<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cak Fu &#187; Refleksi</title>
	<atom:link href="http://cakfu.info/category/refleksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cakfu.info</link>
	<description>Berbagi Gagasan untuk Membangun Kesetaraan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Dec 2009 01:35:31 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ironi Peringatan Hari Difabel Internasional</title>
		<link>http://cakfu.info/2009/12/ironi-peringatan-hari-difabel-internasional/</link>
		<comments>http://cakfu.info/2009/12/ironi-peringatan-hari-difabel-internasional/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 01:35:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakfu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakfu.info/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini saya dikabari teman-teman dari Jakarta kalau dalam rangka memperingati International Disability Day 2009, teman-teman difabel di Jakarta diundang ke Istana Wapres untuk bertemu dengan Wapres baru bapak Budiono. Beberapa teman terlihat sangat senang, bahkan ada salah seorang teman yang update status FBnya kalau dia akan ke Istana Wapres. He..he..gak apa mungkin pengalaman pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hari ini saya dikabari teman-teman dari Jakarta kalau dalam rangka memperingati International Disability Day 2009, teman-teman difabel di Jakarta diundang ke Istana Wapres untuk bertemu dengan Wapres baru bapak Budiono. Beberapa teman terlihat sangat senang, bahkan ada salah seorang teman yang update status FBnya kalau dia akan ke Istana Wapres. He..he..gak apa mungkin pengalaman pertama baginya ke Istana.</strong><br />
<span id="more-84"></span><br />
Saat membayangkan pertemuan tersebut saya jadi pingin ketawa. Bayangan saya teman-teman difabel berbaris masuk ke istana satu per satu mencium tangan pak Wapres. Lalu mereka duduk dan mendengarkan pidato dan nasehat dari pak Wapres. Kira-kira pidatonya begini;&#8221;Saudara-saudara sekalian yang saya cintai, selamat datang di Istana, kami senang menyambut kehadiran saudara-saudara sekalian. bla..bla..bla&#8230;</p>
<p>Lalu diselipi nasehat:&#8221;saya bangga dan salut pada Anda sekalian, meskipun memiliki kekurangan fisik Anda tetap bersemangat. Saran saya teruslah bersemangat dan berjuang, tunjukkan pada yang lain meski dengan kekurangan fisik yang Anda miliki tapi Anda mampu berprestasi&#8221;..lalu para hadirin tepuk tangan plok..plok&#8230;bahkan ada seorang teman difabel netra duduk di belakang&#8230;suit&#8211;suit..tambah meriah&#8230;</p>
<p>Tak lupa di akhir pidatonya pak Wapres berjanji:&#8221;dalam kabinet sekarang kita berencana untuk lebih meningkatkan kualitas hidup teman-teman penyandang cacat,..bla..bla&#8230;&#8221;</p>
<p>Setelah selesai pidato kemudian Pak Wapres bersama istri dan para menteri yang hadir bersalaman lagi dengan para difabel,ada yang sambil bisik-bisik dengan pak menteri supaya terlihat lebih akrab. Sambil bersalaman par Wapres satu persatu pak Wapres terus membisikkan kata &#8220;terus semangat ya!!&#8221;.</p>
<p>Sudah deh acaranya, kemudian teman-teman difabel pada pulang, ada yang nyempatin mampir sejenak untuk berfoto di halaman istana Wapres. Maklum belum tentu besok bisa ke sini lagi&#8230;he..he..</p>
<p>Setelah sampai di rumah masing-masing para difabel tadi tak lupa untuk bercerita dengan bangganya kepada saudara dan tetangga-tetangganya kalau dia barusaja bertemu dengan Wapres baru bapak Budiono. Trus tetangganya bilang;&#8221;wah hebat ya si fulan, meski cacat dia bisa ketemu Wapres&#8230;kita aja yang normal belum tentu nich..hebat kamu fulan..hebat..selamat ya..&#8221;lalu si Fulan senyum-senyum&#8230;</p>
<p>saya ingat 3 tahun yang lalu (2007) saat SBY jadi presiden periode pertama, para difabel juga diundang ke Istana.Hampir sama situasinya dan bahkan isi pidatonya juga tidak banyak berbeda dengan yang saya contohkan di atas, karena memang itu teks pidato standard dalam peringatan HIPENCA. Dulu SBY malah lebih keras janjinya, waktu itu di hadapan para gubernur;&#8221;jika dalam waktu setahun ke depan di tiap provinsi tidak ada perbaikan akses terhadap teman-teman penyandang cacat, maka saya akan panggil para para gubernur&#8221;. Tapi..puuuuuuuuuuzz&#8230;nothing </p>
<p>Ironis memang, setiap peringatan Hari Internasional Penyandang cacat selalu diisi dengan seremonial. Menurut teman saya,itu bentuk pengakuan pemerintah terhadap para difabel. Saya jawab pengakuan tidak begitu bentuknya; lakukan hal yang nyata untuk difabel, angkat satu menteri dari difabel dan perbaiki seluruh fasilitas umum agar lebih ramah terhadap difabel. Kata Iga Mawarni itu &#8220;cinta hanya di bibir saja&#8221;.</p>
<p>Banyak orang yang caci maki Gus Dur waktu dia jadi presiden. Tapi dia satu-satunya presiden yang punya keperpihakan yang nyata pada para difabel di Indonesia. Beliau tidak pernah bikin acara seremonial tapi aksi yang nyata. Beliau membuat ram di istana sehingga kursi roda dengan mudah dapat masuk istana. Selain itu beliau juga bikin GAUN (Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional) di pusatkan di Stasiun Gambir. Sayang sekali presiden berikutnya (Mega dan SBY) tidak melanjutkannya&#8230;</p>
<p>Seremonial yang dilakukan setiap tahun untuk memperingati HIPENCA sampai saat ini tidak mengubah apapun pada kehidupan difabel di Indonesia. Bagi saya itu justeru memperkokoh stigma yang selama ini melekat pada difabel; mahluk yang layak dikasihani dan disantuni. Kegundahan saya;apa teman-teman aktifis difabel tidak menyadari itu semua. Kalu saya yang diundang&#8230;akan saya tolak, saya akan duduk di depan Istana dan membawa poster bertuliskan &#8221; negeri ini tidak ramah bagi difabel&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakfu.info/2009/12/ironi-peringatan-hari-difabel-internasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Sumi</title>
		<link>http://cakfu.info/2008/01/kisah-sumi/</link>
		<comments>http://cakfu.info/2008/01/kisah-sumi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jan 2008 15:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakfu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakfu.info/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu cuaca tampak cerah, langit tampak begitu biru membuat pemandangan begitu sangat indah. Sumi tampak tampak duduk di bangku bambu di teras rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu (gedek) sambil memangku Ratmi anak perempuan satu-satunya. Ratmi adalah putri satu-satunya hasil pernikahannya dengan Dasan.

Sudah menjadi kebiasaan Sumi, setiap sore habis mandi dan berdandan Sumi duduk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sore itu cuaca tampak cerah, langit tampak begitu biru membuat pemandangan begitu sangat indah. Sumi tampak tampak duduk di bangku bambu di teras rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu (gedek) sambil memangku Ratmi anak perempuan satu-satunya. Ratmi adalah putri satu-satunya hasil pernikahannya dengan Dasan.<br />
<span id="more-66"></span><br />
Sudah menjadi kebiasaan Sumi, setiap sore habis mandi dan berdandan Sumi duduk di teras rumah menemani suaminya yang menganyam kerajinan dari bambu. Sumi memang tidak bisa kemana-mana kalau tidak dengan suaminya. Sejak lahir dia sudah tidak dapat melihat, jangankan untuk menikmati indahnya pemandangan sore itu, rupa anak dan suaminya dia tak pernah tahu. Meski demikian dalam menjalankan aktivitas sehari-hari seperti mandi, makan, bahkan membuatkan kopi untuk sang suaminya dapat dia lakukan sendiri. Dasan yang mengalami folio sejak usia 1 tahun sangat setia dan bertanggung jawab sebagai suami. Menganyam bambu menjadi berbagai macam bentuk kerajinan adalah satu-satunya ketrampilan sekaligus mata pencaharian yang dimiliki oleh Dasan untuk menghidupi anak dan isterinya. Lumayan juga penghasilannya, jika lagi ramai sehari Dasan bisa mendapatkan uang tujuhpuluh ribu rupiah, tapi sehari-hari biasanya dia mendapatkan uang antara duapuluh sampai duapuluh lima ribu rupiah. Bahkan kadang sehari tak satupun orang membeli hasil kerajinannya. </p>
<p>“Mas sudah jam lima lebih lho, ya mbok istirahat dulu besok dilanjutkan kerjanya. Kita setelah magrib kan harus ke pak mantri untuk memeriksakan anak kita”, Sumi mengingatkan suaminya yang sedang asyik bekerja setelah ia memencet jam tangan khusus untuk tunanetra. </p>
<p>“Sebentar dik, ini tinggal sedikit, nanggung!” balas Dasan sambil terus melanjutkan pekerjaannya.</p>
<p>Tak lama kemudian terdengar suara adzan Magrib dari musola sebelah dan Dasan segera merapikan pekerjaannya. Setelah bersih seluruhnya kemudian Dasan berkemas mandi dan seperti biasa mereka solat magrib berjamaah. Seusai menjalankan sholat magrib mereka berdua segera beranjak pergi ke rumah bapak mantri yang berjarak seratus meter dari rumahnya. </p>
<p>Sumi segera menggendong anaknya yang usia dua tahun sementara Dasan segera mengambil tongkat dan mengunci pintu rumah. Sejenak kemudian mereka berdua sudah terlihat berjalan bersama.Tangan kanan Sumi menggandeng tangan kiri Dasan sementara tangan kanan Dasan harus memegang tongkat untuk menyangga tubuhnya ketika berjalan. Masyarakat sekitar sudah tidak merasa aneh melihat pemandangan tersebut, karena setiap pergi ke pasar ataupun kemana saja mereka selalu bergandeng tangan. </p>
<p>Sekitar duapuluh lima meter berjalan dari rumahnya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di samping mereka. Pengemudi mobil membuka cendela dan melongokan kepalanya sambil berkata dengan santun,”maaf pak&#8230;bu, bisa minta waktunya untuk bertanya sebentar?”.</p>
<p>“Ehm&#8230;iya, ada apa pak?”, jawab Dasan dengan senyum pula.</p>
<p>Kemudian pengendara mobil mewah itu membuka pintu dan menghampiri Sumi dan Dasan. “Begini pak saya baru pindah ke kampung ini, saya sedang mencari rumah pak RT untuk mengurus surat pindah. Kira-kira dimana ya pak rumah pak ketua RT.01?” tanya pengemudi mobil tadi.</p>
<p>“Oh..bapak lurus saja nanti ada mushola di sebelah kanan jalan, nah lurus di depannya itulah rumah pak ketua RT,namanya pak Sumarto”, jelas Dasan.</p>
<p>“Terimakasih pak, dan ini untuk bapak”, pengemudi tadi memberikan selembar uang seratus ribu rupiah.</p>
<p>Dasan kaget dan terbengong, “lho&#8230;ini apa pak?”.</p>
<p>“Terima saja pak shodaqah saya dan sekalian rasa terimakasih saya karena bapak sudah bantu saya”, jelas pengemudi tadi.</p>
<p>“Oh..tidak usah pak, itu sudah wajar. Tugas kita sebagai manusia kan saling membantu,” jawab Dasan sambil tersenyum ramah. Tangan kiri Dasan kemudian menepuk pundak pengemudi mobil tadi sambil berkata,” Terimakasih pak, tapi saya belum berhak menerima uang itu, berikan saja pada mereka yang lebih berhak. Saya sudah berterimakasih bapak mau menyapa kami”.     </p>
<p>“Tapi pak&#8230;?”, sepertinya pengemudi tadi keberatan jika niat bersodaqahnya ditolak.. </p>
<p>“Gak apa pak, monggo bapak silakan menemui pak ketua RT, nanti beliau keburu pergi,” Dasan mempersilahkan bapak pengemudi tadi untuk segera pergi menemui pak ketua RT dan mereka berdua melanjutkan pergi ke rumah pak Mantri.</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><em><br />
1.	Pelajaran apa yang saudara dapatkan dari Cerita Pendek di atas?<br />
2.	Pernahkah saudara menghadapi kasus seperti yang ada dalam cerita pendek di atas? Meskipun dalam situasi dan kondisi yang berbeda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakfu.info/2008/01/kisah-sumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SERIBU MATA</title>
		<link>http://cakfu.info/2007/12/seribu-mata/</link>
		<comments>http://cakfu.info/2007/12/seribu-mata/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Dec 2007 18:05:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakfu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakfu.info/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Pada jam 3.30 tiba-tiba telepon berdering nyaring. Daslan bergegas bangun sambil mengucek-ucek matanya yang masih mengantuk. Tidak biasa telepon berdering sepagi ini.
“Ayah meninggal, cepat pulang!.Pemakaman hari ini jam satu siang!”, terdengar suara dari seberang telepon. Suara itu sudah tiga ahun tidak terdengar lagi. Kini tiba-tiba suara itu memenuhi seluruh ruang telinganya. Tidak ada yang berubah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada jam 3.30 tiba-tiba telepon berdering nyaring. Daslan bergegas bangun sambil mengucek-ucek matanya yang masih mengantuk. Tidak biasa telepon berdering sepagi ini.</p>
<p>“Ayah meninggal, cepat pulang!.Pemakaman hari ini jam satu siang!”, terdengar suara dari seberang telepon. Suara itu sudah tiga ahun tidak terdengar lagi. Kini tiba-tiba suara itu memenuhi seluruh ruang telinganya. Tidak ada yang berubah dalam nada suara itu. Masih tetap tegas, apa adanya,dan seperti ada jarak yang tidak diketahui berapa jauhnya. Daslan tidak mengetahui secara persis apa yang sebenarnya dirasakan, sedihkah?Gembirakah? Tak tahu! Tapi nada dari seberang telepon itu masih terngiang-ngiang dan mengingatkan Daslan pada sepasang mata yang menatapnya tanpa rasa persahabatan. Selanjutnya nada suara itu juga mengingatkan kepada pasangan-pasangan mata yang lain yang menatapnya dengan seribu wajah.</p>
<p> Daslan membangunkan Darmi isterinya yang masih juga mengantuk. </p>
<p>“Ayah meninggal. Kita mesti pulang. Pemakaman siang nanti”, kata Daslan sambil melipat selimut tebal. Keduanya lalu bangun dan bergegas menyiapkan pakaian serta barang yang harus dibawa.. Paling tidak mereka harus tinggal selama tiga hari di rumah ayahnya di desa Karangkobar.<br />
<span id="more-64"></span><br />
Jam lima pagi itu Daslan dan Darmi sudah berangkat dengan mobil mereka. Perjalanan menuju ke Karangkobar memakan waktu sekitar empat sampai lima jam. Kalau lancer kira-kira jam sembilan pagi mereka sudah sampai. Mereka hanya berdua di mobil itu. Selama tiga tahun menikah, mereka belum juga dikaruniai anak. Padahal dokter menyatakan bahwa mereka sehat dan subur.</p>
<p>“Tidak usah ngebut mas, kita masih sedikit mengantuk”,tegur isterinya mengingatkan. Daslan lalu memperlambat laju mobilnya.</p>
<p>“Kita tidak perlu lama-lama di sana ya. Tiga hari saja cukup, sampai selamatan tiga hari. Aku tidak lagi mau berdebat dengan mereka”, kata Daslan kepada isterinya.</p>
<p>Darmi tidak menjawab. Ia memahami kata-kata suaminya dengan baik. Ia sangat mengerti bagaimana saudara-saudara iparnya bersikap terhadap suaminya dan dirinya. Pernikahan mereka tidak disetujui oleh seluruh saudara suaminya. Hanya ayah Daslan yang merestui perkawinan mereka. Ibu Daslan sudah meninggal dua tahun sebelum mereka menikah. Darmi masih sangat teringat bagaimana Daslan suaminya pada saat itu berdebat dengan saudara-saudaranya agar bisa menikah dengannya. </p>
<p>Sambil menyetir, Daslan membayangkan seribu pasang mata dari seribu macam wajah yang dulu pernah dihadapinya dan siang nanti pasti akan dihadapinya kembali. Daslan menyadari bahwa sampai sekarang ini, semua saudaranya tidak menyetujui perkawinannya dengan Darmi.Satu-satunya alasan mereka adalah karena Darmi tidak dapat melihat alias buta sejak lahir.<br />
“Apakah kamu pikir, kamu itu seorang pahlawan sehingga mau menikahi perempuan buta?”, tanya mas Margono kakak sulung.</p>
<p>“Mbok dipikir lagi secara lebih matang. Apakah kamu nanti tidak repot punya istri yang begitu karena kamu harus menuntun ke mana-mana. Aku pikir kamu belum matang berfikir”, begitu kata mbakyu Tatik yang gayanya seperti orang bijaksana tapi kata-katanya pedas.</p>
<p>“Mbok wis mas Das, cari yang lain yang normal-normal saja, tidak perlu aneh-aneh. Apa kata orng nanti kalau menantunya keluarga Reksapandaya adalah perempuan cacat”,itu kata si Saptono adik ragilnya yang memang seneng gengsi.</p>
<p>Sementara ayahnya, Reksapandaya yang hari ini meninggal dan akan dimakamkan siang nanti tidak banyak bicara pada saat rembugan keluarga. Ia lebih suka mendengarkan anaknya berbicara terlebih dahulu bahkan dari mereka sampai ada yang menangis. Dialah satu-satunya orang dalam keluarga yang merestui perkawinannya.</p>
<p>“Sebaiknya kita mampir makan di warung pinggir jalan mas. Nanti kita di sana tidak punya waktu lagi”,kata Darmi memecahkan pikirannya. Daslan menyetujui usul istrinya. Mereka makan di warung pinggir jalan. Seperti biasa Daslan membukakan pintu, lalu tangan kanannya menyenggol tangan kiri Darmi sebagai tanda dia siap untuk menuntun istrinya. Selanjutnya Darmi langsung menggapin lengan suaminya dan berjalan menuju warung.</p>
<p>Beberapa pasang mata mencuri pandang memperhatikan mereka. Daslan sudah terbiasa juga dengan pasangan-pasangan mata mata semacam itu. Setiap kali pergi bersama istrinya Daslan selalu menjumpai pasangan mata yang menatapnya dengan seribu macam ekspresi. Dulu setelah menikah, semasa masih tinggal di Karangkobar, Daslan juga menghadapi sepasang mata yang memperhatikannya seyiap kali ia keluar rumah dengan istrinya. Pada awalnya ia merasa sangat marah seakan ia dan istrinya merupakan orang yang paling aneh di dunia. Lama-lama Daslan terbiasa dengan tatapan seribu pasang mata tersebut.</p>
<p>Selesai makan mereka berangkat lagi supaya tidak kesiangan. Di mobil Darmi lebih banyak tidur dan sesekali bangun menanyakan sampai di mana. Daslan membangunkan Darmi ketika sudah memasuki gerbang desa. Tampak dari kejauhan bensera putih di tiang depan sebuah rumah. Dan beberapa kursi besi warna hijau tertata berderet rapi di halaman rumah.dan beberapa kali mereka berpapasan dengan para pelayat. Ada yang menyapa dengan ramah namun ada juga yang mencuri pandang seperti ada rasa sungkan melihat Daslan dan Darmi berjalan menuju rumah orang tuanya setelah keluar dari mobil.</p>
<p>Di ruang tengah jenazah ayahnya terbaring diam dalam keheningan yang tiada tara. Semua saudaranya berkumpul mengelilingi jenazah ayahnya, ada yang duduk dan ada pula yang berdiri.Daslan dan Darmi menyalami mereka satu per satu. Mata mereka masih menyimpan suasana yang sama seperti dulu.</p>
<p>Daslan menatap wajah ayahnya yang terbaring. Matanya tertutup rapat. Sama seperti mata isterinya yang tertutup rapat.Tiba-tiba ia menangis dan seperti tak kuasa membendung derai air mata. Ia merasa sangat kehilangan karena tak bisa lagi melihat sepasang mata yang memandangnya berbeda. Mata yang tertutup itu dulu menatapnya tajam dalam kelembutan dan keheningan. Sepasang mata itu dulu yang menatapnya penuh persetujuan dan pengertian. Sepasang mata itu mampu menggantikan serbu pasang mata yang menatap dirinya. Sepasang mata itu dulu yang menatapnya sambil berkata,”Daslan, semua saudaramu telah melihatmu dengan sepasang mata yang mereka miliki. Tetapi aku juga melihat bahwa Darmi telah melihatmu dengan seribu pasang mata yang ada dalam dirinya, karena seribu pasang mata yang ada pada dirinya berbeda dengan sepasang mata yang ada pada wajah saudara-saudaramu. Oleh karena itu aku mengerti dan sangat menghargai pilihanmu”.</p>
<p>Daslan tetap menangis mengiringi dikuburnya jenasah ayahnya. Sepasang mata ayahnya itu kini telah menjadi seribu pasang mata yang ada pada diri dan istrinya.</p>
<p><em>*Cerpen ini ditulis oleh Indro Suprobo, di Majalah Gemma Edisi 9 Th.III Maret – Mei 2002 Terbitan USC Satunama Yogyakarta.<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakfu.info/2007/12/seribu-mata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kendati Cerdas Tak Bisa Sekolah</title>
		<link>http://cakfu.info/2007/12/kendati-cerdas-tak-bisa-sekolah/</link>
		<comments>http://cakfu.info/2007/12/kendati-cerdas-tak-bisa-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 14:43:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakfu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakfu.info/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Alfan, usianya tujuh tahun. Kalau sekolah, ia pasti sudah kelas dua SD. Namun bocah berkulit putih ini tidak bisa mengenyam pendidikan formal sebagaimana anak seusianya. Alfan tidak dapat menikmati pendidikan formal selayaknya teman-teman seusianya dikarenakan ia memiliki pendengaran yang menurut ukuran banyak orang disebut tidak &#8220;normal&#8221;. Kisah nyata yang ditulis oleh Alpha Savitri bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namanya Alfan, usianya tujuh tahun. Kalau sekolah, ia pasti sudah kelas dua SD. Namun bocah berkulit putih ini tidak bisa mengenyam pendidikan formal sebagaimana anak seusianya. Alfan tidak dapat menikmati pendidikan formal selayaknya teman-teman seusianya dikarenakan ia memiliki pendengaran yang menurut ukuran banyak orang disebut tidak &#8220;normal&#8221;. Kisah nyata yang ditulis oleh <a href="http://alphasavitri.blogspot.com/"><strong>Alpha Savitri </strong></a>bukan dimaksudkan untuk mengharubirukan perasaan, namun lebih dimaksudkan untuk memberikan potret nyata prilaku diskriminasi atas kaum difabel.<br />
<span id="more-60"></span></p>
<p>”Saya sudah berusaha untuk menyekolahkan Alfan. Saya datang ke banyak sekolah di sini. Tapi tidak ada yang mau menerima meskipun anak saya cerdas.,” kata Maryati, warga Pasuruan. Alfan yang duduk di sebelahku kini dipangkunya. Maryati pun mengusap dan mencium kepala si buah hati. Matanya berkaca-kaca.  </p>
<p>Alfan seperti merasakan kesedihan Maryati. Matanya ikut berkaca-kaca.</p>
<p>Ya, Alfan bersedih. Padahal ia tak mendengar kata-kata kami. Ia tuna rungu. Karena tuna rungu, ia pun tidak pernah belajar berbicara. Kata-kata yang keluar tidak punya makna. Tapi, entahlah, mungkin perasaan Alfan sangat tajam sehingga tahu apa yang kami bicarakan.  </p>
<p>Anak ini, kata Maryati, nasibnya selalu malang. ”Bahkan sejak dalam kandungan, ia selalu berusaha digugurkan ibunya. Ibunya minum jamu pahit-pahitan. Tidak berhasil, karena kandungannya terus membesar,” kata Maryati. </p>
<p>”Oh, jadi Alfan bukan anak ibu sendiri?” tanyaku.</p>
<p>”Ibu Alfan itu famili saya. Jadi bukan saya yang melahirkannya. Tapi Alfan buah hati saya.” </p>
<p>Maryati melanjutkan,”Saya kasihan nasib janin itu. Karunia Tuhan kok disia-siakan. Padahal alasannya sepele. Ibunya bilang, anaknya sudah dua. Repot kalau melahirkan lagi,” kata Maryati. </p>
<p>Maryati pun meminta si jabang bayi. Sejak dalam kandungan jadi tanggungannya. Padahal Maryati dan suaminya berkekurangan. Tapi mereka rela menanggung anak yang tidak diinginkan orangtuanya itu.</p>
<p>Maryati tidak berpikir, dengan hadirnya Alfan, ia dan Atim, suaminya harus bekerja semakin keras demi kelangsungan hidup bayi itu. Atim kerjanya hanya serabutan. Maryati sendiri juga sebagai pemungut sisa-sisa padi di sawah (ngasah). ”Tuhan maha besar. Kami tak takut miskin.” </p>
<p>Suami istri itu mengasuh bayi yang dinamainya Alfan itu dengan penuh kasih sayang. ”Alfan, saya tidak tahu arti nama itu, tapi nama itu enak didengar. Makanya, kami namai dia begitu,” ujar Maryati.  </p>
<p>Kenapa Alfan tidak bisa mendengar, baik Maryati maupun Atim tidak tahu sebab persisnya. Atim memperkirakan, Alfan demikian karena dalam kandungan berusaha digugurkan dengan ramuan yang pahit-pahit. </p>
<p>Namun Maryati tidak sepakat. ”Sebelum usia setahun, responnya terhadap bunyi masih ada. ”Alfan begitu karena disuntik dokter pada usia setahun.Waktu itu ia demam,” ujar Maryati yang kini juga berprofesi sebagai tukang pijat.  </p>
<p>Aku tidak tahu siapa yang benar. Tapi yang jelas, pendengaran Alfan memang tidak normal. </p>
<p>Siang itu juga, aku mengetes pendengarannya. Aku sengaja menjatuhkan buku tebal di lantai saat Alfan tidak melihat ke arahku. Ia menoleh ke arah buku yang dijatuhkan. Beberapa kali kuulangi, responnya sama. Aku merasa, Alfan sesungguhnya masih bisa disembuhkan. </p>
<p>”Dokter THT memang bilang, Alfan bisa sembuh. Tapi saya harus membeli alat bantu dengar senilai Rp 4 juta. Dari mana saya mendapatkannya?”</p>
<p>Karena merasa tidak mampu mendapatkan Rp 4 juta, pasangan ini berkonsultasi ke orang-orang pintar. ”Saya sudah ke mana-mana. Setiap Jumat legi, lidahnya juga saya kerok dengan emas seperti saran salah satu orang pintar. Tapi tidak ada hasil,” ujar Maryati Airmatanya hampir berlinang. Sepertinya ia malu kulihat demikian. Ia mengusap matanya dengan tangan.</p>
<p>Kata dokter pula, kemungkinan ada salah satu syaraf Alfan yang tidak normal. Yakni di bagian belakang leher. Saat Alfan tidur, Maryati sering berusaha memijat titik syaraf tersebut. Namun Alfan selalu kaget dan merasa kesakitan Maryati yang tidak tega lantas melepaskan pijatannya.</p>
<p>”Kami ingin anak lekas sembuh, tapi dengan cara apa?” katanya.   </p>
<p>Kulit Alfan putih bersih. Rambutnya lurus hitam. Perawakannya sehat. ”Alfan suka minum susu. Biar mahal, saya berusaha agar ia tidak kurang gizi. Siapa tahu kalau gizinya bagus ia bisa mendengar,” kata Maryati. </p>
<p>Alfan dinyatakan lulus dari TK di Malang (sebelum pindah ke Pasuruan dua tahun lalu, Maryati dan keluarganya tinggal di Malang) dua tahun lalu. Menurut Maryati, anaknya bisa mengikuti semua mata pelajaran di TK. Kalau diminta menggambar oleh guru, Alfan selalu menjadi yang tercepat untuk menyelesaikan. </p>
<p>Alfan juga memiliki banyak kawan bermain. Tidak saja saat masih di Malang, namun juga di Sejo. Bukan Alfan yang mendatangi mereka, namun merekalah yang selalu bermain di rumahnya. Alfan seolah mengerti bahasa kawan-kawannya dan kawan-kawan pun memaklumi Alfan yang punya keterbatasan bicara dan mendengar.</p>
<p>Anak ini piawai menggambar. Ia menggambar apa saja. Mobil, rumah, robot, dan lain-lain. Imajinasinya lumayan tinggi. Kawan-kawan sebayanya bahkan banyak yang minta digambarkan sesuatu oleh Alfan. Alfan juga bisa menulis. Tapi membaca ia tidak bisa. </p>
<p>Sang ibu bertindak sebagai guru bagi Alfan. Ia menciptakan gerakan-gerakan yang mudah dipahami anaknya. Setiap malam sang ibu mendongeng. Macam-macam yang didongengkan. Komik-komik juga diceritakan. Alfan, meski tidak mendengar, tapi ibunya yakin, paham akan kisah-kisah itu. ”Karena Alfan itu cerdas. Hanya tidak punya alat bantu dengar,” kata sang ibu. </p>
<p>Kenapa Alfan tidak masuk SLB? </p>
<p>”Anak saya normal. Entah kapan saya bisa membelikan alat bantu dengar, tapi saya pasti bisa. Alfan akan kembali normal,” tegas Maryati. * </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakfu.info/2007/12/kendati-cerdas-tak-bisa-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menembus Keterbatasan</title>
		<link>http://cakfu.info/2007/09/menembus-keterbatasan/</link>
		<comments>http://cakfu.info/2007/09/menembus-keterbatasan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Sep 2007 19:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakfu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakfu.info/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[“Hebat ya&#8230;meskipun cacat, tapi Fuad dapat melanjutkan study hingga Master di luar negeri”. Komentar ini banyak saya dengar dari beberapa orang baik secara tidak langsung maupun secara langsung yang diutarakan kepada saya. Biasanya saya mengomentari dengan santai,”ah..nggak juga, karena untuk mendapat Master tidak ada kaitannya dengan kondisi fisik saya yang difabel, saya hanya difabel kaki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Hebat ya&#8230;meskipun cacat, tapi Fuad dapat melanjutkan study hingga Master di luar negeri</em>”. Komentar ini banyak saya dengar dari beberapa orang baik secara tidak langsung maupun secara langsung yang diutarakan kepada saya. Biasanya saya mengomentari dengan santai,”<em>ah..nggak juga, karena untuk mendapat Master tidak ada kaitannya dengan kondisi fisik saya yang difabel, saya hanya difabel kaki dan organ lain tubuh saya berfungsi normal. Sehingga tidak berpengaruh banyak pada kemampuan saya untuk melakukan aktivitas akademik</em>”. Kemudian saya selalu menimpali komentar tersebut dengan sedikit humor,”<em>saya baru merasa hebat jika saya menjadi bintang sepak bola club favourit Inggris”</em>.<br />
<span id="more-49"></span><br />
Banyak orang memandang dan sekaligus berkeyakinan bahwa cacat atau difabel adalah hambatan atau minimal keadaan yang tidak mengenakkan bagi yang menyandangnya. Memang pandangan umum tersebut kebanyakan diungkapkan oleh orang yang tidak mengalami kondisi difabel. Tapi apakah benar difabel atau cacat tersebut merupakan kondisi yang tidak mengenakkan? Nah ini tergantung pada individu difabel sendiri yang memandangnya. Dan cara pandang individu difabel tersebut sangat dipengaruhi oleh pola asuh difabel pada masa kecil di lingkungan keluarganya. Sebagian keluarga sangat over protective terhadap anak mereka yang difabel, namun ada pula keluarga yang memperlakukan anak difabel mereka secara wajar sebagaimana memperlakukan anak mereka yang lainnya.</p>
<p>Kebetulan saya dilahirkan dalam keluarga yang tidak begitu protective terhadap kondisi fisik saya yang difabel, meskipun saya tidak dapat mengatakan bahwa orang tua saya lepas begitu saja terhadap aktivitas keseharian saya. Dalam beberapa hal memang orang tua saya masih membantu untuk beberapa aktivitas keseharian saya yang menurut mereka berat untuk saya lakukan misalnya; menimba air dari sumur, menjemur pakaian, mengangkat air, dan aktivitas lain yang dianggap saya tidak mampu melakukannya. Namun untuk hal lain misalnya mencuci baju dan menyelesaikan tugas pribadi keseharian orang tua saya membiarkan saya melakukannya dengan cara saya sendiri. Bahkan dalam hal sikap dan perlakuan orang tua saya tidak membedakan saya dengan kedua adik saya. Ketika saya melakukan kesalahan, maka saya akan menerima hukuman sebagaimana adik saya menerima hukuman dan ketika saya melakukan hal yang baik maka tak segan orang tua saya memberikan hadiah atau pujian secara sewajarnya. Singkatnya kehidupan kanak-kanak saya tidak jauh berbeda dengan kehidupan anak-anak yang lainnya. Jadi saya sangat beruntung karena dapat menikmati masa kanak-kanak secara wajar.</p>
<p>Saya merasa bahwa kondisi tersebut yang mungkin banyak berkontribusi pada pertumbuhan rasa kepercayaan diri yang saya miliki. Seringkali saya merasa bukan sebagai difabel, dan saya yakin hal ini juga dirasakan oleh banyak teman-teman yang kebetulan juga mengalami difabel. Hal ini yang saya sebut sebagai bentuk penerimaan diri (<em>self-acceptance</em>) terhadap kondisi fisik yang menurut orang lain tidak menguntungkan. Namun proses penerimaan diri yang saya miliki hingga menumbuhkan rasa percaya diri bukanlah sebuah hasil instant.<br />
Awal mulanya ketika masa kanak-kanak, memang ada penolakan meskipun tidak terlalu ekstrim terhadap kondisi fisik saya. Hal tersebut sering saya ekspresikan dalam bentuk protes terhadap perintah orang tua. Ketika itu saya berfikir, saya dan adik saya dilahirkan dari seorang ibu yang sama tapi kenapa saya berbeda. Proses penolakan ini terus terjadi hingga saya menginjak usia 15 tahun. Pada usia tersebut saya mulai mengalami perubahan cara pandang, dimana saya melihat bahwa kondisi difabel yang saya alami merupakan taqdir atau kehendak Tuhan yang harus saya terima dan tidak dapat saya tolak. Namun, penerimaan diri tersebut tidak berhenti hingga di situ. Secara spiritual saya selalu berproses untuk menemukan sebuah jawaban “kenapa saya harus terlahir sebagai difabel”. </p>
<p>Pada usia 17 an tahun saya mulai memasuki dunia sebuah pesantren di Jombang. Di situ saya tidak hanya belajar tentang agama namun juga belajar tentang bagaimana hidup mandiri. Nah di pesantren tersebut saya mulai belajar untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang menggelitik tersebut. Memang jawaban yang saya temukan tidak begitu serta merta, namun melalui sesuatu yang saya sebut sebagai dialog bathin. Dimana saya selalu melakukan perenungan atas kejadian yang saya alami dan berusaha membaca hikmah di balik kejadian tersebut. Pada akhirnya saya menemukan bahwa menjadi seorang difabel itu bukan sekedar menjalankan taqdir, namun lebih merupakan menjalankan amanah. Karena saya yakin dan sadar bahwa Tuhan pasti menciptakan semua mahluknya dengan ketersadaran penuh. Sehingga pandangan saya berubah atas kondisi fisik yang saya miliki. Menjadi seorang difabel hanyalah sebuah peran, sebagaimana banyak orang yang memiliki rambut kriting, kulit hitam, atau lainnya. Karena itu tak pantas jika saya selalu meratapi kondisi fisik yang saya miliki.Mensyukuri untuk kemudian memetakan kelebihan yang ada pada diri saya dan selanjutnya memaksimalkannya demi kemaslahatan hidup akan membuat diri ini lebih bermakna. </p>
<p>Satu kunci yang harus dimiliki oleh seorang difabel untuk dapat menjadi sukses dalam hidupnya adalah; menerima dan memaafkan kondisi difabel yang dimilikinya untuk kemudian keluar dari dirinya sendiri dan melakukan hal yang positif dalam kehidupan. Maka kita akan menemukan bahwa difabel itu hanyalah sekedar identitas dan yang jelas hidup akan menjadi ringan untuk dijalankan karena setiap langkah kita akan dihiasi oleh kebermaknaan. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakfu.info/2007/09/menembus-keterbatasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita dari Sahabat</title>
		<link>http://cakfu.info/2006/10/cerita-dari-sahabat/</link>
		<comments>http://cakfu.info/2006/10/cerita-dari-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Oct 2006 23:56:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakfu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakfu.info/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[“Heb je even voor mij…Na…na…na…na…na…na…” Malik berdendang sambil menggoyangkan bahunya naik turun keatas. Dan kakinya pun tak lupa ikut bergoyang. Dimanakah ia melakukan aksinya itu? Di depan seorang oma Belanda! Oma itu duduk di sebelah kami dalam perjalanan kereta api Amsterdam-Groningen. Energi pangeran kecilku ini memang tak ada habisnya. Padahal saat itu kami sudah kelelahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Heb je even voor mij…Na…na…na…na…na…na…”</em> Malik berdendang sambil menggoyangkan bahunya naik turun keatas. Dan kakinya pun tak lupa ikut bergoyang. Dimanakah ia melakukan aksinya itu? Di depan seorang oma Belanda! Oma itu duduk di sebelah kami dalam perjalanan kereta api Amsterdam-Groningen. Energi pangeran kecilku ini memang tak ada habisnya. Padahal saat itu kami sudah kelelahan setelah mengikuti tahrib ramadan di PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa) Amsterdam. </p>
<p>Tentu saja si oma menyambut polahnya, bahkan ia ikut bernyanyi bersama Malik. Lalu, Oma bertanya pada Malik, <em>“Wie zing dat</em> (siapa yang menyanyikan lagu itu) ?” Sambil mesam-mesem penuh percaya diri memperlihatkan deretan gigi mungilnya, Malik menjawab,” <em>Cak Fu!”</em> katanya lucu. <em>Ha ha ha</em>, kontan saja aku dan suamiku terbahak, <em>koq Cak Fu?!</em> Berulang kali mereka bernyanyi lagi. Dan berulangkali pula si oma mengatakan bahwa penyanyi lagu itu adalah <em>Frans Bouwer</em>. Tapi anak lelakiku yang baru berusia 3,5 tahun ini tetap ngeyel,<em>” Cak Fu Bun, Aik betul!”</em> Katanya berusaha meyakinkan aku, agar aku tak tertawa lagi.<br />
<span id="more-41"></span><br />
Hei! Ada apa dengan Cak Fu, mengapa kenangannya bersama Cak Fu begitu melekat kuat? Ah ya! Tentu saja, siapa yang tak kenal Cak Fu. Barangkali hampir setiap  pelajar asal Indonesia di Groningen yang mengenalnya, bahkan anak-anak pun, telah memahat memori indah tentangnya. Hanya sekira setahun ia tinggal di kota Groningen. Beasiswa untuk program Master dari Ford Fondation yang diraihnya telah membawanya kemari. </p>
<p>Namanya Bahrul Fuad, tapi kami biasa memanggilnya Cak Fu. Pria ramah asal Kediri ini selalu tersenyum. Tubuhnya terbilang  mungil. Ya, karena bentuk dan ukuran kakinya memang tak sempurna. Ia tak bisa berjalan dengan kedua kakinya. Hanya kaki kanan yang mampu menopang tubuhnya. Dokter memvonisnya mengalami CP (Cerebral Palsy) sejak usia balita. Tapi dibalik semua itu, ia adalah pria yang penuh percaya diri dan bersemangat tinggi. Bahkan, seorang pejuang!</p>
<p>Kejadian lucu di kereta api itu mengingatkan perpisahanku dengan Cak Fu  beberapa bulan lalu. Dengan scooter khusus bagi orang yang mengalami kesulitan mobilitas, ia bertandang ke rumah kami  sore itu.  Cak Fu senang bernyanyi. Malah ketika PPI Groningen mengadakan acara malam dana bagi korban Tsunami di Aceh, suara Cak Fu lah yang mengiringi tarian Saman dengan nyanyian Acehnya.  </p>
<p>Jadi mengapa Malik keukeuh mengatakan bahwa lagu Heb je even voor mij adalah milik Cak Fu? Karena selama di rumah kami, lagu itulah yang selalu ia nyanyikan bersama anak-anakku. Mereka bernyanyi bersama, bahkan bermain bola bersama. <em>“Aku dulu suka main bola lho Mbak. Dengkulku sampek kandel (lututku sampai tebal),”</em> katanya dengan logat Jawa yang kental. <em>“Aku selalu jadi kiper, karena aku kan kemana-mana merangkak,”</em> lanjutnya lagi.</p>
<p>“Cak Fu bisa dapat beasiswa kesini, dan punya kepercayaan diri yang tinggi ngalahin orang normal, hebat tenan lho Cak. Ceritanya gimana Cak, koq bisa jadi lain begini?” tanyaku  penasaran. “Mungkin faktor orangtua yang sangat berperan Mbak. Kebetulan aku dari keluarga guru, mereka ngerti tentang pendidikan. Orangtuaku menerima aku dengan jujur, apa adanya seperti anak lain. Orangtuaku bisa membangun kepercayaan diriku. Aku dulu dibiarin aja main bola, bedil-bedilan, jumpritan, sampek kulu-kulu berdebu. Di rumah ya dimarahi juga sama ibuku.” Senyum Cak Fu mengembang mengingat masa lalunya.</p>
<p>Pada awalnya orangtua Cak Fu pun ingin merubah kondisi Cak Fu, terutama ayahnya. Cak Fu sempat dibawa ke dukun, kyai, orang pinter, dan juga ke dokter. Malah, saat usianya 4 tahun, oleh salah seorang dukun, Cak Fu pernah disuruh makan gotri (roda gigi sepeda berukuran kecil seperti kelereng). “Ibuku nangis Mbak, Anakku ga oleh dipulosoro (anakku tidak boleh disakiti),” tutur Cak Fu menirukan ibunya yang tersedu-sedu. “Pasti ibunya Cak Fu berproses dan bergejolak juga kan Cak untuk bisa menerima apa adanya dan mendidik Cak Fu dengan baik?” Sahutku ingin tahu.</p>
<p>“Wah ya jelas Mbak. Bagi seorang ibu, melahirkan anak cacat itu sangat berat. Jujur saja, keluarga dan masyarakat masih menganggap kecacatan itu sebagai aib. Ibuku selalu berdoa dan selalu yakin bahwa Allah itu ndak sare (tidak tidur). Bahkan saat aku dikuliahkan, ibuku diejek sama tetangga. Ibuku cuek saja. Ibuku ingin merubah cara pandang masyarakat. Ibuku berprinsip, anakku ini tidak boleh menjadi hinaan orang. Ibu akan buktikan pada orang-orang bahwa anak ibu ini akan jadi orang. Ibuku selalu ngomong begitu Mbak,” cerita Cak Fu panjang lebar. “Memangnya tetangganya Cak Fu mengejek seperti apa Cak?” tanyaku lagi.  “Ya begitu Mbak, ngapain sih anak cacat disekolahkan tinggi-tinggi? Kamu koq sok kaya!” kata Cak Fu mengenang tetangganya.</p>
<p>Karena suka dukanya menjadi orang cacat itulah Cak Fu ingin berjuang untuk kawan-kawannya sesama penyandang cacat. Selama ini kebanyakan orang cacat di Indonesia merasa minder, karena mereka merasa ditolak. Semua orang cacat dianggap tidak mampu memiliki potensi lain. Orang buta misalnya, akhirnya hanya dilatih untuk menjadi tukang pijat, atau pembuat kerajinan tangan saja. Padahal banyak teman Cak Fu disini sesama penyandang cacat yang sukses mendapat beasiswa PhD. Bahkan Profesor Ayub dari Temple University- USA yang pakar studi Islam itu pun seorang tuna netra.</p>
<p>“Kecacatan itu seharusnya dilihat sebagai sebuah realita Mbak, layaknya hidung pesek atau rambut pirang. Kecacatan merupakan bagian dari keragaman dan juga kebesaran Allah. Hingga saat ini, masyarakat Indonesia tidak mendidik orang-orang cacat untuk menerima kecacatannya sebagai sebuah realita. Mestinya, masyarakat yang harus ditata. Seperti halnya di negara-negara maju, orang cacat bisa hidup setara, dalam artian aku cacat, aku butuh ini, maka aku dapat ini, begitu Mbak,” papar Cak Fu penuh semangat.</p>
<p>Dari obrolan panjang dengan Cak Fu, ternyata ada sebuah cita-cita mulia yang hendak diperjuangkannya. Cak Fu ingin menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada semua elemen masyarakat, termasuk penyandang cacat, untuk berpartisipasi dalam aktifitas di masyarakat. Dan kini, sebagai staff di Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Surabaya, ia tengah merintis cita-citanya tersebut. Cak Fu, semoga dengan usahamu, mata-mata kami akan semakin terbuka. Melihat kecacatan sebagai sebuah realita, sebagai kebesaran Sang Pencipta. Kita memang berbeda, tapi di mataNya semua menjadi sama, hanya ketaqwaan manusia jua yang akan dinilaiNya. Selamat berjuang Cak!</p>
<p><em>Ditulis oleh <a href="http://agnes.ismailfahmi.org/home">Agnes Tri Harjaningrum</a>,penulis buku Kitchen Table Melody,tinggal di Groningen, Belanda</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakfu.info/2006/10/cerita-dari-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TUHAN TIDAK MENERIMA TAMU DIFABEL</title>
		<link>http://cakfu.info/2006/09/tuhan-tidak-menerima-tamu-difabel/</link>
		<comments>http://cakfu.info/2006/09/tuhan-tidak-menerima-tamu-difabel/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Sep 2006 06:38:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakfu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakfu.info/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika saya bersama beberapa teman dalam sebuah perjalanan mampir ke masjid Agung Surabaya untuk melakukan sholat Ashar. Hampir tiga jam kami berkeliling memutari bangunan masjid untuk mencari jalan agar kami dapat masuk ke dalam masjid yang megah tersebut. Akhirnya kamipun tetap tidak menemukannya, karena bangunan masjid Agung Al-Akbar tersebut didesain begitu megah dengan dikelilingi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu ketika saya bersama beberapa teman dalam sebuah perjalanan mampir ke masjid Agung Surabaya untuk melakukan sholat Ashar. Hampir tiga jam kami berkeliling memutari bangunan masjid untuk mencari jalan agar kami dapat masuk ke dalam masjid yang megah tersebut. Akhirnya kamipun tetap tidak menemukannya, karena bangunan masjid Agung Al-Akbar tersebut didesain begitu megah dengan dikelilingi puluhan anak tangga. Karena waktu sholat Ashar hampir habis kemudian kami memutuskan untuk mengambil air wudlu. Tidak berbeda kasusnya, kami berlima menuju tempat wudlu dan ternyata tempat wudlu tersebut berada di bawah bangunan masjid megah tersebut. Untuk mencapainya maka kami harus menuruni anak tangga yang jumlahnya sepuluh buah. Saya sempat menatap ke-empat teman saya yang kesemuanya menggunakan kursi roda dan tongkat penyangga. Dalam benakku aku bergumam”<em>Ya..Allah begitu jauh diri Mu untuk kami temui”. </em><br />
<span id="more-38"></span><br />
Akirnya kamipun memutuskan untuk tetap mengambil air wudlu. Satu per satu teman saya tersebut harus digendong oleh satpam Masjid Agung untuk mengambil air wudlu dan masuk ke dalam masjid. Sesampainya di dalam serambi Masjid, kami menemukan tulisan “SUCI-Alas Kaki Harus Dilepas”. Pak Tompul salah seorang teman yang kebetulan kedua kakinya mengalami amputasi hingga paha terlihat kebingungan. Haruskah dia melepas kedua kaki palsunya di tengah tangga masjid. Akhirnya beliaupun melepasnya dan kemudian beliau merangkak menaiki sisa anak tangga untuk menuju kedalam Masjid. Mungkin kejadian semacam ini terlihat “wajar” oleh beberapa orang. Mungkin orang hanya berfikir dengan logika sederhana bahwa bangunan masjid tidak memungkinkan teman – teman saya yang difabel untuk masuk, oleh karena itu mereka harus dibantu dan membantu orang yang membutuhkan (difabel) adalah sebuah kebaikan dan akan mendapatkan pahala.</p>
<p>Ada sebuah pertanyaan yang seketika itu muncul di benak saya. Kenapa kebanyakan bangunan masjid atau bahkan sebagian besar rumah ibadah di Indonesia didesain begitu megah namun tak satupun yang aksesible bagi difabel. Dengan alasan keindahan dan kemegahan, rumah ibadah dibangun dengan tangga-tangga dan dilengkapi pula dengan lantai yang licin serta mengkilap. Bangunan masjid dengan arsitektur semacam itu memang terlihat indah dan setiap agama menganjurkan untuk membangun rumah ibadahnya seindah dan semegah mungkin. Ratusan juta rupiah dana dihabiskan untuk membiayai sebuah bangunan rumah ibadah, bahkan kalau perlu panitia pembangunan rumah ibadah tersebut meminta sumbangan kepada warga sekitar. Dalam Islam diajarkan bahwa jika membangun masjid harus lebih indah dan lebih megah dari rumah penduduk disekitarnya. Namun seindah apapun bangunan masjid dan rumah ibadah yang jelas kawan-kawan kita para difabel tetap tidak akan dapat melakukan sembahyang di dalamnya. </p>
<p>Rumah ibadah sering diidentikkan dengan Rumah Tuhan. Tuhan diyakini sebagai Dzat yang Maha Suci dan Maha Agung, sehingga rumah yang diperuntukkannyapun harus dibuat suci dan megah. Di tempat ibadah tersebut Tuhan tampak begitu eksklusif, Tuhan tampak begitu borju. Tuhan terlihat akrab menyapa kepada mereka yang berpenampilan necis dengan pakaian rapi, harum dan bersih. Sehingga masjid dan rumah ibadah lain tampak sebagai Istana Kerajaan Tuhan yang mewah dan megah.</p>
<p>Para pengemis, pemulung yang compang-camping, dan para difabel tidak diperkenankan masuk kedalam masjid atau tempat ibadah lain. Jadwal pertemuan dengan Tuhanpun harus mengikuti jadwal protokoler pengurus rumah ibadah. Tuhanpun menjadi sangat elit. Sehingga untuk bertemu Tuhanpun seperti ingin bertemu dengan Presiden. Padahal sering kita mendengar ceramah bahwa Tuhan selalu bersama kita, sehingga kita dapat bertemu dengan Dia di manapun dan kapanpun.</p>
<p>Sambil menuruni tangga Masjid pak Tompul bergumam”<em>mau ketemu Tuhan saja kok susah, apa Tuhan memang tidak menerima tamu dari kita yang difabel</em>?”. Sambil tersenyum saya menimpali”<em>yang di dalam Masjid itu Tuhan mereka pak bukan Tuhan kita, Tuhan kita ada di dalam hati ini”.</em> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakfu.info/2006/09/tuhan-tidak-menerima-tamu-difabel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tindakan yang Bertujuan</title>
		<link>http://cakfu.info/2006/09/tindakan-yang-bertujuan/</link>
		<comments>http://cakfu.info/2006/09/tindakan-yang-bertujuan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Sep 2006 06:26:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakfu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakfu.info/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Tindakan yang Bertujuan bagi saya merupakan sebuah tindakan yang didasarkan pada motivasi untuk mencapai sebuah hasil tertentu. Oleh karena itu biasanya seseorang dalam menjalankan Tindakan yang Bertujuan, telah mempersiapkan tahapan-tahapan tindakan sedetail mungkin agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Selain itu seseorang juga akan mempersiapkan beberapa tindakan alternatif yang dipandang strategis yang akan digunakan jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tindakan yang Bertujuan</em> bagi saya merupakan sebuah tindakan yang didasarkan pada motivasi untuk mencapai sebuah hasil tertentu. Oleh karena itu biasanya seseorang dalam menjalankan Tindakan yang Bertujuan, telah mempersiapkan tahapan-tahapan tindakan sedetail mungkin agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Selain itu seseorang juga akan mempersiapkan beberapa tindakan alternatif yang dipandang strategis yang akan digunakan jika sebuah tindakan utama tidak dapat dijalankan dengan sesuatu alasan. Dengan mempersiapkan tindakan alternatif tersebut maka tujuan utama yang ingin dicapai diharapkan akan tetap dapat diraih, karena memang tujuan utama tersebut yang mendorong terjadinya seluruh proses terjadinya sebuah tindakan.<br />
<span id="more-22"></span><br />
Menurut pendapat saya ada 5 (lima) syarat untuk terwujudnya sebuah Tindakan yang Bertujuan;</p>
<p><strong>1.	Tujuan</strong><br />
Aktifitas pertama dan utama yang dilakukan dalam menjalankan <em>Tindakan yang Bertujuan</em> adalah membangun Tujuan itu sendiri. Tujuan (<em>Goal</em>) merupakan magnet dan sekaligus sebagai kompas bagi individu untuk meandu seluruh proses dalam menjalankan Tindakan yang Bertujuan. Seluruh usaha dan aktifitas yang dilakukan oleh individu akan dicurahkan sepenuhnya untuk mencapai tujuan yang diharapkan tersebut. Tujuan (goal) itulah yang kemudian menjadi patokan utama bagi seorang individu untuk menjalankan Tindakan yang Bertujuan. Tanpa tujuan jelas tidak ada Tindakan yang Bertujuan dan itu artinya seluruh tindakan akan menjadi tidak terarah atau tidak terfokus. Sebagai akibatnya seorang individu akan cepat merasa jenuh atau bosan dalam melakukan aktifitas.</p>
<p><strong>2.	Motivasi</strong><br />
Motivasi merupakan salah aspek penting bagi seseorang untuk melakukan sebuah tindakan. Motivasi yang mendorong seorang individu untuk melakukan tindakan dengan tujuan tertentu. Motivasi dibagi kedalam dua kategori.<br />
•	Pertama, <em>intrinsic motivation</em> atau motivasi yang datangnya dari dalam diri individu sendiri. Intrinsic motivation ini cenderung lebih kuat dan lebih awet, karena keberlanjutan motivasi ini tidak mensyaratkan atau digantungkan pada sesuatu. Maka keterpeliharaan motivasi dari dalam ini sangat tergantung pada bagaimana seseorang dapat terus menghidupi visi serta misi hidupnya.<br />
•	Kedua,<em> extrinsic motivation</em>, adalah motivasi yang digantungkan pada faktor-faktor di luar diri individu. Biasanya seseorang akan melakukan sebuah tindakan hanya jika ada reward atau punishment. Jenis motivasi ini tidak permanen dan sustain. Seorang individu akan sangat mudah menyerah dalam melakukan tindakan ketika dia mampu mendapatkan reward yang diharapkan atau di saat seorang individu memperoleh punishment yang sangat ia ditakuti.</p>
<p><em>3.	Alasan</em><br />
Alasan (<em>reason</em>) merupakan aspek terpenting bagi individu untuk menjaga keberlanjutan (<em>sustainability</em>) Tindakan yang Bertujuan.Seorang individu akan mudah menyerah dalam menjalankan tindakannya ketika dia tidak memiliki ‘alasan’ mengapa dan untuk apa harus bertindak. Tanpa mnemiliki alasan untuk bertindak seorang individu hanya akan terombang ambing oleh pengaruh eksternal di tengah proses pencapaian tujuan dalam tindakannya. Sehingga seringkali individu tersebut menjadi ragu terhadap tindakannya sendiri dan kemudian secara perlahan semangat untuk mencapai tujuan yang diharapkan menjadi melemah. ‘Alasan’ dan motivasi memiliki hubungan yang sangat erat dalam proses menjalankan Tindakan yang Bertujuan. ‘Alasan’ ini yang selalu menyalakan motivasi ketika ia meredup oleh serangan “virus” dari luar diri individu.Alasan juga dapat disebut sebagai sebuah determinasi (<em>determination</em>) yang memberikan kekuatan bagi seorang individu meyakini atas pilihan hidupnya.</p>
<p><strong>4.	Kesetiaan</strong><br />
Selain motivasi dan alasan seorang individu butuh sebuah Kesetiaan (<em>commitment</em>) terhadap ‘alasan’ dan ‘motivasi’ untuk melakukan sebuah Tindakan yang Bertujuan. Dalam proses menjalankan Tindakan yang Bertujuan, kesetiaan seorang individu akan selalu diuji oleh godaan-godaan eksternal yang sifatnya sementara seperti materi, power, posisi, fasilitas, dan kemapanan. Kesetiaan ini merupakan aspek yang sangat rawan dalam proses menjalankan Tindakan yang Bertujuan. Oleh karena itu dalam merawat kesetiaan ini seseorang butuh untuk selalu melihat kembali serta merenungkan ‘alasan’ yang dimiliki dalam menjalankan sebuah Tindakan yang Bertujuan.</p>
<p><strong>5.	Kepercayaan Diri</strong><br />
Faktor yang tidak kalah pentingnya dalam menjalankan Tindakan yang Bertujuan adalah Kepercayaan Diri (Self Confidence). Kepercayaan diri sangat dibutuhkan oleh seorang individu sebagai bahan bakar untuk menjalankan sebuah Tindakan yang Bertujuan. Tujuan, motivasi, alasan, dan kesetiaan belumlah cukup bagi seorang individu untuk dapat menjalankan sebuah Tindakan yang Bertujuan. Akibatnya Tindakan yang Bertujuan hanya akan menjadi sebuah mimpi indah ketika seorang individu tidak memiliki kepercayaan diri untuk menjalankannya. Kepercayaan diri dapat dibangun melalui penggalian potensi diri (<em>talent</em>) yang dimiliki oleh seorang individu. Ketika seorang individu memiliki potensi diri yang telah dikembangkan, maka akan muncul perasaan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan yang telah diputuskan. Kepercayaan diri ini harus selalu dipupuk dan diremajakan agar tidak layu. Karena kepercayaan diri ini sangat rentan dengan perubahan iklim lingkungan di mana seorang individu berada. Salah satu cara memupuk kepercayaan diri tersebut adalah dengan terus mengisi diri dengan pengetahuan dan ketrampilan baru. Sehingga pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh individu tersebut akan selalu up to date. Dengan demikian maka individu tersebut akan selalu mampu untuk beradaptasi dengan perubahan waktu dan tempat. Pada akirnya Tindakan yang Bertujuan akan dapat selalu dijalankan secara kontinyu.  </p>
<p>Kelima aspek di atas harus dijalankan secara simultan dan berkelanjutan. Satu diantara kelima aspek tersebut hilang maka Tindakan yang Bertujuan tersebut akan sulit untuk dijalankan. Sehingga kelima aspek tersebut sama – sama pentingnya, salah satu diantaranya tidak boleh diutamakan sehingga mengesampingkan yang lain.</p>
<p>Menurut pendapat saya faktor yang menghambat terlaksananya Tindakan yang Bertujuan adalah;</p>
<p><strong>Distorsi Kehidupan</strong><em></p>
<p>Saya menyebutnya sebagai Distorsi Kehidupan, karena ketika visi dan misi kehidupan seorang individu telah terdistorsi oleh kondisi eksternal maupun internal dari individu, maka pelaksanaan Tindakan yang Bertujuan akan terhambat.</p>
<p>Kondisi eksternal yang berpengaruh terhadap terjadinya Distorsi Kehidupan antara lain intervensi individu lain terhadap pribadi seorang individu. Sehingga biasanya kondisi ini secara perlahan dan tidak disadari akan menggeser visi dan misi hidup seseorang. Kondisi ini terjadi karena individu yang bersangkutan secara tidak sadar telah menjalin hubungan saling ketergantungan dengan individu lain. Sehingga ketika terjadi perubahan sikap atau kondisi pada individu di luar dirinya, maka visi dan misi kehidupan individu yang bersangkutan juga akan berubah. Hal ini dapat terjadi karena individu yang bersangkutan dibayangi oleh perasaan yang tidak beralasan.</p>
<p>Perasaan – perasan yang mendominasi pada kondisi ini antara lain; perasaan takut salah, sungkan, perasaan takut kehilangan, dan perasaan lainnya. Sehingga individu yang bersangkutan selalu berusaha untuk menyesuaikan dengan tuntutan lingkungan dimana dia berada.  </p>
<p>Kondisi internal yang berpengaruh terhadap terjadinya Distorsi Kehidupan adalah munculnya harapan baru yang dimiliki oleh seorang individu. Harapan baru pada dasarnya tidak menjadi masalah ketika harapan tersebut tidak jauh melenceng dari tujuan utama. Namun jika harapan baru tersebut telah jauh dari tujuan utama maka harapan tersebut akan mendistorsi tujuan yang sudah ditetapkan di awal. Salah satu contoh kondisi internal yang dapat berpengaruh pada munculnya Distorsi Kehidupan adalah kegagalan. Kegagalan dapat menimbulkan dua macam akibat tergantung pada daya kepribadian seorang individu. Pada individu yang memiliki daya kepribadian yang kuat maka kegagalan dapat dimaknai sebagai sebuah pemacu untuk terus melakukan karya. Namun bagi mereka yang memiliki daya kepribadian lemah, kegagalan akan dipandang sebagai sebuah ancaman. Sehingga hal yang sering dilakukan oleh individu tipe ini adalah berusaha mengubah tujuan utama dengan standard yang lebih rendah. Hal ini dilakukan untuk mengambil posisi aman dalam proses pelaksanaan Tindakan yang Bertujuan. Menurut hemat saya kondisi semacam ini pada dasarnya sama saja artinya bahwa Tindakan yang Bertujuan tidak terlaksana karena tujuan utama telah diubah menjadi tujuan turunan.    </p>
<p>Kedua kondisidi atas dapat dieliminir dengan cara senantiasa merawat visi dan misi kehidupan pribadi kita masing-masing. Perawatan visi dan misi tersebut dapat dilakukan dengan memperbaharui motivasi dan melakukan refleksi terhadap alasan dan komitmen yang telah dibangun.</p>
<p></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakfu.info/2006/09/tindakan-yang-bertujuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mewujudkan Surabaya untuk Semua</title>
		<link>http://cakfu.info/2006/07/mewujudkan-surabaya-untuk-semua/</link>
		<comments>http://cakfu.info/2006/07/mewujudkan-surabaya-untuk-semua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Jul 2006 16:08:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakfu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakfu.info/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 17 Juli 2006, Kompas Jawa Timur memuat dua buah liputan yang berjudul ‘Butuh Ruang untuk Masyarakat Inklusif’ dan ‘Memimpikan Surabaya lebih Humanis’. Kedua tulisan tersebut menyorot tentang tidak tersedianya ruang publik yang aksesibel bagi para difable. Selama ini memang fasilitas publik yang ada tidak ramah terdahap keberadaan para difable. Sehingga kondisi ini menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 17 Juli 2006, Kompas Jawa Timur memuat dua buah liputan yang berjudul ‘Butuh Ruang untuk Masyarakat Inklusif’ dan ‘Memimpikan Surabaya lebih Humanis’. Kedua tulisan tersebut menyorot tentang tidak tersedianya ruang publik yang aksesibel bagi para difable. Selama ini memang fasilitas publik yang ada tidak ramah terdahap keberadaan para difable. Sehingga kondisi ini menjadi penghambat bagi kelompok difable untuk bersosialisasi dalam aktifitas bermasyarakat.</p>
<p>Tidak sedikit peraturan atau perundang-undangan yang mengatur tentang keberadaan para difable yang dulunya disebut sebagai penyandang cacat. Tercatat sudah ada 14 undang – undang yang disahkan menyangkut keberadaan para difable. Berkaitan dengan aksesibilitas fasilitas umum, pemerintah secara khusus telah mengeluarkan dua buah Keputusan Mentri (Kepmen). Pertama Kepmen Pekerjaan Umum (PU) Nomor 468 tahun 1998 tentang Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan dan Lingkungan dan kedua adalah Kepmen Perhubungan Nomor 71 tahun 1999 tentang aksesibitas transportasi umum bagi difable. Namun hingga saat ini dua Keputusan Mentri tersebut belum juga teralisasi. Alasan yang disampaikan seringkali bersifat klasik, yaitu tidak tersedianya anggaran yang cukup untuk membangun fasilitas umum yang aksesible bagi difable.</p>
<p><span id="more-8"></span></p>
<p>Para difable juga memiliki kewajiban yang harus mereka jalankan dan hak yang harus mereka dapatkan sebagaimana kelompok masyarakat yang lain. Pada kenyataannya keberadaan difable sering kali disikapi oleh pemerintah sebagai sebuah persoalan yang tidak perlu diprioritaskan. Perhatian pemerintah lebih tersedot pada pembangunan ekonomi, pertarungan politik elit, dan pembangunan sarana fisik yang kesemuanya jauh dari perspektif difable. Sehingga para difable harus rela untuk duduk di deret paling belakang dan menjadi penonton dari seluruh proses dinamika pembangunan. </p>
<p>Jika anggaran yang dijadikan alasan dalam penyediaan fasilitas publik yang aksesibel bagi difabel, maka sampai kapanpun fasilitas publik tersebut tidak akan pernah terpenuhi. Penyediaan fasilitas publik yang aksesibel bagi difabel harus dipahami dalam konteks pemenuhan hak bagi difabel, bukan penyediaan fasilitas khusus. Selama ini penyediaan fasilitas publik yang aksesibel untuk difable masih dipandang sebagai penyediaan fasilitas khusus. Sehingga para pengambil kebijakan selalu memberikan alasan bahwa pemerintah pada dasarnya sudah berusaha memenuhi fasilitas tersebut, namun dilakukan secara bertahap. Kita semua tidak akan pernah tahu kapan tahapan tersebut akan berakhir.</p>
<p>Peraturan sudah tersedia, sehingga pada dasarnya pemerintah kota tinggal menjalankan sesuai dengan mekanisme yang telah diatur. Kita tidak bisa menggantungkan kesadaran masyarakat atau institusi dalam pemenuhan kebutuhan fasilitas publik untuk difable, seperti yang dikatakan Wakil Wali Kota pada Kompas Jatim 17 Juli 2006. Kesadaran tidak akan muncul jika peraturan tidak diterapkan. Karena peraturan selain berfungsi sebagai alat enforcement juga berfungsi sebagai media sosialisasi. Publik tidak akan pernah tahu jika peraturan tentang kewajiban menyediakan fasilitas publik yang aksesible untuk difable tidak diimplementasikan.</p>
<p>Sebenarnya penyediaan fasilitas publik yang aksesible bagi difable tidaklah terlalu rumit untuk dilakukan sebagaimana yang kita bayangkan. Para pengambil kebijakan selalu merasa  ketakutan karena berfikir bahwa penyediaan fasilitas publik yang aksesibel bagi difabel berarti harus membongkar total fasilitas publik yang sudah ada sekarang. Padahal penyediaan  fasilitas tersebut dapat dilakukan dengan melengkapi fasilitas yang sudah ada dengan akses yang memungkinkan para difabel untuk memanfaatkannya. Misalkan dengan menambah sebuah ram di salah satu pintu masuk sebuah bangunan publik, sehingga memudahkan para difabel untuk mengakses bangunan tersebut. Alternatif lain adalah dengan mengintegrasikan peraturan yang sudah ada (Kepmen) tersebut dalam proses pengurusan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) bagi para pengembang. Dengan demikian maka dapat dipastikan fasilitas publik yang nantinya tersedia akan aksesibel bagi difabel, selain itu kebijakan semacam ini akan dapat menekan anggaran pemerintah dalam penyediaan fasilitas publik yang aksesibel bagi difabel. Bagaimanapun hal ini kembali pada niat baik pemerintah untuk menjalankan peraturan tersebut secara konsekwen.</p>
<p>Penyediaan fasilitas publik yang aksesibel bagi difable secara tidak langsung akan berdampak sangat besar bagi kehidupan mereka baik secara sosial maupun ekonomi. Dengan tersedianya fasilitas tersebut maka ruang interaksi sosial antara difabel dengan masyarakat akan terbuka lebar, itu berarti kesempatan untuk berkarya dan beraktualisasi diri bagi komunitas difabe juga akan terbuka lebar. Selanjutnya mereka dapat berpartisipasi secara penuh dalam aktifitas sosial dan ekonomi di masyarakat. Pada akhirnya diharapkan kondisi ini akan berdampak pada meningkatnya taraf kehidupan ekonomi mereka. Selain itu tersedianya fasilitas publik yang aksesibel bagi difabel juga akan membantu kelompok masyarakat rentan yang lain yaitu kelompok lanjut usia dan ibu hamil atau orang sakit untuk dapat bersosialisasi dengan masyarakat secara penuh. </p>
<p>Secara realitas kelompok difable hadir sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat lainnya. Keberadaan mereka sebenarnya tidak berbeda jauh dengan kelompok masyarakat lainnya. Mereka juga punya kesempatan untuk berpartisipasi dan berkontribusi secara setara dan wajar dalam setiap proses dinamika kehidupan masyarakat.Ruang yang terbuka dan aksesibel bagi para difabel mutlak untuk tersedia, agar kehidupan mereka tidak terisolasi dari dinamika masyarakat. </p>
<p>Redesign terhadap tata ruang Kota Surabaya ke depan diharapkan dapat mengakomodir kebutuhan dari seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali, termasuk di dalamnya kelompok difable. Sehingga cita-cita untuk membangun masyarakat Surabaya sehat dan manusiawi dalam visi kota Surabaya dapat terwujud dengan menciptakan Kota Surabaya untuk semua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakfu.info/2006/07/mewujudkan-surabaya-untuk-semua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Difable dan Bencana Alam</title>
		<link>http://cakfu.info/2006/07/difable-dan-bencana-alam/</link>
		<comments>http://cakfu.info/2006/07/difable-dan-bencana-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Jul 2006 07:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakfu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakfu.info/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia merupakan salah satu daerah  rawan terhadap terjadinya bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, dan tanah longsor. Tidak dapat dipungkiri bahwa bencana alam tersebut telah banyak menimbulkan kerusakan baik fisik maupun sosial. Namun ada satu hal penting yang selama ini kurang mendapatkan perhatian kita adalah realita bahwa bencana alam selain menimbulkan korban jiwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia merupakan salah satu daerah  rawan terhadap terjadinya bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, dan tanah longsor. Tidak dapat dipungkiri bahwa bencana alam tersebut telah banyak menimbulkan kerusakan baik fisik maupun sosial. Namun ada satu hal penting yang selama ini kurang mendapatkan perhatian kita adalah realita bahwa bencana alam selain menimbulkan korban jiwa juga menyebabkan beberapa korban selamat menjadi difable (cacat). Banyak dari korban yang kemudian kehilangan kaki, lengan, atau fungsi fisik lainnya seperti fungsi penglihatan dan pendengaran selama proses penyelamatan diri.</p>
<p>Ada dua kelompok difable pada situasi bencana alam, pertama adalah mereka yang sudah menjadi difable sebelum terjadinya bencana (<i>existed difable</i>) dan kedua adalah mereka yang menjadi difable akibat dari terjadinya bencana (<i>newly difable</i>). Kedua kelompok ini memiliki persoalan yang hampir sama dalam situasi bencana, dimana fasilitas yang tersedia di barak pengungsian kebanyakan tidak ramah terhadap keberadaan mereka. Sehingga seringkali para difable mengalami penderitaan yang lebih berat dibandingkan dengan para korban selamat lainnya. Persoalan lain yang cukup penting adalah kenyataan bahwa negeri ini belum memiliki sistem peringatan dini (<i>Early Warning System</i>) dan sistem evakuasi bencana alam yang aksesibel terhadap keberadan difable. Sehingga konsekuensinya para difable menjadi kelompok yang beresiko tinggi saat terjadinya bencana. Banyak dari para difabel yang kemudian kehilangan alat bantu mereka seperti kursi roda, kruk dan tongkat petunjuk bagi mereka yang difable netra.</p>
<p><span id="more-7"></span></p>
<p>Permasalahan lain yang dihadapi difabel adalah kesempatan mereka untuk menyelamatkan diri pada situasi panik sangatlah terbatas karena tidak tersedianya alat transportasi yang aksesibel bagi mereka. Selain itu kenyataan bahwa sistem evakuasi bencana yang ada belum memperhitungkan keberadaan para kelompok rentan termasuk di dalamnya difable. Sistem evakuasi bencana yang ada masih berdasar pada evakuasi terhadap masyarakat normal. Untuk itu perlu didesign sebuah sistem evakuasi bencana yang memperhitungkan keberadaan para kelompok rentan (vulnerable group); anak-anak, ibu hamil, lanjut usia dan difable.</p>
<p>Seperti pada kasus Tsunami di Aceh dan beberapa kasus bencana alam di tempat lain dimana sebagian dari korban selamat banyak yang kemudian menjadi difable. Namun keberadaan mereka paska terjadinya bencana kurang mendapatkan perhatian baik dari lembaga internasional maupun pemerintah sendiri. Kondisi para difabel paska bencana cukup parah baik secara sosial maupun psikologis. Banyak dari mereka yang kemudian mengalami trauma berat dan merasa rendah diri akibat dari kenyataan bahwa kondisi tubuh mereka tidak selengkap seperti dulu. Akibatnya para korban difabel tersebut yang terisolasi dalam rumah.</p>
<p>Selama ini saat pelaksanaan evakuasi bencana, para korban seringkali ditempatkan di penampungan sementara seperti di sekolah, kantor kecamatan, atau lapangan yang tentu kondisinya sungguh tidak layak untuk para difable. Keberadaan sistem sanitasi, struktur bangunan, dan kondisi lingkungan fisik lainnya jelas menyulitkan para difable untuk melakukan aktifitasnya sehari-hari. </p>
<p>Selain itu sistem distribusi bantuan di tempat pengungsian selama ini juga kurang dapat memberikan akses terhadap keberadaan para difable. Seperti misalnya, distribusi bantuan makanan yang seringkali dilakukan dengan cara mengedrop makanan dengan helikopter menimbulkan situasi saling berebut diantara para pengungsi. Kondisi semacam ini jelas tidak menguntungkan bagi para kelompok rentan seperti wanita, lanjut usia, anak-anak termasuk juga para difable. Mereka jelas tersingkirkan karena tidak mampu mengakses bantuan yang sebenarnya sangat mereka butuhkan.</p>
<p>Keberadaan para kelompok rentan (<i>vulnerable group</i>) termasuk difable seharusnya menjadi referensi utama dalam penanganan korban pada situasi bencana. Hal ini disebabkan jumlah korban selamat yang kemudian menjadi difable tidak sedikit. Selain itu sangat terkait dengan bagaimana sistem distribusi bantuan, pembangunan infrastruktur baik pada program rekontruksi (<i>reconstruction program</i>) maupun pada program pengembangan masyarakatnya (<i>development program</i>). Seringkali yang terjadi selama ini bahwa program-program yang dirancang untuk merespon bencana kurang memperhatikan keberadaan para difable. Sehingga banyak para difable yang kemudian termarjinalisasi dan terisolasi paska terjadinya bencana alam.  </p>
<p>##Penanganan yang Komprehensif##</p>
<p>Para difable atau korban selamat yang kemudian menjadi difable saat terjadinya bencana mengalami persoalan dalam penyusaian diri terhadap kondisi fisik, psikologis, dan sosial yang ada setelah terjadinya bencana. Perubahan fisik yang terjadi selain menimbulkan trauma psikologis juga menimbulkan persoalan sosial bagi mereka. Seringkali kondisi tersebut memunculkan konflik batin bagi korban yang bersangkutan untuk bisa menerima kenyataan bahwa kondisi fisik mereka sudah tidak seperti dulu.</p>
<p>Ketika seseorang menjadi difable, maka dia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa sebagian fungsi tubuhnya hilang, itu artinya dia juga harus kehilangan pekerjaan yang sebelumnya mereka miliki. Berbeda dengan para korban lain yang dengan begitu cepat dapat menyesuaikan diri, para difable memiliki kebutuhan khusus untuk dapat segera kembali melakukan aktifitas normalnya sehari-hari. Untuk itu maka penanganan paska bencana harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan berbagai sudut pandang, baik dari segi infrastruktur fisik, ekonomi dan sosial. Dengan begitu persoalan – persoalan yang dihadapi oleh difable paska bencana dapat diminimalisir.</p>
<p>Dalam perencanaan rekonstruksi bangunan paska terjadinya bencana alam semaksimal mungkin harus mempertimbangkan faktor aksesibilitas sehingga fasilitas yang dibangun dapat mengakomodasi keberadaan para difable. Hal ini juga berlaku pada saat emergency respond di daerah pengungsian, dimana fasilitas yang dibangun harus juga memperhatikan keberadaan para difable sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan aktifitasnya sehari-hari.  Selain itu kebutuhan yang perlu dipertimbangkan adalah pertama,sistem komunikasi yang aksesible. Sistem komunikasi dalam situasi bencana memainkan peranan penting dalam keselamatan korban. Selama ini kita masih banyak menggunakan sistem komunikasi audio seperti alarm untuk menyampaikan peringatan terjadinya bahaya bencana. Sistem seperti ini jelas tidak dapat diakses oleh mereka kelompok difable rungu. Sehingga memang sudah seharusnya didesain sebuah sistem komunikasi audio visual sehingga memungkinkan para difable rungu untuk mengaksesnya. Kedua desain sistem evakuasi bencana yang aksesible sehingga memungkinkan untuk mengevakuasi para difable yang memiliki persoalan mobilitas di situasi bencana. Ketiga, tentang bagaimana membangun sistem distribusi bantuan yang merata dan memungkinkan bantuan tersebut dapat diterima langsung oleh yang membutuhkan. Sistem distribusi bantuan yang ada sekarang sangat tidak memungkinkan bagi para difable dan kelompok rentan lain untuk mengaksesnya. Sehingga kondisi ini menyebabkan para difable seringkali tidak mendapatkan jatah mereka kecuali hanya menggantungkan dari belas kasihan teman dan saudara.</p>
<p>Dimensi lain yang perlu diperhatikan dalam situasi bencana adalah dimensi ekonomi.Banyak dari para korban bencana yang kemudian kehilangan mata pencaharian paska terjadinya bencana karena rusaknya infrastruktur dimana mereka dulu bekerja. Selain itu hilangnya mata pencaharian juga disebabkan oleh kondisi sebagian mereka yang menjadi difable sehingga kehilangan fungsi tubuhnya untuk melakukan aktifitas bekerja sebagaimana sebelumnya. Untuk itu perlu didesign sebuah sistem pengembangan ekonomi bagi para korban bencana yang bertumpu pada semangat kewirausahaan dengan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi lokal yang dimiliki daerah. Untuk itu pemberian bekal ketrampilan untuk mengolah potensi lokal harus segera dilakukan serta segera menghentikan pemberian bantuan yang bersifat karitatif. Karena pemberian bantuan karitatif dalam jangka waktu lama hanya akan membuat para korban menjadi tergantung dan tidak mandiri.</p>
<p>Dimensi terakhir adalah dimensi sosial psikologi. Dimana dimensi ini sangat berpengaruh dalam kehidupan selanjutnya para difable di masyarakat. Sementara ini masih banyak pandangan di masyarakat bahwa difable merupakan sebuah kondisi yang tidak menguntungkan dan perlu untuk dikasiani atau disantuni. Sebagian para difable sendiri juga masih memandang difable sebagai kondisi yang memalukan sehingga ada kecendrungan dari para difable untuk mengurung diri di rumah. Pandangan-pandangan tersebut menjadi telah menjadi hambatan sosial bagi para difable untuk melakukan interaksi sosial di masyarakat secara penuh. Oleh karena itu perlu dirancang sebuah program dan aktifitas yang memberi kesempatan bagi para difable untuk berpartisipasi secara terbuka dalam aktifitas sosial di masyarakat.</p>
<p>Kita memang tidak dapat mengelak terhadap terjadinya bencana alam dan akibat yang ditimbulkannya. Yang dapat kita lakukan hanyalah bagaimana kita dapat meminimalisir penderitaan yang dialami oleh para korban dengan memberikan pelayanan bantuan sebaik-baiknya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakfu.info/2006/07/difable-dan-bencana-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
