Posted by cakfu @ 11:30 on October 3rd 2006

Zakat : Sumberdaya yang terabaikan

Setiap tahun di bulan Ramadhan, Zakat menjadi primadona yang marak dibicarakan orang disampaing puasa yang merupakan isu pokok dibulan Ramadhan. Banyak orang ramai membicarakan Zakat baik melalui artikel, opini dikoran dan majalah ataupun menjadi tema pokok dalam acara ceramah subuh dan dialog menjelang berbuka ditelevisi.

Memang zakat selain menjadi salah satu rukun Islam, Zakat juga memiliki kedudukan sangat penting dalam Al Quran. Oleh karena itu Allah s.w.t meletakkan perintah zakat ini pada posisi kedua setelah sholat. Ada sekitar 30 ayat dalam Al Quran yang menerangkan Zakat dan sekitar 27 ayat diantaranya mencantumkan kata zakat bersamaan dengan perintah sholat. “Aqimish sholaata wa atuzhzhakaata….”. dari sini kita dapat melihat betapa urgennya persoalan zakat ini. Sholat sebagai manifestasi keimanan umat pada sang Khaliq, sementara Zakat merupakan berkas sinar keimanan seorang hamba yang terpancarkan melalui kepedulian sosial.
(more…)

Posted by cakfu @ 11:13 on October 3rd 2006

Undang – Undang itu Hanya Janji Manis

Di sore yang cerah, kami berempat; Pak Tompul, Pak Kamto, Pak Nur, dan saya sharing-berbagi pikiran- di tengah kebun. Sharing merupakan aktifitas rutin yang kami lakukan seusai berkebun tanaman obat dan sayur. Kebun kami memang tidak luas, ia hanya sepetak tanah ukuran 3×3 meter yang berada di depan kantor saya Pusdakota – Ubaya. Berkebun dan sharing merupakan aktifitas yang kami rancang sebagai media perjumpaan baik antara sesama teman difabel maupun antara difabel dengan anggota masyarakat lain.

Sore itu pak Nur bercerita tentang pengalaman beliau beberapa tahun yang lalu. Di mana pak Nur yang asli Pasuruan itu bermaksud untuk pulang kampung karena sudah 2 tahun tidak pulang. Karena untuk pulang ke kampungnya di Pasuruan, selain mahal ongkosnya juga pak Nur merasa kesulitan untuk memanfaatkan alat transportasi umum. Pak Nur bersama bebrapa teman difabel lainnya bekerja di PT.Kedawung Surabaya, sebuah perusahaan barang pecah belah yang juga menerima para difabel sebagai karyawan. Sehingga minimal 1 tahun sekali khususnya saat Idul Fitri mereka pulang kampung.

Saat itu pak Nur berencana pulang kampung bersama anak dan istrinya. Maklum Pak Nur adalah seorang karyawan rendahan, maka beliau memilih angkutan umum yang jauh lebih terjangkau dengan koceknya daripada menyewa travel-jasa angkutan antar jemput- yang jelas lebih memudahkan beliau. Namun memang jasa travel ongkosnya bisa dua atau bahkan tiga kali lipat dari harga tiket angkutan umum. Dari kos tempat tinggalnya pak Nur dan keluarganya naik becak menuju terminal. Jelas biaya becaknya juga mahal karena jarak kos tempat tinggalnya dengan terminal bis cukup jauh. Setelah sampai di terminal bis pak Nur bersama istri dan anaknya menuju tempat pemberangkatan bis antar kota. Namun karena ditempat tersebut cukup padat dengan penumpang yang akan mudik, maka pak Nur dan keluarga berpindah tempat menuju yang agak sepi yaitu di pintu tempat keluarnya bis dari terminal. Jelas untuk mencapai tempat itu pak Nur haru bersusah payah karena beliau hanya bisa merangkak kemanapun dia pergi. Kita bisa bayangkan betapa keras perjuangan pak Nur yang harus merangkak di atas aspal terminal yang panas karena sinaran terik matahari.
(more…)

Posted by cakfu @ 06:56 on October 3rd 2006

Cerita dari Sahabat

“Heb je even voor mij…Na…na…na…na…na…na…” Malik berdendang sambil menggoyangkan bahunya naik turun keatas. Dan kakinya pun tak lupa ikut bergoyang. Dimanakah ia melakukan aksinya itu? Di depan seorang oma Belanda! Oma itu duduk di sebelah kami dalam perjalanan kereta api Amsterdam-Groningen. Energi pangeran kecilku ini memang tak ada habisnya. Padahal saat itu kami sudah kelelahan setelah mengikuti tahrib ramadan di PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa) Amsterdam.

Tentu saja si oma menyambut polahnya, bahkan ia ikut bernyanyi bersama Malik. Lalu, Oma bertanya pada Malik, “Wie zing dat (siapa yang menyanyikan lagu itu) ?” Sambil mesam-mesem penuh percaya diri memperlihatkan deretan gigi mungilnya, Malik menjawab,” Cak Fu!” katanya lucu. Ha ha ha, kontan saja aku dan suamiku terbahak, koq Cak Fu?! Berulang kali mereka bernyanyi lagi. Dan berulangkali pula si oma mengatakan bahwa penyanyi lagu itu adalah Frans Bouwer. Tapi anak lelakiku yang baru berusia 3,5 tahun ini tetap ngeyel,” Cak Fu Bun, Aik betul!” Katanya berusaha meyakinkan aku, agar aku tak tertawa lagi.
(more…)

Posted by cakfu @ 02:27 on September 27th 2006

I am a Difable Person not a Disabled Person

Normally persons who have a different physical or mental condition are called as a disabled person. It is not clear the root of the term of disabled people is created. But in the reality disabled people seems to be the right word to describe the condition of persons who have – according to common people- difficulties to perform their daily life. The common people have a negative perception toward disabled people that they are unable to perform their daily activities without help of other persons. In addition, disabled persons are also regarded neither as ineffective nor inefficient individuals. Therefore, it can be assumed that this negative perception perhaps becomes the reason where the term of disability comes from.
(more…)

Posted by cakfu @ 02:25 on September 27th 2006

Disability – From Individual to Social Model

Traditionally, disability is viewed as a medical problem rather than a social problem and therefore, medical treatments are perceived as the best way to solve the problems of disability. This view focuses on bodily abnormality, disorder or deficiency, and the way in which this in turn causes some degree of disability or functional limitations. In this medical model, disability is seen as a contrast to the notion of normalcy, a state that an average human being should be in. In addition, this model also places people with impairment in a dependent position. Furthermore, disabled people are even assumed not to be able to make decisions by themselves.
(more…)

Posted by cakfu @ 13:38 on September 20th 2006

TUHAN TIDAK MENERIMA TAMU DIFABEL

Suatu ketika saya bersama beberapa teman dalam sebuah perjalanan mampir ke masjid Agung Surabaya untuk melakukan sholat Ashar. Hampir tiga jam kami berkeliling memutari bangunan masjid untuk mencari jalan agar kami dapat masuk ke dalam masjid yang megah tersebut. Akhirnya kamipun tetap tidak menemukannya, karena bangunan masjid Agung Al-Akbar tersebut didesain begitu megah dengan dikelilingi puluhan anak tangga. Karena waktu sholat Ashar hampir habis kemudian kami memutuskan untuk mengambil air wudlu. Tidak berbeda kasusnya, kami berlima menuju tempat wudlu dan ternyata tempat wudlu tersebut berada di bawah bangunan masjid megah tersebut. Untuk mencapainya maka kami harus menuruni anak tangga yang jumlahnya sepuluh buah. Saya sempat menatap ke-empat teman saya yang kesemuanya menggunakan kursi roda dan tongkat penyangga. Dalam benakku aku bergumam”Ya..Allah begitu jauh diri Mu untuk kami temui”.
(more…)

Posted by cakfu @ 08:35 on September 20th 2006

Kecacatan dalam Belenggu Terminology

Saya agak merasa risih ketika disebut sebagai penyandang cacat (Disabled Person) bukan karena saya tidak bisa menerima kenyataan yang ada pada diri saya, namun lebih disebabkan oleh istilah cacat itu sendiri. Istilah yang sampai sekarang saya tidak mengerti maksud dan latar belakang penggunaannya.

Kata atau istilah yang dilekatkan pada para penyandang cacat (baik dalam bahasa Indonesia ataupun Inggris) selama ini lebih banyak mengacu kepada ketidak mampuan, kelemahan, ketidak berdayaan, kerusakan dan makna lain yang cenderung negatif. Seperti Tuna Netra, Tuna Rungu, bahkan kata cacat itu sendiri.Tuna berarti hilang atau tidak memiliki, sedangkan cacat bermakna rusak. Begitu juga dalam bahasa Inggris kita temukan ada Disability yang artinya ketidakmampuan, invalid yang berarti tidak lengkap. Saya sendiri tidak dapat memahami kenapa kata-kata tersebut dipilih untuk menggambarkan kondisi atau keadaan fisik yang hanya “kebetulan berbeda” dari yang lain umumnya.

Istilah tersebut diatas baik secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan pengaruh psikologis yang cukup signifikan bukan hanya terhadap penyandang istilah itu sendiri namun juga terhadap sikap serta prilaku masyarakat terhadap kelompok penyandang istilah tersebut. Hanya karena istilah yang disandangnya mereka menjadi rendah diri, inferior, malu, merasa tak berguna dan tak punya harapan. Dilain pihak masyarakat memperlakukan mereka secara tidak adil, mereka dianggap sebagai kelompok tidak produktif, lemah dan hanya perlu untuk dikasihani dan disantuni. Lebih parah lagi mereka oleh para “orang sholeh” dijadikan ladang kebajikan untuk menggali “pahala”.
(more…)

Posted by cakfu @ 08:33 on September 20th 2006

Difabel dan Keberpihakan Kata

Seorang teman berkomentar tentang tulisan saya terdahulu yang berjudul Teologi Kecacatan, “Saya juga tidak setuju dengan istilah penyandang cacat. Kata cacat memang sangat tidak enak terdengar di telinga.” Komentar tersebut dapat dipandang mewakili opini masyarakat terhadap istilah cacat yang dilekatkan pada kelompok masyarakat tetentu. Masyarakat sendiri ternyata merasakan hal yang kurang nyaman jika mengucapkan kata cacat pada seseorang. Sering seseorang minta maaf terlebih dahulu sebelum menyebutkan nama seseorang yang diikuti kata cacat dibelakangnya. Misalkan, “Saya kenal dengan si Fulan yang (maaf) cacat itu”. Memang masyarakat tidak disodori pilihan dalam hal ini, sehingga mereka terpaksa harus mengucapkan kata cacat karena memang itu satu-satunya kata yang tersedia. Tapi kenapa harus disertai kata maaf?
(more…)

Posted by cakfu @ 08:30 on September 20th 2006

Diskriminasi : Perasaan atau Realitas?

Seorang teman berbicara pada saya dalam sebuah perjalanan di kereta menuju Amsterdam,“ Jika kamu bicara soal kecacatan selalu kamu kaitkan dengan diskriminasi”. Selanjutnya teman baik saya itu menyeletuk,” Jangan-jangan diskriminasi itu hanya perasaanmu saja”. Omongan setengah guyon itu seakan telah membangunkan kesadaran kritis saya untuk melihat secara lebih netral mahluk yang namanya “diskriminasi”. Dalam konteks sebagai seorang penyandang cacat memang sulit bagi saya untuk melihat secara jelas batasan antara perlakuan diskriminasi dan sebuah realitas yang disebabkan oleh kondisi kecacatan yang saya sandang. Oleh karena itu sungguh menarik untuk mengulas tema diskriminasi ini dari dua sudut pandang teori dan realitas pengalaman kehidupan.
(more…)

Posted by cakfu @ 21:13 on September 13th 2006

MITOS

Pengalaman yang diceritakan oleh saudara Idrus dalam kolom Resonansi Republika merupakan hal yang umum dialami oleh sebagian besar para penyandang cacat di Indonesia. Baik mereka yang cacat karena bawaan dari lahir maupun mereka yang cacat akibat kecelakaan atau sebab hal yang lain. Menjadi cacat merupakan sebuah petaka, makanya banyak orang yang tidak mau memilih menjadi cacat. Namun sayangnya kecacatan itu bisa datang dengan tiba-tiba dan pada siapa saja tanpa pilah-pilih. Pada dasarnya menjadi cacat itu hanya sebuah perubahan kondisi ataupun bentuk fisik seseorang. Kecacatan berubah menjadi masalah bagi seseorang yang mengalaminya ketika kondisi cacat tersebut dikaitkan dengan mitos, stigma, dan kepercayaan -kepercayaan tak berdasar yang berkembang dalam masyarakat.
(more…)

« Previous PageNext Page »