Мария 35 новосибирск знакомства Карта сайта Карта сайта Порнографические знакомства Карта сайта Карта сайта Эмо сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Знакомства тверская область конаково Карта сайта Карта сайта Цель знакомства виртуальный Карта сайта Карта сайта Сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Девушка знакомится первой Карта сайта Карта сайта Асд знакомства Карта сайта Карта сайта Знакомства луганск алчевск Карта сайта Карта сайта Правильное знакомство с девушками Карта сайта Карта сайта Вап майл знакомства Карта сайта Карта сайта Самый модный сайт знакомств Карта сайта Карта сайта Знакомства саратов фото Карта сайта Карта сайта Знакомства г краматорск Карта сайта Карта сайта Сайт знакомств мамбо Карта сайта Карта сайта Знакомства с мужчинами в москве Карта сайта Карта сайта Секс порно ебля онлайн Карта сайта Карта сайта Секс знакомства урюпинск Карта сайта Карта сайта Сайт знакомства тирасполь Карта сайта Карта сайта
Posted by cakfu @ 21:13 on September 13th 2006

MITOS

Pengalaman yang diceritakan oleh saudara Idrus dalam kolom Resonansi Republika merupakan hal yang umum dialami oleh sebagian besar para penyandang cacat di Indonesia. Baik mereka yang cacat karena bawaan dari lahir maupun mereka yang cacat akibat kecelakaan atau sebab hal yang lain. Menjadi cacat merupakan sebuah petaka, makanya banyak orang yang tidak mau memilih menjadi cacat. Namun sayangnya kecacatan itu bisa datang dengan tiba-tiba dan pada siapa saja tanpa pilah-pilih. Pada dasarnya menjadi cacat itu hanya sebuah perubahan kondisi ataupun bentuk fisik seseorang. Kecacatan berubah menjadi masalah bagi seseorang yang mengalaminya ketika kondisi cacat tersebut dikaitkan dengan mitos, stigma, dan kepercayaan -kepercayaan tak berdasar yang berkembang dalam masyarakat.
(more…)

Posted by cakfu @ 18:00 on September 8th 2006

Psychological Effects of Disabled Victims on Aceh Tsunami 2004

I. Introduction.

It is not deniable that during disasters happen some survivors becoming disabled. At the time of struggle to save their life some of them can be lose parts of their body (leg, arm, etc) and also psychologically may suffer from trauma. Particularly for disabled victims –people who become disabled during the disaster-, they are not only physically injury but also deals with psychological problem as well as social problem which are a consequence of their disabilities.

Sometimes the disabled victims more suffer from social problem than their disabilities itself. In the traditional communities they couldn’t be accepted fully by the society and their family as other able body. The society views disabled people as an invaluable person who is less capability and dependent. This view affects psychologically to disabled victims who become lose self confidence and self-esteem and it becomes a barrier of them to participate in the social activities. Shortly, disabled victims challenge a harder challenge in the society then other survivors after the disaster.
(more…)

Posted by cakfu @ 13:26 on September 7th 2006

Tindakan yang Bertujuan

Tindakan yang Bertujuan bagi saya merupakan sebuah tindakan yang didasarkan pada motivasi untuk mencapai sebuah hasil tertentu. Oleh karena itu biasanya seseorang dalam menjalankan Tindakan yang Bertujuan, telah mempersiapkan tahapan-tahapan tindakan sedetail mungkin agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Selain itu seseorang juga akan mempersiapkan beberapa tindakan alternatif yang dipandang strategis yang akan digunakan jika sebuah tindakan utama tidak dapat dijalankan dengan sesuatu alasan. Dengan mempersiapkan tindakan alternatif tersebut maka tujuan utama yang ingin dicapai diharapkan akan tetap dapat diraih, karena memang tujuan utama tersebut yang mendorong terjadinya seluruh proses terjadinya sebuah tindakan.
(more…)

Posted by cakfu @ 11:15 on September 7th 2006

Penerimaan Diri sebagai Kunci Kesuksesan

Seorang pemuda terlihat duduk termenung di sebuah teras rumah. Dia adalah Fulan, anak pak Karya yang baru mengalami kecelakaan lalu lintas hingga kedua kakinya harus diamputasi. Amputasi kaki tersebut telah memukul jiwa Fulan, pemuda yang dulu energik dan selalu ceria kini menjadi pemurung, suka menyendiri, dan mudah tersinggung. Fulan tidak lagi terlihat main gitar sambil menyanyikan lagu kesayangannya dengan gaya konser, dia juga tidak mau lagi hadir dalam rapat Karang Taruna. Padahal dulu sebelum terjadi kecelakaan yang menimpa dirinya, Fulan adalah pemuda yang paling vokal dalam setiap rapat pengurus Karang Taruna, ide-idenya cukup cemerlang, maka tak salah jika tahun kemarin dia terpilih untuk mewakili kotanya menjadi Pemuda Pelopor tingkat Nasional.

Kecelakaan lalu lintas tersebut telah mengubah 180 derajat kehidupan Fulan. Bagi Fulan dunia seakan begitu sempit dan masa depan hanya mimpi kosong yang hampa. Dalam catatan hariannya Fulan menuliskan bahwa dia telah mengubur dalam-dalam impian dan cita-citanya, karena dia sudah tidak yakin bahwa dia dapat mewujudkan impiannya dengan kondisi yang sekarang dia miliki. Memang telah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan bahwa Fulan kini menyandang predikat baru sebagai seorang difabel. Predikat baru tersebut telah membuatnya menjadi risih dan minder, karena difabel bagi dia dan masyarakat sekitar identik dengan ketidakberdayaan dan aib. Yang ada dalam benak pikiran Fulan sekarang ini hanyalah penyesalan dan ratapan akan nasib yang menimpa dirinya.
(more…)

Posted by cakfu @ 23:08 on July 26th 2006

Mewujudkan Surabaya untuk Semua

Pada tanggal 17 Juli 2006, Kompas Jawa Timur memuat dua buah liputan yang berjudul ‘Butuh Ruang untuk Masyarakat Inklusif’ dan ‘Memimpikan Surabaya lebih Humanis’. Kedua tulisan tersebut menyorot tentang tidak tersedianya ruang publik yang aksesibel bagi para difable. Selama ini memang fasilitas publik yang ada tidak ramah terdahap keberadaan para difable. Sehingga kondisi ini menjadi penghambat bagi kelompok difable untuk bersosialisasi dalam aktifitas bermasyarakat.

Tidak sedikit peraturan atau perundang-undangan yang mengatur tentang keberadaan para difable yang dulunya disebut sebagai penyandang cacat. Tercatat sudah ada 14 undang – undang yang disahkan menyangkut keberadaan para difable. Berkaitan dengan aksesibilitas fasilitas umum, pemerintah secara khusus telah mengeluarkan dua buah Keputusan Mentri (Kepmen). Pertama Kepmen Pekerjaan Umum (PU) Nomor 468 tahun 1998 tentang Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan dan Lingkungan dan kedua adalah Kepmen Perhubungan Nomor 71 tahun 1999 tentang aksesibitas transportasi umum bagi difable. Namun hingga saat ini dua Keputusan Mentri tersebut belum juga teralisasi. Alasan yang disampaikan seringkali bersifat klasik, yaitu tidak tersedianya anggaran yang cukup untuk membangun fasilitas umum yang aksesible bagi difable.

(more…)

Posted by cakfu @ 14:06 on July 26th 2006

Difable dan Bencana Alam

Indonesia merupakan salah satu daerah rawan terhadap terjadinya bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, dan tanah longsor. Tidak dapat dipungkiri bahwa bencana alam tersebut telah banyak menimbulkan kerusakan baik fisik maupun sosial. Namun ada satu hal penting yang selama ini kurang mendapatkan perhatian kita adalah realita bahwa bencana alam selain menimbulkan korban jiwa juga menyebabkan beberapa korban selamat menjadi difable (cacat). Banyak dari korban yang kemudian kehilangan kaki, lengan, atau fungsi fisik lainnya seperti fungsi penglihatan dan pendengaran selama proses penyelamatan diri.

Ada dua kelompok difable pada situasi bencana alam, pertama adalah mereka yang sudah menjadi difable sebelum terjadinya bencana (existed difable) dan kedua adalah mereka yang menjadi difable akibat dari terjadinya bencana (newly difable). Kedua kelompok ini memiliki persoalan yang hampir sama dalam situasi bencana, dimana fasilitas yang tersedia di barak pengungsian kebanyakan tidak ramah terhadap keberadaan mereka. Sehingga seringkali para difable mengalami penderitaan yang lebih berat dibandingkan dengan para korban selamat lainnya. Persoalan lain yang cukup penting adalah kenyataan bahwa negeri ini belum memiliki sistem peringatan dini (Early Warning System) dan sistem evakuasi bencana alam yang aksesibel terhadap keberadan difable. Sehingga konsekuensinya para difable menjadi kelompok yang beresiko tinggi saat terjadinya bencana. Banyak dari para difabel yang kemudian kehilangan alat bantu mereka seperti kursi roda, kruk dan tongkat petunjuk bagi mereka yang difable netra.

(more…)

Posted by cakfu @ 00:40 on November 21st 2005

Teori Normalitas dan Konsep Kecacatan

Secara sadar atau tidak sadar kita selama ini hidup di dunia normalitas. Setiap dari kita berusaha untuk menjadi normal. Kita berusaha untuk mengikuti apa yang kebanyakan orang pikir, lakukan, atau dapatkan. Kita juga mengukur tingkat kecerdasan, kadar kolesterol, berat badan, tinggi badan, dan segala macam hal dalam kehidupan ini. Di sekolah, guru memberikan ujian untuk menentukan apakah seorang murid masuk dalam standard kecerdasan. Begitu juga seorang dokter akan mengukur tinggi atau berat badan kita untuk mengetahui apakah kita berada dibawah atau diatas rata-rata. Praktis dalam kehidupan keseharian kita tak satupun hal yang lepas dari nilai rata-rata atau konsep normalitas.
(more…)

Posted by cakfu @ 17:58 on November 17th 2004

Teologi Kecacatan

Kecacatan bagi sebagian besar masyarakat kita masih dipandang sebagai aib. Lebih dari itu ada sebagian masyarakat awam kita yang melihat kecacatan sebagai kutukan dari Tuhan atas dosa yang diperbuat oleh orang tua atau nenek moyang si penyandang cacat. Pandangan negatif yang melekat di masyarakat kita tersebut telah berakibat buruk pada kehidupan psikologis dan sosial para penyandang cacat. Sebagai akibatnya banyak dari mereka yang hidup dalam keterpurukan ekonomi dan menjalani hidup dengan perlakuan diskriminatif dari masyarakat.

Kecacatan pada dasarnya merupakan persoalan sosial yang butuh penanganan serius sebagaimana masalah sosial lainnya. Hal ini dikarenakan bukan saja karena kecacatan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, namun juga karena jumlah penyandang cacat dinegeri kita berbanding lurus dengan frekwensi konflik sosial politik yang marak terjadi akhir-akhir ini.Yang lebih memprihatinkan lagi adalah fakta bahwa sebagian besar dari populasi penyandang cacat hidup dalam kemiskinan. Kondisi tersebut terjadi karena terbatasnya akses mereka dalam bidang ekonomi, pendidikan, pelayanan umum dan politik. Disamping itu secara umum masyarakat kita belum dapat menerima keberadaan kelompok penyandang cacat secara penuh sebagai bagian integral masyarakat. Keengganan masyarakat ini sangat erat hubungannya dengan mitos dan kepercayaan kuno yang masih melekat dalam masyarakat kita bahwa kecacatan adalah akibat buruk atau dosa yang harus ditanggung oleh seseorang dari perbuatan yang melanggar norma sosial. Kepercayaan yang tanpa dasar ini telah ditularkan turun temurun dari generasi ke generasi hingga berakibat buruk pada kehidupan para penyandang cacat saat ini.
(more…)

« Previous Page