuah tindakan utama tidak dapat dijalankan dengan sesuatu alasan. Dengan mempersiapkan tindakan alternatif tersebut maka tujuan utama yang ingin dicapai diharapkan akan tetap dapat diraih, karena memang tujuan utama tersebut yang mendorong terjadinya seluruh proses terjadinya sebuah tindakan.
(more…)

Posted by cakfu @ 23:08 on July 26th 2006

Mewujudkan Surabaya untuk Semua

Pada tanggal 17 Juli 2006, Kompas Jawa Timur memuat dua buah liputan yang berjudul ‘Butuh Ruang untuk Masyarakat Inklusif’ dan ‘Memimpikan Surabaya lebih Humanis’. Kedua tulisan tersebut menyorot tentang tidak tersedianya ruang publik yang aksesibel bagi para difable. Selama ini memang fasilitas publik yang ada tidak ramah terdahap keberadaan para difable. Sehingga kondisi ini menjadi penghambat bagi kelompok difable untuk bersosialisasi dalam aktifitas bermasyarakat.

Tidak sedikit peraturan atau perundang-undangan yang mengatur tentang keberadaan para difable yang dulunya disebut sebagai penyandang cacat. Tercatat sudah ada 14 undang – undang yang disahkan menyangkut keberadaan para difable. Berkaitan dengan aksesibilitas fasilitas umum, pemerintah secara khusus telah mengeluarkan dua buah Keputusan Mentri (Kepmen). Pertama Kepmen Pekerjaan Umum (PU) Nomor 468 tahun 1998 tentang Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan dan Lingkungan dan kedua adalah Kepmen Perhubungan Nomor 71 tahun 1999 tentang aksesibitas transportasi umum bagi difable. Namun hingga saat ini dua Keputusan Mentri tersebut belum juga teralisasi. Alasan yang disampaikan seringkali bersifat klasik, yaitu tidak tersedianya anggaran yang cukup untuk membangun fasilitas umum yang aksesible bagi difable.

(more…)

Posted by cakfu @ 14:06 on July 26th 2006

Difable dan Bencana Alam

Indonesia merupakan salah satu daerah rawan terhadap terjadinya bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, dan tanah longsor. Tidak dapat dipungkiri bahwa bencana alam tersebut telah banyak menimbulkan kerusakan baik fisik maupun sosial. Namun ada satu hal penting yang selama ini kurang mendapatkan perhatian kita adalah realita bahwa bencana alam selain menimbulkan korban jiwa juga menyebabkan beberapa korban selamat menjadi difable (cacat). Banyak dari korban yang kemudian kehilangan kaki, lengan, atau fungsi fisik lainnya seperti fungsi penglihatan dan pendengaran selama proses penyelamatan diri.

Ada dua kelompok difable pada situasi bencana alam, pertama adalah mereka yang sudah menjadi difable sebelum terjadinya bencana (existed difable) dan kedua adalah mereka yang menjadi difable akibat dari terjadinya bencana (newly difable). Kedua kelompok ini memiliki persoalan yang hampir sama dalam situasi bencana, dimana fasilitas yang tersedia di barak pengungsian kebanyakan tidak ramah terhadap keberadaan mereka. Sehingga seringkali para difable mengalami penderitaan yang lebih berat dibandingkan dengan para korban selamat lainnya. Persoalan lain yang cukup penting adalah kenyataan bahwa negeri ini belum memiliki sistem peringatan dini (Early Warning System) dan sistem evakuasi bencana alam yang aksesibel terhadap keberadan difable. Sehingga konsekuensinya para difable menjadi kelompok yang beresiko tinggi saat terjadinya bencana. Banyak dari para difabel yang kemudian kehilangan alat bantu mereka seperti kursi roda, kruk dan tongkat petunjuk bagi mereka yang difable netra.

(more…)